Dahulu rumahku penuh suara kecilmu,
Kini hanya angin mengetuk pintu.
Dahulu pagi datang membawa senyummu,
Kini mentari pun terasa kehilanganmu.
Masih kusimpan mainan yang pernah kau genggam,
Masih kudengar tawamu dalam sunyi malam.
Namun tangan kecil yang dahulu kupeluk erat,
Kini hanya tinggal kenangan yang tak sempat selamat.
Wahai anakku, mengapa waktu begitu kejam?
Mengapa ia membawa pergi yang paling kusayang?
Kau pergi terlalu jauh dari pelukan seorang kita,
Meninggalkan hati yang tak tahu ke mana harus melangkah.
Bunga tetap mekar di halaman yang sama,
Bintang tetap menyala di langit senja.
Namun dunia tak lagi serupa sejak kau tiada,
Sebab separuh jiwaku ikut pergi bersamamu ke sana.
Andai angin mampu membawa rinduku kepadamu,
Kan kutitipkan seluruh kasih yang masih bersamaku.
Tidurlah tenang, wahai buah hatiku,
Meski ragamu jauh, cintaku takkan jauh darimu.