Cerita lucu menjadi lucu jika memahami makna dari cerita tersebut. Suatu contoh adalah percakapan antar dua orang. Yang satu adalah seorang pengangguran yang senang bersantai ria. Sedangkan yang lain adalah seorang pengusaha yang keras untuk mendapatkan harta dunia.
Pengangguran: 'Hai orang sibuk, apa yang kau cari? Harta dunia?'
Pengusaha: 'Yuup. Benar itu yang kucari dengan bekerja siang dan malam. Bukankah jika sudah mendapatkan harta yang banyak aku bisa bersantai menikmati harta yang ku peroleh?'
Pengangguran: ' Kalau mau santai, mengapa mesti bekerja siang dan malam? Lihatlah diriku, aku bisa santai sepanjang hari'
Tampaknya sama, tapi berbeda. benar ujungnya sama. Santai. Namun si pengangguran santai karena malas berupaya. Ia tidak melakukan dharma sebagai manusia terlebih dahulu. Si pengusaha bekerja dan berkarya untuk memperoleh harta dan harta tersebut bisa digunakan untuk berbagai keperluan. Jika si pengusaha memahami tujuan dari penggunaan perolehan harta yang benar, ia akan mendapatkan bonus tambahan dari Yang Mahakuasa.
Si pengangguran tidak memberikan manfaat bagi dunia sesama dan dirinya sendiri. Ia tidak menghargaqi segala sarana yang dianugerahkan oleh Tuhan. Ia mensia-siakan berkah tersebut. Bukan kah ini suatu kesalahan mutlak. Walaupun ia tidak merugikan orang lain dalam bersantai ria. Ia telah merendahkan nilai keilahian dalam dirinya. Dengan kata lain sesungguhnya ia telah menghina Tuhan yang menciptakannya.
Si pekerja telah memanfaatkan anugerah yang diberikan oleh Dia Yang Maha Agung. Potensi yang ada dalam dirinya digunakan untuk berbagi pada sesama dan alam. dengan berkarya, ia telah memberikan lahan pekerjaan ke pada sesama. Jika ia berupaya menyadari perannya sebagai pelayan alam, ia menjadi berkah bagi lingkungan. Ia akan berkarya sehingga alam tidak rusak akibat ulahnya. Saat semua sudah diperolehnya, ia bisa santai seperti halnya si pengangguran.
Ujung akhirnya sama. Santai. Isi atau perbuatan sebelum santai itulah kunci, apakah ia menyadari keilahian dalam dirinya atau tidak. Proses menuju santai yang utama dan signifikan. Bukan hasil akhir. Demikian juga dalam menjalani kehidupan. Mereka yang berputus asa dan malas akan berkata: 'Toh ujung dari kehidupan adalah mati? Apa beda mati sekarang atau nanti jika kematian sudah menjemput?' Proses pengisian kehidupan menempa jiwa. Mengasah kemilau sang jiwa. Dengan cari ini, sang jiwa terbebaskan dari jebakan pikiran. Inilah tujuan kehidupan. Membebaskan sang jiwa dari penjara pikiran. Badan lah saran untuk membebaskan jiwa dari penjara pikiran.
Gunakan harta dunia yang diperoleh untuk membebaskan sang jiwa dari penjara pikiran. Jadikan sang jiwa sebagai penguasa utama kereta, badan.