DA terutama menyerang anjing muda. Anjing yang dipelihara secara terpisah dapat juga mendapat penyakit ini pada umur lebih tua. Resistensi yang berkaitan dengan umur tidak ditemukan secara jelas. Gejala penyakit bervariasi. Kasus-kasus yang khas berjalan dengan demam bifasis. Kenaikan temperatur pertama terlihat 5-8 hari sesudah infeksi. Anjing memperlihatkan konjunktivitis dan rinitis yang kataral; sekali-kali juga ada diare. Masa demam kedua umumnya mulai 3-10 hari sesudah yang pertama dan keadaan ini hanya terlihat pada kasus yang parah. Konjunk tivitis dan rinitis kini bersifat kataral-purulen; anjing juga menderita faringitis. Batuk-batuk, muntah, diare dan pnemoni ialah gejala-gejala selanjutnya. Radang berakhir sebagai radang purulen Sewaktu hewan menderita demam maka ada lekopeni. Gejala klinis, dapat dikomplikasikan oleh infeksi sekunder. Pada anjing yang menderita DA sering terlihat pada kulit perut dan bidang dalam paha lepuh-lepuh yang berisi nanah; keadaan ini sering disebabkan oleh infeksi sekunder oleh kuman-kuman. Pada kasus eksperimental perubahan pada kulit ini tidak terlihat.
Komplikasi yang buruk ialah pembentukan ulcus corneae yang dapat mengakibatkan anjing menjadi buta. Anjing-anjing yang dipelihara secara SPF (specific pathogen free) yang ditulari dengan virus Carré secara eksperimental tidak memperlihatkan konjunktivitis, rinitis, bronchitis dan bronkhopnemoni yang bersifat purulen. Hal ini menunjukkan peranan sekunder bakteri pada penyakit ini.
Gejala SSP seperti serangan epilepsi, miokloni, kontraksi otot-otot berirama umpamanya pada bibir dan kaki (convulsive tic) atau getar otot dapat langsung terlihat sesudah gejala-gejala akut mereda, tetapi dapat juga terjadi berminggu-minggu ke- mudian. Gejala ini dapat berlangsung lama. Sekali-kali terlihat paraplegia. Jalan penyakit bervariasi dari beberapa minggu hingga beberapa bulan. Angka kematian dapat mencapai 50% apalagi bila virus bersangkutan bersifat virulen. Sindrom ''hard pad di- sease" (HPD) dianggap sebagai bentuk khas DA.
Di samping gejala-gejala kataral terdapat perubahan-perubahan lokal kulit. Telapak kaki sangat sensitif dan anjing berjalan dengan hati-hati. Pada stadium kemudian terlihat pembentukan lapisan tanduk tebal pada kulit telapak kaki dan cermin hidung. Tonsilitis, diare dan gejala-gejala SSP melengkapi sindrom: kebanyakan hewan yang menderita HPD mati. Secara eksperimental sindrom. HPD tidak dapat ditiru. Vaksinasi melawan DA memberikan per- lindungan terhadap HPD.