Penyakit Teschen:
Waktu inkubasi ialah seminggu hingga kira-kira 4 minggu. Umumnya babi semua umur peka tetapi yang jatuh sakit ialah utama babi muda. Jalan penyakit pada perusahaan bergantung pada status imun populasi babi. Pada populasi yang rentan biasanya seekor hewan dulu sakit kemudian diikuti oleh banyak babi lain. Sesudah beberapa minggu penyakit menghilang lagi karena kekebalan yang ditimbulkan oleh virus. Bila infeksi bersifat enzootis maka biasanya hanya beberapa ekor babi saja jatuh sakit. Penyakit mulai secara akut. Gejala-gejala primer ialah bersifat umum yakni demam, kehilangan napsu makan dan kelesuan, kemudian inkordinasi pada tungkai belakang atau jalan kaku.
Stadium ini diikuti oleh tremor dan babi diserang kekejangan disertai nystagmus. Kasus ringan dapat menyembuh secara sempurna akan tetapi kebanyakan babi menjadi lumpuh dan mati dalam kira-kira 4 hari. Kadang-kadang babi yang lumpuh masih cukup lama hidup. Otot-otot tungkai yang lumpuh beratrofi.
Penyakit Taflan, "benign enzootic paresis":
Bentuk penyakit ini yang bersifat lebih tenang terutama ditemukan pada anak babi yang belum disapih. Angka morbiditas dan mortalitas rendah. Gejala klinis utama ialah demam dan ataksi bagian belakang. Umumnya gejala-gejala menghilang sesudah beberapa hari; sekali-kali gejala penyakit menjadi lebih parah dan babi memperlihatkan eksitasi dan tremor, diikuti oleh paralisa.
SMEDI:
Di Amerika telah diasingkan porcine enterovirus dari anak babi yang dilahirkan mati atau dari anak babi yang mati dalam kandungan. Perusahaan-perusahaan babi tertular biasanya menderita kesulitan-kesulitan reproduksi, antara lain jumlah anak babi yang lahir terlalu kecil dan persentase anak babi yang hidup juga rendah. Kesulitan-kesulitan ini dialami tiap-tiap beberapa tahun terutama pada induk babi yang untuk pertama kali bunting. Induk babi yang ditulari 3 - 4 minggu sesudah dikawini dengan isolat Smedi melahirkan anak babi yang jumlahnya terlalu kecil; juga jumlah anak babi bermumifikasi dan yang mati sesudah dilahirkan tinggi. Induk babi sendiri tidak sakit.
Beberapa anak babi yang tinggal hidup memperlihatkan kelainan kongenital umpamanya atresi ani. Induk babi yang ditulari sesudah dikawini biasanya tidak menjadi bunting. Dalam lain hal semua anak mati dalam uterus dan kemudian induk babi menjadi steril. Keseluruhan gambaran penyakit secara eksperimental sangat sulit direproduksi.
Referensi: Ressang, AA. 1986. Penyakit Viral Pada Hewan. Jakarta: UI-Press.