Yuk, Kenalan dengan Para Profesor Kecil!
Halo, Sobat Psike! Apa kabar kalian? Semoga kita selalu diberi kesehatan dan kebahagiaan.
Tahukah kalian? Di era pandemi ini sangat penting bagi kita untuk menjaga kesehatan diri kita sendiri, mulai dari fisik ataupun mental. Kesehatan memiliki arti yaitu keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Menurut WHO, kesehatan adalah keadaan sempurna, baik fisik, mental, maupun sosial dan tidak hanya bebas dari penyakit dan cacat.
Saat ini kita akan membahas tentang kesehatan mental. Kesehatan mental merupakan terwujudnya keharmonisan antara fungsi-fungsi jiwa, serta kesanggupan untuk menghadapi problem-problem biasa yang terjadi dan merasakan secara positif kebahagiaan dan kemampuan dirinya (Daradjat, 1975). Kesehatan mental bisa terwujud jika manusia bisa peduli terhadap diri mereka sendiri dan orang lain. Terkadang kita sendiri tidak menyadari bahwa kita menderita penyakit mental, seperti stres, gelisah (Anxiety Disorder), dan lain-lain. Beberapa menganggapnya hal tersebut sepele sehingga mereka bisa saja merasa tertekan.
Terlepas dari penyakit mental, ada satu hal yang masih berkaitan dengan itu yaitu, sindrom. Menurut Wikipedia, Sindrom, dalam ilmu kedokteran dan psikologi, adalah kumpulan dari beberapa ciri-ciri klinis, tanda-tanda, simtoma, fenomena, atau karakter yang sering muncul bersamaan. Kumpulan ini dapat meyakinkan dokter dalam menegakkan diagnosis.
Istilah sindrom dapat digunakan hanya untuk menggambarkan berbagai karakter dan gejala, bukan diagnosa. Namun kadang-kadang, beberapa sindrom dijadikan nama penyakit, seperti Sindrom Down atau Sindrom Crouzon. Kata ‘sindrom’ berasal dari bahasa Yunani yang berarti “berlari bersama”. Istilah ini sering digunakan untuk merujuk kumpulan tanda klinis yang masih belum diketahui penyebab. Banyak sindrom yang dinamakan sesuai dengan dokter yang dianggap menemukan tanda-tanda itu pertama kali. Ada juga yang diambil dari nama lokasi, sejarah, dan lainnya. Ada salah satu sindrom yang jarang diketahui banyak orang yaitu, Sindrom Aspreger. (Wikipedia, 2021)
Sebelum itu, apakah kalian tahu tentang Sindrom Aspreger?
Sindrom asperger merupakan gangguan berupa keterbatasan pada individu dalam berinteraksi sosial, tetapi tidak ada hambatan dalam perkembangan kognitif dan bahasa. Para penyandang sindrom aspreger merupakan salah satu anak berkebutuhan khusus yang dapat tumbuh dan berkembang dengan baik dalam lingkungan yang baik pula. Mereka memiliki kekurangan dalam mengungkapkan perasaan mereka.
Asperger sindrome memang termasuk salah satu spektrum autisme. Akan tetapi, Asperger syndrome berbeda dengan autisme (autis). Asperger tidak memiliki kesulitan dalam belajar, berbahasa, maupun memproses informasi. Mereka justru biasanya menunjukkan kecerdasan di atas rata-rata, cepat menguasai bahasa dan kosakata baru, serta mampu menghafal berbagai hal dengan detail. Asperger umumnya bisa menjalani fungsi dan aktivitas sehari-hari dengan baik, meskipun membutuhkan penyesuaian tertentu. Para penderita sindrom asperger memiliki kecenderungan lebih baik dibandingkan orang-orang lain dalam beberapa hal seperti tulisan dan literatur, pengetahuan umum, ilmu alam serta pemrograman komputer.
Mereka juga memiliki sebuah minat yang khusus yang mereka tekuni dan bahkan mereka menekuninya sangat detail serta mereka justru menemukan hal-hal kecil yang orang lain sering dilewatkan atau diremehkan. Gaya bicara yang tampak formal dan akademis membuatmereka sering disebut sebagai “profesor kecil”. Walaupun mereka berbeda dari manusia pada umumnya, tetapi mereka memiliki keistimewaan tersendiri. Berikut ini adalah ciri-ciri para profesor kecil kita :
- Sulit berinteraksi
- Tidak ekspresif
- Kurang peka
- Obsesif, repetitif, dan kurang menyukai perubahan
- Gangguan motorik
- Kondisi fisik penderita sindrom Asperger tergolong lemah
Dibalik keistimewaan tersebut, para penderita sindrom ini cenderung Introvert dan susah membuka diri mereka terhadap orang lain. Tidak heran para penderita sindrom ini cenderung memiliki mental yang terganggu. Kesulitan mereka dalam berinteraksi sosial membuat mereka menjadi sosok yang penyediri dan susah untuk bergaul. Namun, mereka harus bisa menyesuaikan diri mereka dengan lingkungan tempat mereka berpijak. Penyesuaian diri dapat dilakukan bila seseorang dapat menerima diri mereka sebagaimana adanya, dengan segala kekurangan dan kelebihannya.
