Attention Deficit and Hiperactivity Disorde (ADHD) adalah gangguan neurodevelopmental yang ditandai oleh kesulitan memusatkan perhatian, disertai hiperaktivitas dan kesulitan menahan impuls,
pada 2 setting tempat yang berbeda, yang muncul sebelum usia 12 tahun. Gangguan ini memiliki
prevalensi 5-10% diantara anak-anak, dan 4% di antara orang dewasa.
Gejala ADHD dikaitkan dengan gangguan fungsi di beberapa area otak. Masalah dengan perhatian
selektif pada ADHD diyakini terkait dengan pemrosesan informasi yang tidak efisien dalam korteks singulata dorsal anterior (dACC), sementara masalah dengan perhatian berkelanjutan terkait dengan pemrosesan informasi yang tidak efisien di dorsolateral prefrontal cortex (DLPFC).
Gejala hiperaktif pada ADHD
dimodulasi oleh korteks motorik prefrontal, sedangkan gejala impulsivitas dimodulasi oleh orbitofrontal cortex (OFC). Faktor genetik memiliki peran besar, namun faktor lingkungan juga memiliki implikasi terhadap gejala ADHD. Berbagai faktor lingkungan seperti paparan terhadap zat dan toksin selama kehamilan, komplikasi persalinan, nutrisi, problem psikososial, paparan logam berat dan zat kimia, memiliki
peran pada peningkatan risiko terjadinya ADHD. Faktor lingkungan dapat memoderasi faktor genetic pada ADHD, namun mekanisme neurobiologis mengenai interaksi faktor genetik dan lingkungan belum dapat dijelaskan secara pasti.
Referensi :
Sayal, K. et al. (2018) ‘ADHD in children and young people: prevalence, care pathways, and service provision’, The Lancet Psychiatry. Elsevier Ltd, 5(2), pp. 175–186.
Stahl, S. M. (2013) Stahl’s Essential Psychopharmacology 4th Edition. 4th edn. new york, USA: Cambridge
University Press.