Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Penyakit Neuropsikologis

Otak merupakan salah satu bagian penting dari manusia. Otak memiliki ukuran volume sekitar 1.350cc dan otak terbentuk dari 100 juta sel saraf (neuron). Otak memiliki peranan penting bagi tubuh manusia seperti koordinasi gerakan, keseimbangan, ingatan, dan mengatur fungsi organ dalam tubuh manusia [1]. Otak juga berkaitan dengan psikologis manusia. Oleh karena itu, jika otak seseorang mengalami kerusakan atau gangguan akan memengaruhi psikologis dari seseorang.

Neuropsikologi sebagai cabang ilmu yang mempelajari kaitan kognitif dan perilaku manusia dengan sistem saraf dan otak, salah satu fokusnya yaitu pada penyakit otak yang memengaruhi fungsi kognitif dan perilaku manusia [2]. Adapun penyakit-penyakit neuropsikologis diantaranya:

  • Epilepsi

Penyakit epilepsi dikenal dengan penyakit ayan. Penyakit ini disebabkan karena gangguan pada sistem saraf pusat di otak yang membuat pola aktivitas saraf menjadi tidak normal. Umumnya penderita epilepsi akan mengalami kejang hingga hilang kesadaran. Seseorang yang mengalami kejang belum tentu menderita epilepsi [3].

  • Parkinson

Penyakit Parkinson merupakan gangguan gerakan yang memengaruhi sistem saraf manusia. Terjadi karena kadar hormon dopamin yang rendah di otak. Penderita Parkinson memiliki gejala seperti kesulitan mengunyah, konstipasi, demensia (pikun), atau perubahan suasana hati termasuk depresi [4].

  • Huntington

Penyakit Huntington adalah salah satu penyakit langka. Huntington merupakan penyakit bawaan (keturunan) yang menyebabkan kerusakan pada sel-sel saraf di otak secara degeneratif. Huntington akan membuat penderitanya kehilangan kemampuan berpikir (kognitif), menderita gangguan gerak, dan gangguan kejiwaan [5].

  • Alzheimer

Penyakit ini menyebabkan gangguan neurologis (sistem saraf di otak) sehingga membuat jaringan otak menyusut atau sel-sel otak mati. Alzheimer adalah penyebab paling umum dari demensia (kepikunan). Penderita akan mengalami penurunan fungsi berpikir, berperilaku, dan keterampilan sosial sehingga memengaruhi fungsi dirinya sebagai makhluk mandiri dan sosial [6].

   Nah itu tadi adalah beberapa penyakit neuropsikologis. Penyakit-penyakit tersebut harus segera mendapat pertolongan medis baik secara biologis ataupun psikologis. Sebagai seorang yang mengetahui tentang penyakit yang menyerang neuropsikologis seseorang, hendaknya kita mengambil langkah bijak dalam bersikap ataupun berperilaku kepada penderita dan orang terdekatnya.

 

 

 

References:

  1. Beatty, J. (2001) The Human Brain: Essentials of Behavioral Neuroscience. Thousand Oak, CA: Sage Publicaion
  2. Gluck, Mark A., Mercado, Eduardo., & Myers, Catherine E. (2016). Learning and Memory: From Brain to Behavior. New York/NY, USA: Worth Publishers. p. 57. ISBN 978-1-319-15405-9.
  3. Puji, A. (2021). Epilepsi (Ayan). Diakses: https://hellosehat.com/saraf/epilepsi/epilepsi-ayan/. Diakses pada 23 September 2021.
  4. Brazier, Y. (2021). Parkinson’s disease early signs and causes. Diakses: https://www.medicalnewstoday.com/articles/323396. Diakses pada 23 September 2021
  5. MayoClinic. (2020). Huntington’s disease. Diakses: https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/huntingtons-disease/symptoms-causes/syc-20356117. Diakses pada 23 September 2021.
  6. MayoClinic. (2021). Alzheimer’s disease. Diakses: https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/alzheimers-disease/symptoms-causes/syc-20350447. Diakses pada 23 September 2021.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *