Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Tahap Perkembangan Psikososial Manusia

Halo Sobat Psike! Apakah kalian tahu tentang psikososial? Seperti apa tahap psikososial yang dilalui manusia selama hidup? Mari kita simak bersama dalam pembahasan berikut ini!

Tentang Teori Psikososial

Teori psikososial merupakan teori yang dikembangkan oleh tokoh Psikologi, yaitu Erik H. Erikson pada tahun 1950an. Teori ini membahas tentang pengaruh dinamika sosial secara paralel pada tahap masa kanak-kanak dan perkembangannya hingga dewasa. Teori ini terdiri dari delapan tahap, di mana terdapat pengaruh faktor biologis, psikologis, dan sosial sepanjang hidup yang mempengaruhi bagaimana perilaku individu terhadap lingkungannya. Tahapan ini juga akan mempengaruhi terhadap pembentukan kepribadian dan pembentukan identitas.

Tahap Perkembangan Psikososial

Tahap 1. Trust vs. Mistrust (0-18 bulan)

Pada tahap ini, anak sangat bergantung pada pengasuh orang dewasa untuk semua yang mereka butuhkan untuk bertahan hidup termasuk makanan, cinta, kehangatan, keamanan, dan pengasuhan. Jika tahap ini tidak terlewati dengan baik yaitu pengasuh atau orang tua tidak dapat memenuhi kebutuhan anak, maka anak tidak dapat mempercayai atau bergantung pada orang dewasa dalam hidup mereka.

Tahap 2. Autonomy vs. Shame and Doubt (2-3 tahun)

Pada tahap ini, anak-anak baru mulai mempelajari sedikit kemandirian. Mereka mulai melakukan tindakan dasar sendiri dan membuat keputusan sederhana tentang apa yang mereka sukai. Dengan membiarkan anak-anak membuat pilihan dan mendapatkan kendali atas diri sendiri, orang tua dan pengasuh dapat membantu anak-anak mengembangkan rasa otonomi. Di tahap ini juga anak diajari tentang toilet training. Jika tahap ini tidak dapat berhasil dilewati, anak-anak cenderung malu, ragu-ragu, serta kesulitan membuat keputusan sendiri.

Tahap 3. Initiative vs. Guilt (3-5 tahun)

Tahap ketiga perkembangan psikososial terjadi selama tahun-tahun prasekolah. Pada tahap ini, anak-anak mulai menegaskan kekuatan dan kendali mereka atas dunia melalui permainan mengarahkan dan interaksi sosial lainnya.

Anak yang berhasil pada tahap ini merasa mampu memimpin dirinya sendiri dan orang lain. Jika anak tidak mampu melewati tahap ini akan memunculkan rasa bersalah, keraguan diri, dan kurangnya inisiatif. Pada tahap ini juga anak-anak perlu diajarkan tentang bereksplorasi di lingkungannya.

Tahap 4. Industry vs Inferority (6-11 tahun).

Pada tahap ini, anak mulai memasuki dunia sekolah dan mulai mengembangkan kompetensi serta minat dan bakatnya. Di tahap ini, anak perlu diberikan dukungan sosial yang penuh agar meningkatkan rasa kepercayaan diri serta keinginannya untuk selalu berkembang. Jika tahap ini tidak terpenuhi, maka anak akan merasa rendah diri.

Tahap 5. Identity vs Role Confusion (12-18 tahun)

Tahap ini terjadi ketika individu memasuki masa remaja. Pada tahap ini, remaja mulai mencari tahu apa identitas mereka, seperti apa mereka ingin menjalani hidup, dan ingin menjadi apa. Oleh karena itu, di tahap ini remaja mulai mencari banyak relasi pertemanan untuk mengetahui peran apa yang paling ia sukai. Jika tahap ini tidak terlewati, remaja akan kesulitan dalam menentukan identitas. Konon, tahap ini juga akan mempengaruhi kehidupan manusia sampai ia dewasa. Identitas ini penting dibentuk karena akan memandu individu dalam berperilaku, bertindak, dan menjadi siapa di masa depan.

Tahap 6. Intimacy vs Isolation (19-40 tahun)

Tahap ini terjadi ketika remaja memasuki dewasa awal, di mana individu mulai memikirkan tentang hubungan romantis jangka panjang dengan orang lain. Beberapa individu juga memilih untuk menikah di tahap ini. Oleh karena itu, pada tahap ini individu memerlukan keberhasilan dalam membangun hubungan yang intim dengan orang lain. Jika tahap ini tidak terlewati, maka individu akan merasa terisolasi, merasa tidak dicintai, dan kesepian.

Tahap 7. Generativity vs Stagnation (40-65 tahun)

Tahap ini ketika individu memasuki usia dewasa pertengahan hingga lansia. Pada tahap ini individu akan mempertahankan pencapaian dan karir dalam hidup mereka serta memiliki anak atau menciptakan perubahan positif yang bermanfaat bagi orang lain. Karir yang matang dan stabil akan memberikan dampak positif pada psikologis individu ketika akan memasuki usia pensiun dan menjalani hari tua. Namun, jika tahap ini tidak mampu dilewati maka individu akan kesulitan dalam memperoleh kestabilan hidup di masa dewasa.

Tahap 8. Integrity vs Despair (65 tahun – meninggal dunia)

Pada tahap ini, orang melihat kembali peristiwa-peristiwa dalam hidup mereka dan menentukan apakah mereka bahagia dengan kehidupan yang mereka jalani atau apakah mereka menyesali hal-hal yang mereka lakukan atau tidak lakukan. Jika ketujuh tahap dapat dilewati dengan baik, maka individu akan merasa bahagia dan tenang dalam menjalani sisa hidup mereka. Sedangkan, jika ada tahap yang tidak dapat terlewati, mereka akan merasakan penyesalan dan tidak dapat tenang dalam menjalani sisa hidup mereka.

Referensi:

Cherry, K. (2021). Erik Erikson’s Stages of Psychosocial Development. Retrieved from https://www.verywellmind.com/erik-eriksons-stages-of-psychosocial-development-2795740

Orenstein, G. A., & Lewis, L. (2020). Eriksons stages of psychosocial development. StatPearls [Internet].

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *