Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Bagaimana gejala klinis dan pencegahan Helicopter Disease pada unggas?

RI Rina Wijaya 9 years ago

marek's|250x133

Helicopter Disease merupakan penyakit penyebab gangguan pertumbuhan terutama pada ayam pedaging umur 1–6 minggu.

24

image|402x118

Helicopter Disease merupakan penyakit penyebab gangguan pertumbuhan terutama pada ayam pedaging umur 1–6 minggu. Penyakit ditandai dengan adanya gangguan efisiensi pakan pertumbuhan terhambat dan kerusakan dari pigmentasi kulit, bulu sayap mencuat menyerupai baling-baling helikopter dan sebagian besar bulu kapas dan tangkai bulu patah.

Gejala Klinis:
Infeksi reovirus dapat bertahan secara laten sepanjang pemeliharaan pullet dengan munculnya viremia pada saat awal masa produksi dan bertahan terus sampai sekitar 6-7 minggu. Anak ayam yang terserang penyakit ini menunjukkan penurunan laju pertumbuhan yang nyata pada umur pemanasan/brooding yaitu 5-7 hari. Kelainan bulu tampak pada ayam yang sakit, termasuk patahnya tungkai bulu sayap primer dan bertahannya warna kuning pada bulu di bagian bawah kepala sampai umur 30 hari. Kelainan pertumbuhan bulu sayap seperti ini sering dinamakan “penyakit helikopter” karena bulu-bulunya seperti baling-baling. Tanda-tanda lain dari ayam yang terserang penyakit ini, morbiditas pada ayam umur 5 minggu mencapai 25%, ayam hanya memiliki bobot badan 250 gram dan ukurannya kurang dari separuh ukuran normal. Pemeriksaan terhadap kotoran yang berwarna kuning dan lembek dari ayam yang terinfeksi menunjukkan adanya pertikel biji-bijian yang tidak dicerna. Sindroma kekerdilan yang berkaitan dengan malabsorbsi ditandai dengan adanya beberapa kelainan, antara lain : Pertama, suatu sindroma yang serupa rakhitis, yang berupa penurunan kepadatan tulang kerangka dan dalam kasus ekstrem dijumpai fraktur/kepatahan pada tulang paha bagian proximal. sehingga ayam yang sakit malas berjalan. Kedua, anak ayam yang terserang menunjukkan pigmentasi kulit yang menurun, terlihat nyata pada kulit dan paruh yang berwarna pucat serta kelainan pada bulu. Gejala klinis lain yaitu adanya gangguan pencernaan (diare) tetapi tanda klinis ini tidak khas.

Pencegahan:
Untuk mencegah terjadinya malabsorbsi, formulasi pakan dapat dievaluasi untuk meyakinkan kecukupan zat-zat gizi. Komponen zat gizi yang harus dipertimbangkan antara lain : tingkat kandungan methionin dan lisin harus tercapai atau melampaui spesifikasi pembibitan. Kadar selenium sebaiknya berkisar 0,1-0,3 ppm dan penambahan vitamin E harus memenuhi standar NRC untuk ayam yang menderita stress (20 iu/kg). Selain itu, semua penambahan lemak dan hasil samping asal hewan harus distabilkan dengan penambahan ethoxyquin sebesar 300-600 ppm atau senyawa yang sederajat.

Sebagai tindakan pencegahan direkomendasikan agar ayam pullet bibit diberi vaksin reoviral arthritis yang telah dilemahkan pada umur 7 hari. Kemudian diikuti dengan pemberian vaksin hidup multivalen dalam periode 14 sampai 30 hari sesuai dengan program imunisasi untuk daerah tersebut. Vaksin reovirus inaktif yang diberikan pada akhir masa pemeliharaan pullet sebaiknya mengandung bahan/komponen antigen yang dianggap sebagai pelindung terhadap reovirus (galur 1733) yang berkaitan dengan sindroma kekerdilan-malabsorbsi.