Manusia terlahir dengan kelebihan dan kekurangan mereka masing-masing, tidak ada manusia yang sempurna dan luput dari kekurangan. Oleh karena itu, manusia diharuskan untuk saling menghargai satu sama lain. Dalam hal ini, manusia terkadang sombong dan tidak peduli dengan mereka yang berbeda. Mereka yang normal merasa lebih spesial dari mereka yang berbeda, namun ketahuilah semua manusia sama di mata Tuhan.
Kurangnya kesadaran dan pengetahuan masyarakat tentang penyakit atau kelainan mental, seringkali menimbulkan perlakuan yang salah terhadap penderita penyakit mental. Seperti contohnya terdapat fenomena di mana keluarga di daerah pelosok Indonesia lebih memilih memasung anggota keluarganya yang mengidap penyakit mental seperti Skizofrenia ketimbang membawanya ke rumah sakit. Belum lagi penderita penyakit mental yang diolok-olok dan dijauhi lingkungannya karena dianggap menyusahkan.
Para penderita sindrom asperger memiliki kesulitan dalam melupakan hal-hal yang tidak membuat mereka senang. Mereka mudah mengalami trauma yang berat. Dalam hal ini, para penderita memiliki sosok yang sangat percaya dapat melindungi mereka, yaitu orang tua. Orang tua adalah teman terbaik seorang anak, mereka tidak akan pernah meninggalkan anak mereka sendirian. Sebagai orang tua yang baik, patut diketahui bahwa anak membutuhkan dukungan dan kasih sayang. Mereka membutuhkan tempat untuk mencurahkan setiap isi perasaan mereka.
Para profesor kecil lebih sering mencurahkan isi hati mereka kepada orang tua. Mereka jarang menemukan teman yang tepat untuk bertukar pikiran. Sebagai sesama manusia tentu saja kita harus mencoba untuk mengenal dan peduli terhadap mereka. Kita bisa mencoba untuk berteman dengan mereka. Para profesor kecil tidaklah berbahaya, mereka baik dan jika kita bisa membuat mereka tersenyum bahkan tertawa akrab layaknya sepasang sahabat. Kita adalah manusia yang hebat.
Referensi
Choresyo, B., Nulhaqim, S. A., & Wibowo, H. (2015). KESADARAN MASYARAKAT TERHADAP PENYAKIT MENTAL. PROSIDING KS: RISET & PKM (UNPAD), 301-444.
Daradjat, Z. (1975). Kesehatan Mental. In Z. Daradjat, Kesehatan Mental (p. 12). Jakarta: PT. Gunung Agung.
Desiningrum, R. (2016). Psikologi Anak Berekebutuhan Khusus (ABK). In Psikosain. Jogjakarta.
Desmaniar, P. A., & Krisdianto, J. (2016). Pusat Terapi Anak Autis Sindrom Asperger. JURNAL SAINS DAN SENI ITS Vol. 5, 278-282.
Freedman, J. (2008). Autism. In The Rosen Publishing Group.
Hidayat, Y., Muhtadi, D., & Nurasiah. (2020). PENDIDIKAN INKLUSIF BERBANTUAN HURUF LEMURIAN PADA ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS SINDROM ASPERGER. Journal of Authentic Research on Mathematics Education (JARME), 38-45.
Kompas. (2014, Desember 13). Gangguan Jiwa Masih Diabaikan. Retrieved from Gangguan Jiwa Masih Diabaikan: http://health.kompas.com
Setiaputri, K. A. (2021, Juni 3). Hallo Sehat. Retrieved from Apa itu Sindrom Asperger: https://hellosehat.com/parenting/kesehatan-anak/gangguan-perkembangan/apa-itu-sindrom-asperger/
Wikipedia. (2021, Agustus 31). Wikipedia. Retrieved from Sindrom: https://id.wikipedia.org/wiki/Sindrom
Willy, d. T. (2019, Maret 1). Alodokter. Retrieved from Sindrom Asperger: https://www.alodokter.com/sindrom-asperger