Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Memahami Emotional Labor dan Dampaknya

Dalam kehidupan sehari-hari, tentunya kita sering menjumpai orang-orang dengan berbagai macam pekerjaan, seperti polisi di jalan raya yang tegas, perawat yang memberikan layanan dengan ramah, atau costumer service yang menyambut pengunjung dengan senyuman. Kok bisa mereka selalu terlihat seperti itu? Bagaimana psikologi menjelaskan hal ini? Mari kita simak pembahasan ini bersama!

Definisi Emotional Labor

Banyak peranan dalam pekerjaan yang memiliki aturan tampilan mengenai emosi yang harus ditunjukkan karyawan kepada publik agar kinerja mereka terlihat maksimal dan profesional, serta dapat dinilai baik oleh atasan. Hal ini disebut dengan emotional labor. Emotional labor adalah tampilan emosi yang diharapkan oleh pekerja, khususnya agen dalam pelayanan selama bertemu dengan penerima layanan. Emotional labor mungkin melibatkan peningkatan, pemalsuan, atau penekanan emosi untuk memodifikasi ekspresi emosional.

Bagaimana Manifestasi dari Emotional Labor?

Emotional labor dapat terjadi dalam hal-hal berikut:

  • Costumer Service (CS) yang memberikan pelayanan dengan ramah dan murah senyum
  • Polisi atau pamong praja yang menindak tegas orang-orang yang melanggar hukum
  • Agen debt collector yang mendatangi penagih hutang dengan tempramen yang tinggi
  • Guru TK atau Daycare yang mengajar anak-anak dengan riang
  • Terapis, psikolog, atau konselor yang ekspresif ketika mendengarkan keluhan kliennya
  • Perawat atau tenaga kesehatan yang sabar dalam melayani pasien lansia

Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa emotional labor tidak hanya terjadi pada lingkup pekerjaan, tetapi juga dapat terjadi pada interaksi sosial sehari-hari, seperti ketika seseorang akan meminta sesuatu dari orang lain, ia akan menunjukkan ekspresi yang menyenangkan.

Beban yang Ditanggung dari Emotional Labor

Terkadang, emotional labor ini menjadi sesuatu yang disalahartikan baik itu oleh pekerja maupun yang menerima layanan, seperti polisi yang memiliki kuasa akan mendapat privilege untuk menghukum siapapun yang melanggar hukum. Namun, bagi beberapa orang, hal ini dijadikan kesempatan untuk menjatuhkan orang lain, terutama yang tidak memiliki kuasa.

Pada pekerja costumer service, biasanya perusahaan memiliki prinsip bahwa konsumen adalah raja, sehingga terkadang hal ini digunakan oleh konsumen untuk berbuat seenaknya pada pekerja costumer service. Begitu juga dengan tenaga kesehatan yang terkadang diperlakukan seenaknya oleh para pasien.

Dampak dari Emotional Labor

Seringkali, emotional labor ini merupakan bentuk tuntutan yang dilakukan untuk menyenangkan orang lain. Mereka dituntut untuk bekerja secara profesional bagaimanapun keadaannya. Sehingga banyak pekerja yang merasakan stress karena harus tetap profesional.

Adapun dampak-dampak yang dirasakan dari emotional labor antara lain:

  • Kelelahan
  • Frustrasi
  • Kepuasan kerja yang rendah
  • Burnout
  • Regulasi emosi yang rendah
  • Depresi
  • Gangguan tidur dan gangguan makan
  • Kesepian

Bagaimana Cara Mengatasi Dampak dari Emotional Labor?

Jika kamu merupakan seorang pekerja yang harus memiliki emotional labor, berikut tips yang dapat kamu lakukan untuk mengatasi dampak dari emotional labor jika kamu merasakannya:

  1. Cerita kepada orang-orang terdekat yang dapat memahami posisimu. Ketika bekerja, kamu harus dapat menahan apapun yang kamu rasakan di depan publik agar tetap profesional. Namun, jika kamu juga menahan untuk bercerita kepada orang lain, maka hal itu akan berakibat buruk bagi dirimu sendiri.
  2. Buatlah me time. Saat kamu sedang libur atau tidak bekerja, kamu dapat menghabiskan waktu untuk memanjakan dirimu sendiri.
  3. Buat jurnal mengenai perasaanmu setiap hari. Hal ini agar kamu dapat mengetahui apa saja emosi yang kamu rasakan.
  4. Jika kamu tidak mampu untuk malayani publik, maka jangan dipaksakan dan kamu dapat meminta bantuan kepada rekan kerjamu untuk menggantikanmu selama beberapa saat.

Referensi:

Ashforth, B. E., & Humphrey, R. H. (1993). Emotional labor in service roles: The influence of identity. Academy of management review, 18(1), 88-115.

Grandey, A. A. (2000). Emotional regulation in the workplace: A new way to conceptualize emotional labor. Journal of occupational health psychology, 5(1), 95. DOI: 10.1037//1076-8998.5.1.95

Resnick, A. (2021).  What is emotional labor? Retrieved from https://www.verywellmind.com/what-is-emotional-labor-5193184

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *