Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Tantrum: Kenali Penyebabnya

Pernahkah sobat Psike melihat anak menangis kencang atau merengek meminta hal yang dia inginkan ketika sedang berada di tempat umum? Atau sobat Psike memiliki anak, saudara, atau keponakan yang memiliki tantrum? Orang tua yang memiliki anak tantrum cenderung merasa lelah dan terkadang hingga frustrasi jika anak mereka mengalami tantrum. Anak yang memiliki tantrum merupakan hal yang wajar dalam perkembangannya.

Tantrum berarti seorang individu yang memiliki “ledakan” kemarahan dan frustrasi yang diluapkan secara tiba-tiba atau tidak direncanakan. Tantrum sendiri memiliki berbagai bentuknya seperti, fisik, verbal, atau fisik dan verbal. Anak akan bertingkah seperti mengganggu, mengacau, atau melakukan perilaku yang tidak menyenangkan jika mereka mengalami tantrum. Hal ini terjadi karena mereka belum mendapatkan apa yang mereka inginkan.

Anak yang mengalami tantrum pasti memiliki sebuah alasan yang melatarbelakangi mereka mengalami tantrum. Beberapa penyebab anak dapat mengalami tantrum diantaranya:

  1. Frustrasi
  2. Mencari perhatian
  3. Menginginkan suatu hal (mainan, jajanan, atau lainnya)
  4. Menghindari suatu tugas (tidak ingin belajar, tidak ingin beberes rumah)
  5. Lapar
  6. Merasa lelah

Selain alasan di atas, ada alasan lain mengapa anak dapat mengalami tantrum. Anak mengalami tantrum mungkin karena memiliki masalah untuk menemukan suatu hal atau kesulitan menyelesaikan suatu tugas. Anak bisa saja belum dapat mengungkapkan kesulitan atau permasalahan yang mereka alami melalui verbal (kata-kata).

Bagaimana merespon anak yang mengalami tantrum?

Anak dengan tantrum memiliki cara mereka tersendiri untuk menangani atau merespon ketika mereka sedang tantrum. Ada cara yang bisa dilakukan untuk merespon atau menanggapi ketika anak mengalami tantrum. Cara yang baik adalah dengan tetap tenang ketika anak mengalami tantrum. Ketika orang tua atau orang dewasa lain merespon tantrum anak dengan teriakan, kemarahan, atau perilaku yang kurang baik lainnya maka anak mungkin akan meniru perilaku yang diberikan oleh orang tuanya. Terkadang meneriaki anak untuk diam ketika mereka mengalami tantrum justru membuat keadaan lebih buruk.

Ketika anak mengalami tantrum, cobalah untuk mengalihkan perhatian mereka dengan hal-hal yang mereka senangi, misalnya dengan mengajak menggambar, bercerita, atau lainnya. Jika orang tua meminta anak untuk melakukan suatu hal yang berlawanan dengan apa yang anak inginkan, cobalah untuk menawarkan bantuan atau pilihan lain. Misal, ketika anak harus mengerjakan tugas sekolah, coba untuk menawarkan bantuan. Atau ketika anak ingin bermain di taman, orang tua bisa menawarkan untuk bermain di lapangan dekat rumah.

 

 

 

References:

  1. Cleveland Clinic. (2021). Temper tantrums. Diakses: https://my.clevelandclinic.org/health/articles/14406-temper-tantrums. Diakses pada 8 Oktober 2021.
  2. Mayo Clinic. (2020). Temper tantrums in toodlers: How to keep the peace. Diakses: https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/infant-and-toddler-health/in-depth/tantrum/art-20047845. Diakses pada 8 Oktober 2021.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *