Infeksi IBR menyerang saluran pernafasan. Bagaimana gejala hewan yang terjangkit IBR?

Penyakit ini dapat menimbulkan berbagai gambaran klinis. Radang alat respirasi (BR) timbul sesudah hewan mengalami waktu inkubasi yang berlangsung beberapa hari hingga satu minggu: gejala pertarna ialah leleran dari lubang hidung. Pada mulanya bersifat lendir, tetapi kemudian bersifat Maka secara cepat terjadi radang selaput lendir hidung, laring d selaput lendir trachea. Selaput lendir itu terlihat hiperemik dan di lapisi oleh eksudat. Dalam beberapa hari radang itu bersifat mem- branus dan pada selaput lendir terlihat bercak bercak nekrotik yang besar dan kecil. Hewan-hewan sakit kehilangan nafsu makan batuk-batuk dan dapat menderita demam tinggi; cermin hidung sangat merah dan tertutup oleh eksudat kering. Sekali sekali terdengar pernafasan ngorok karena aliran hawa dipersulit oleh pembengkakan selaput lendir dan eksudat.
Bila ada pnemoni maka hal ini tidak disebabkan oleh virus akan tetapi oleh kuman-kuman sekunder. Produksi air liur biasanya berlebihan; demikian pula vaginitis sekali-kali teriadi. Pada sapi perah mungkin produksi air susu sekonyong-konyong menurun dan hal ini dapat berlangsung berminggu-minggu. Gambaran klinis dapat sangat bervariasi, demikian pula lesilesi selaput lendir. Juga morbiditas tetapi dapat sangat tinggi. Angka kematian umumnya rendah.
Di samping perubahan-perubahan pada alat respirasi, sering terlihat konjuntivitas. Malahan sekali-kali hal ini merupakan kelainan tunggal. Selaput lendir konjungtiva terlihat merah, air mata menetes dan eksudat dapat bersifat purulen. Biasanya hewan yang hanya memperlihatkan konjunktivitis tidak menderita demam.
Pada anak sapi muda infeksi berlangsung secara umum dan dengan pembentukan kerusakan-kerusakan pada selaput lendir rongga mulut dan alat pencernaan. Kerusakan-kerusakan selaput lendir (pada tekak, bibir, pipi dan gingiva) dapat menyerupai perubahan-perubahan pada virus diare.
Komplikasi penularan 1BR ialah abortus dan meningoensefalitis. Kedua kejadian ini dapat tampak tanpa gejala-gejala penyakit lain yang dapat menimbulkan persangkaan mengenai kemungkinan janin infeksi dengan virus ini. Abortus IBR terjadi 3 sampai 8 minggu sesudah penularan; gejala-gejala pendahuluan tidak ada dan dapat gugur pada tiap umur.
Ensefalitis yang sporadik sekali-kali teriadi pada anak sapi. Hewan memperlihat ataksi, depresi, eksitasi, tremor kaki terantuk, opistotones dan gerakan-gerakan bersepeda. Biasanya anak sapi demikian mati dalam keadaan koma, 3-4 hari sesudah permulaan gejala; vulvovaginitis (IPV) dan balanopostitis teriadi sesudah masa tunas berlangsung 3-7 hari. Pada kedua kejadian tersebut gejala pertama ialah hiperemi selaput lendir. Kemudian terbentuk lepuh-lepuh kecil yang berwarna bening atau kuning merah. Beberapa lepuh dapat bergabung menjadi satu; bila epitel penutup melepas maka terjadilah tukak-tukak. Selanjutnya selaput lendir itu bengkak, nyeri dan tertutup oleh eksudat. Hewan sering terlihat berkemih. Gambaran klinis yang dilukiskan dapat bervariasi kadang-kadang infeksi beralan subklinis. Sekali-kali terjadi endometritis atau hewan sakit umum dan menderita demam. IPV tidak menyebabkan abortus pada hewan ia merupakan infeksi perkawinan sewaktu hewan belum bunting. IPV dapat menyembuh sesudah satu sampai beberapa minggu.
Pada hewan pemacet infeksi selaput lendir alat kelamin di pengaruhi oleh infeksi sekunder dengan kuman-kuman. Mengenai efek fertilitas hewan jantan sesudah terangkit virus IBR/IPV belum diketahui benar. Akan tetapi inseminasi dengan sperma yang mengandung virus dapat mengakibatkan endometritis. Sesudah perkawinan alami oleh pejantan yang teriangkit dikira fertilitas sapi betina mengurang. Mastitis dan metritis merupakan usutan yang sangat jarang pada penularan akut.
Sumber: Ressang, AA. 1986. Penyakit Viral Pada Hewan. Jakarta: UI-Press.