Gigi bersifat polikromatik sehingga warna gigi di daerah gingiva, insisal, dan servika bervariasi. Semua ini bergantung kepada ketebalan, refleksi warna yang berbeda, dan translusensi email dan dentin. Warna gigi yang sehat umumnya ditentukan oleh translusensi serta warna dentin, dan dimodifikasi oleh:
- Warna email yang menutupi mahkota.
- Translusensi email yang bervariasi sesuai tingkat kalsifikasinya.
- Ketebalan email yang lebih tebal di tepi oklusal/insisal gigi dan lebih tipis di sepertiga servikal. Inilah sebabnya gigi lebih gelap di sepertiga servikal dibandingkan dengan di tengah atau di sepertiga insisal.
Warna yang normal pada gigi sulung adalah putih kebiruan, sementara warna gigi permanen kuning keabu-abuan, putih keabu-abuan, atau putih kekuning-kuningan. Seiring pertambahan usia, warna gigi berubah menjadi lebih kuning atau kuning kelabu karena meningkatnya ketebalan dentin dan berkuranganya ketebalan email.
Terdapat diskolorasi (perubahan warna) gigi yang beragam bergantung kepada etiologi, tampilan, lokasi, dan keparahan serta perlekatan terhadap struktur giginya. Diskolorasi dapat diklasifikasikan menjadi diskolorasi ekstrinsik dan diskolorasi intrinsik atau kombinasi keduanya.
Menurut Feinman et al (1987) diskolorasi ekstrinsik terjadi ketika suatu agen atau noda merusak permukaan email gigi. Pewarnaan ekstrinsik mudah dihilangkan dengan pembersihan profilaktik normal. Pewarnaan intrinsik didefiniskan sebagai pewarnaan endogen yang telah menyatu dengan matriks gigi sehingga tidak dapat dihilangkan dengan tindakan profilaksis. Kombinasi keduanya (ekstrinsik dan intrinsik) sifatnya multifaktor misalnya pewarnaan oleh nikotin.
- Diskolorasi intrinsik
- Diskolorasi ekstrinsik
- Kombinasi keduanya
Klasifikasi Pewarnaan Ekstrinsik (Nathoo, 1997)
- Noda Dental Tipe N1 (noda dental langsung): Di sini , material berwarna terikat pada permukaan gigi, menyebabkan diskolorasi. Gigi memiliki kromogen, suatu senyawa tak berwarna yang jika bereaksi dengan material tertentu akan menjadi berwarna.
- Noda Dental Tipe N2 (noda dental langsung): Di sini, kromogen berubah warna setelah terikat dengan gigi.
- Noda Dental Tipe N3 (noda dental tidak langsung): Pada tipe ini prekromogen (tanpa warna) terikat ke gigi dan mengalami reaksi kimia yang menyebabkan terjadinya noda
ETIOLOGI atau PENYEBAB
Noda (Pewarnaan) Intrinsik
Penyebab Pra-erupsi
Penyebab Pasca Erupsi
- Perubahan pada pulpa
- Trauma
- Hiperkalsifikasi dentin
- Karies gigi
- Material restorasi dan prosedur operatif
- Penuaan
- Perubahan fungsional dan parafungsional
Noda (Pewarnaan) Ekstrinsik
Noda Diperoleh Setiap Hari
- Plak
- Makanan & minuman
- Tembakau
- Higiene mulut yang buruk
- Kalkulus Swimmer
- Pendarahan gingivl.
Kimiawi
- Klorheksidin
- Noda metalik.
Noda (Pewarnaan) Intrinsik
Penyebab Pra erupsi
Penyebab-penyebab menyatu dengan lapisan email dan dentin yang lebih dalam selama odontogenesis dan mengubah perkembangan dan tampilan email dan dentin.
Alkaptonuria: Pigmentasi coklat gelap pada gigi sulung umumnya terlihat pada alkaptonuria; ini merupakan sebuah kelainan resesif autosomal yang mengakibatkan oksidasi menyeluruh dari tirosin dan fenilalanin dan menyebabkan peningkatan level asam homogentisik.
Gangguan Hematologis
-
Eritroblastosis fetalis: Sebuah kelainan darah neonatus yang disebabkan oleh inkompabilitas Rh. Di sini, noda tidak melibatkan gigi atau sebagian gigi tetetapi berkembang setelah berhentinya hemolisis tak lama setelah kelahiran. Noda biasanya berwarna hijau, coklat atau kebiru-biruan.
-
Porfiria kongenital: Kekeliruan genetik dalam metabolisme porfirin, ditandai dengan produksi uroporfirin yang berlebihan. Gigi sulung dan permanen bisa mengalami diskolorasi merah atau kecoklatan. Di bawah sinar ultraviolet, gigi tampak berfluoresensi merah.
- Anemia sel sabit: Merupakan dIskrasia darah turunan yang ditandai oleh meningkatnya hemolisis sel darah merah. Noda gigi pada anemia sel sabit jarang sama dengan yang terjadi pada eritroblastosis fetalis, namun diskolorasinya lebih parah, melibatkan gigi geligi dan tidak berkurang seiring waktu.
Penyakit di email dan dentin
Amelogenesis imperfekta : Kondisi yang menunjukkan perubahan perkembangan pada struktur email tanpa adanya gangguan sistemik. Amelogenesis Imperfekta (AI) dikelompokkan menjadi tipe hipoplastik, hpokalsifikasi, dan hipomaturasi.
Fluorosis : Pada fluorosis, pewarnaan disebabkan oleh penyerapan fluor berlebihan selama perkembangan email. Fluor yang berlebihan ini akan menyebabkan perubahan metabolik pada ameloblas dan email yang dihasilkannya memiliki defek pada mtriks dan suatu struktur yang mengalami hipomineralisasi yang ireguler.
Noda Fluorosis Dimanifestasikan sebagai :
- Daerah berwarna abu-abu atau putih opak pada gigi
- Diskolorasi kuning sampai coklat pada permukaan halus email
- Perubahan sedang dan parah terlihat sebagai cekungan/pitting dan diskolorasi coklat pada permukaan
- Penampilan seperti karat yang parah dengan diskolorasi coklat gelap dan hilangnya sebagian besar email.
Hipoplasia email dan hipokalsifikasi karena penyebab lain :
- Defisiensi vitamin D menimbulkan karakteristik white patch hypoplasia pada gigi
- Defisiensi vitamin C dan vitamin A dalam periode pembentukan gigi mengakibatkan penampilan berbintik- bintik pada gigi
- Sakit masa kanak-kanak dalam masa odontogenesis seperti demam eksantematosa, malnutrisi, gangguan metabolisme, dll., juga memengaruhi gigi.
Dentinogenesis Imperfekta: merupakan gangguan perkembangan autosomal dominan pada dentin yang terjadi selama atau bersamaan dengan amelogenesis imperfekta. Warna gigi pada dentinogenesis imperfekta (DI) beragam dari mulai abu-abu ke coklat keunguan sampai coklat kekuning-kuningaan dengan karakteristik translusen atau opalescent hue yang biasa rona opalesen.
Tetrasiklin dan minosiklin: DIskolorasi yang terlihat buruk pada gigi di kedua rahang diakibatkan oleh penyerapan berlebihan dari tetrasiklin dan minosiklin selama masa pertumbuhan gigi. Khelasi molekul tetrasiklin dengan kalsium dalam kristal hidroksiapatit membentuk tetrasiklin ortofosfat yang menyebabkan diskolorasi gigi.
Cacat dalam pembentukan dentin:
- Dentinogenesis Imperfekta
- Porfiria eritropoietik
- Tetrasiklin dan minosiklin (asupan berlebih)
- Hiperbilirubinemia
Klasisifaksi noda tetrasiklin berdasarkan tingkat perkembangan, pembentukan band (garis?) dan warna (Jordun dan Boksman 1984)
- Derajat pertama (ringan) – kuning sampai abu-abu, tersebar merata pada seluruh gigi. Tidak ada banding
- Derajat kedua (sedang) – kuning coklat sampai abu-abu gelap, terjadi sedikit banding kalau ada.
- Derajat ketiga (noda berat) – abu abu atau hitam kebiru-biruan dan disertai banding sepanjang gigi.
- Derajat keempat – Noda yang sangat gelap hingga bleaching tidak efektif sama sekali.
Keparahan pigmentasi dengan tetrasiklin bergantung pada tiga faktor:
- Waktu dan durasi pemberian
- TIpe tetrasikline yang diberikan
- Dosis.
Penyebab Pasca Erupsi
-
Perubahan pulpa: nekrosis pulpa biasanya disebabkan oleh bakteri, iritasi mekanis, dan iritasi kimiawi ke pulpa. Produk disintegrasinya kemudian memasuki tubulus dentin dan menyebabkan diskolorasi
-
Trauma: Cedera tidak disengaja pada gigi dapat menyebabkan perubahan degeneratif pada pulpa dan email yang dapat mengubah warna gigi. Pendarahan pulpa menyebabkan diskolorasi keabu-abuan dan penampilan nonvital. Cedera dapat menyebabkan pendarahan yang selanjutnya menyebabkan lisis sel darah merah dan pelepasan sulfida besi yang memasuki tubulus dentin dan menyebabkan diskolorasi pada gigi sekitarnya.
-
Hiperkalsifikasi dentin: hiperkalsifikasi dentin terjadi ketika ada kelebihan elemen yang ireguler pada rongga pulpa dan dinding saluran akar. Hal ini menyebabkan diskolorasi gigi.
- Karies gigi: Umumnya, gigi mengalami diskolorasi di sekeliling area stagnasi bakteri, dan restorasi yang bocor
-
Material restorasi dan prosedur dental: Diskolorasi juga dapat disebabkan oleh penggunaan siler endodonsia dan material restorasi.
-
Penuaan: Perubahan warna pada gigi karena proses penuaan disebabkan oleh perubahan pada permukaan dan sub-permukaan. Diskolorasi karena penuaan disebabkan oleh:
- Perubahan email : terjadi penipisan serta perubahan tekstur pada email
- Deposisi dentin: deposit dentin sekunder dan tersier dan batu pulpa dapat menyebaban perubahan warna gigi
- Perubahan fungsional dan parafungsional: Keausan gigi dapat menyebabkan tampilan gigi yang lebih gelap disebabkan hilangnya permukaan gigi dan terpajannya dentin yang lebih kuning dan rentan terhadap perubahan warna akibat absorbsi cairan mulut dan deposisi dentin reparatif.
Noda (Pewarnaan) Ekstrinsik
Noda Diperoleh Setiap Hari
Kimiawi
-
Noda klorheksidin: Noda yang timbul akibat penggunaan khlorhksidin yakni tampak coklat kekuningan sampai kecoklatan.
-
Noda metalik: ini disebabkan oleh logam dan garam-garam logam yang masuk ke rongga mulut lewat debu yang mengandung logam yang dihirup oleh pekerja industri atau obat yang diberikan secara oral.
Noda akibat logam yang berbeda
- Debu tembaga – noda hijau
- Debu besi – noda coklat
- Merkuri – noda hitam kehijauan
- Nikel – noda hijau
- Perak – noda hitam