Berpikir kritis merujuk pada penilaian bertujuan untuk menghasilkan penafsiran, analisa, evaluasi dan kesimpulan, serta penjelasan atas bukti, konsep, metodologi dan kriteria atau pertimbangan-pertimbangan yang menjadi dasar dari penilaian tadi (Facione, 1990; Nur, Nasution & Suryanti, 2013; Sulaiman dan Nandy, 2018). Facione (1990) mengkonseptualisasi berpikir kritis sebagai variabel yang terdiri dari dua aspek utama, yaitu aspek (1) keterampilan berpikir kritis atau critical-thinking skills. Adalah kemampuan untuk menganalisis, mengevaluasi dan menyimpulkan, dan (2) sikap kritis atau critical-thinking dispositions. Adalah kecenderungan seseorang untuk menggunakan atau berpikir kritis. Lalu apa yang dapat kita dilakukan untuk berpikir kritis sehari-hari?
1. Simpan pemikiran krtisimu untuk hal penting
Berpikir kritis diperlukan ketika kamu peduli dengan keputusan atau konsekuensi dari suatu keputusanmu itu. Jika kita berpikir kritis tentang setiap keputusan yang kita buat, maka mental kita akan lebih cepat lelah bahkan saat sebelum berakitiftas.
Ada keterbalikan dari pemikiran kritis, yang disebut dengan pemikiran otomatis. Yaitu pemikiran yang sedikit demi sedikit menguntungkan kita dan membantu mencegah penurunan ketepatan atau kualitas pemrosesan dalam pengambilan keputusan, serta dapat mengendalikan kita dengan baik hampir sepanjang waktu. Namun pemikiran otomatis ini merupakan kerugian secara kognitif. Apalagi jika kita terlalu mengandalkan pikiran ini pada suatu hal atau kejadian dan kita hanya mengandalkan naluri tentang hal yang kita pedulikan.
Jadi pemikiran kritis diperlukan dan simpan energi kognitif untuk hal-hal yang penting.
2. Lakukan berpikir kritis di pagi hari
Dimulai dengan pertanyaan “apakah kamu seorang yang menyelesaikan pekerjaan di malam hari?”. Jika jawabanmu adalah “ya”, maka disadari atau tidak, kamu sudah membohongi dirimu sendiri. Orang-orang menghabiskan energi kognititf untuk mengambil keputusan sepanjang hari, padahal hal ini mengarahkan kita ke peluang membuat keputusan yang buruk saat beban menumpuk seperti di malam hari. Hal ini bisa disebut juga “kelelahan keputusan”. Jadi untuk mengurangi kelelahan keputusan dan menghindari beban kognitif, selesaikanlah pekeraan yang penting di pagi hari.
3. Take a step back
Mundur selangkah. Kita harus melibatkan aspek yang sangat penting dari berpikir kritis yang dikenal sebagai penilaian reflektif. Penilaian refelektif adalah pengetahuan yang terbatas dan bagaimana kekurangan ini dapat memengaruhi proses pengambilan keputusan. Singkatnya, mengambil langkah mundur, dan memikirkan masalah/keputusan lain sedikit lebih lama.
Penelitian menunjukan, dengan menunda dalam membuat keputusan (seperti menunda 10 detik untuk berpikir terlebih dulu) akan meningkatkan akurasi keputusan yang kita buat. Jika kamu berpikir kritis tentang sesuatu dan jika kamu peduli dengan keputusanmu, penting untuk meluangkan sedikit waktu dalam mengembangkan atau menyimpulkan sebuah solusi/keputusan. Penting bagi kita untuk mengambil “langkah atau penilaian reflektif”.
4. Play Devil’s Advocate
Firasat atau intuisi akan selalu memberitau kita apa yang menurutnya (re : intuisi) harus kita lakukan. Dalam konteks berpikir kritis, cara belajar yang baik untuk mengatasi bias dalam intuisi dan juga dalam berpikir otomatis adalah dengan play devil’s advocate yaitu mempertimbangkan alternatif.
5. Leave emotion at the door
Jika kita bisa berpikir kritis, kita harus menghilangkan emosi dan pemikiran kita alias jangan sampai berlebihan dan memengaruhi/memenuhi pemikiran kritis-logis kita; kita harus mengesampingkan perspektif negatif yang dipengaruhi emosi agar dapat melakukan pengambilan keputusan.
Referensi :
Dwyer, Christopher. (2017). 5 Tips for Critical Thinking. Dapat diakses di : https://www.psychologytoday.com/intl/blog/thoughts-thinking/201711/5-tips-critical-thinking
Sulaiman, Ahmad dan Nandy Agustin Syakarofath. (2018). Berpikir Kritis: Mendorong Introduksi dan Reformulasi Konsep dalam Psikologi Islam. Buletin Psikologi, Vol. 26 No. 2. DOI: 10.22146/buletinpsikologi.38660