Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Bagaimana gejala dan terapi pada Obstructio pharyngis?

MI Miska Nourma 8 years ago

Sumbatan pada tekak selalu berlangsung secara akut, mendadak dan disertai dengan kesulitan dalam pernafasan, makan dan minum, dan ditandai dengan batuk yang terus menerus. Oleh adanya air liur yang berlebihan waktu bernafas terdengar suara seperti mendengkur. Bagaimana gejala dan terapi untuk Obstructio pharyngis?

tongue|690x517

21

pharynx|450x385

Gejala-gejala
Usaha yang keras untuk mengeluarkan benda asing oleh penderita akan tercermin dengan batuk yang terus menerus. Kadang-kadang penderita mencoba menelan benda asing yang menyumbat di dalam tekak. Pada kesempatan lain kepala dijulurkan ke muka. Usaha yang melelahkan tersebut dapat menghabiskan tenaga, dan mungkin mengakibatkan kematian dalam waktu yang singkat. Penderita selalu tidak tenang, berkeringat dan menunjukkan usaha untuk muntah. Mungkin oleh batuk yang terus menerus akan diikuti oleh proses muntah. Wajar kalau hewan kehilangan sama sekali nafsu makan dan minumnya.

Pada keadaan yang akut, pada sapi dan domba, karena terhalangnya proses regurgitasi dapat segera menyebabkan in digesti. Selain sumbatannya sendiri, kembung rumen (bloat) adalah akibat ikutan yang segera harus ditolong.

Penderita yang mengalami kompresi tekak, oleh kelainan jaringan di sekitarnya, akan merasa lapar dan akan minum sekadarnya. Tanda-tanda penyakit primer mungkin lebih mudah dikenali misalnya TBC, ingus tenang, limfomatosis dan sebagainya.

Gangguan pernafasan ditandai dengan suara pernafasan seperti mendengkur, yang disebabkan oleh lewatnya udara ekspirasi melalui cairan atau lendir yang tertimbun di dalam lumen tekak. Inspirasi dilakukan secara hati-hati, hingga waktunya diperpanjang.

Terapi
Perlu diusahakan untuk segera mengeluarkan benda yang menyumbat tekak. Narkose umum terhadap penderita biasanya diperlukan: apabila tidak dibius benda penyumbat biasanya tidak dapat dikeluarkan karena penderita tidak mudah dibuka mulutnya. Pengeluaran tenaga yang berlebihan akan segera mengakibatkan shock.

Referensi: Subronto. 1985. Ilmu Penyakit Ternak I. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.