Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Spiritual Bypass: Semua Udah Takdir, Aku Ga Boleh Marah

Spiritual bypass dapat didefinisikan sebagai kecenderungan seseorang menggunakan penjelasan spiritual untuk menghindari masalah psikologis yang kompleks. Individu dengan karakteristik spiritual bypass biasanya membaca buku tentang spiritualitas, terlibat dalam praktik spiritual, mengunjungi agamawan, dan menjadi bagian dari komunitas spiritual tetapi mereka tidak peduli secara langsung untuk memelihara kebutuhan psikologis mereka dan mereka percaya bahwa spiritual dapat membebaskan mereka dari penderitaan psikologis suatu hari nanti. Menurut beberapa ahli, dengan mengabaikan kebutuhan psikologis, mereka menghadapi risiko perkembangan emosi yang terhambat dan bahkan penderitaan psikologis yang lebih besar (Picciotto et al., 2018).

Spiritualitas dapat menjadi kekuatan yang membantu meningkatkan kesejahteraan individu. Namun, spiritual bypass dapat menjadi bumerang bagi individu karena merupakan cara untuk menghindari perasaan atau masalah yang rumit sehingga pada akhirnya dapat menghambat pertumbuhan individu (Cherry, 2020). Individu berlindung di dalam spiritualitas sebagai cara untuk menghindari masalah psikologis yang belum terselesaikan (Picciotto et al., 2018).

Spiritual bypass sering digunakan untuk mengabaikan kekhawatiran yang sangat nyata dari orang-orang yang sedang menghadapi masalah. Individu yang menghadapi diskriminasi sering kali dianjurkan untuk bersikap “baik”, atau “sabar” ketika berhadapan dengan pelecehan yang terang-terangan. Hal ini menunjukkan bahwa individu dapat mengandalkan pemikiran positif untuk mengatasi masalah sosial yang kompleks (Cherry, 2020).

Spiritual bypass merupakan salah satu bentuk mekanisme pertahanan. Karena melindungi individu dari hal-hal yang tampaknya terlalu menyakitkan untuk dihadapi. Namun, mengabaikan atau menghindari masalah dapat memperburuk stres dalam jangka panjang dan membuat masalah lebih sulit dipecahkan di kemudian hari. Wellness culture juga menjadi salah satu pemicu terjadinya spiritual bypass karena sering melanggengkan toxic positivity dan perasaan optimisme permanen yang mengajarkan individu bahwa mereka tidak dapat menjadi baik atau sehat kecuali mereka mampu mengatasi segala hal negatif. Padahal, emosi negatif merupakan hal yang normal dan sering kali merupakan tanda bahwa terdapat sesuatu yang perlu diubah. Budaya individualistis yang mempromosikan gagasan bahwa individu harus mencapai aktualisasi diri untuk mencapai kebahagiaan sejati juga berkontribusi pada kecenderungan untuk menghindari emosi yang sulit atau menyakitkan. Alih-alih mencoba memecahkan masalah di lingkungan yang menyebabkan rasa sakit, individualisme mengajarkan orang bahwa mereka sendiri yang bertanggung jawab atas nasib mereka (Cherry, 2020).

Salah satu contoh spiritual bypass yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari adalah (Cherry, 2020):

  • Seorang wanita marah dan kesal tentang sesuatu yang telah dilakukan orang lain. Ketika dia mencoba untuk berbagi perasaannya, teman-temannya menyuruhnya untuk berhenti bersikap negatif.
  • Seorang kerabat yang berperilaku dengan cara yang menyakitkan dan terus menerus melewati batas terhadap anggota keluarga lainnya. Alih-alih menghadapi perilaku ini, mereka yang telah dirugikan merasa bahwa mereka perlu menekan amarah mereka dan tetap bersikap terlalu toleran.

Tanda-tanda seseorang mengalami spiritual bypass adalah (Cherry, 2020; Picciotto et al., 2018):

  • Represi dan keterasingan emosional
  • Penekanan berlebihan pada hal positif
  • Belas kasih yang buta atau toleransi berlebihan
  • Minimalisasi atau penolakan sisi gelap kepribadian seseorang
  • Gagasan bahwa segala sesuatu adalah ilusi termasuk penderitaan
  • Percaya bahwa peristiwa traumatis harus berfungsi sebagai “pengalaman belajar” atau bahwa ada hikmah di balik setiap pengalaman negatif
  • Percaya bahwa praktik spiritual seperti meditasi atau doa selalu positif
  • Idealisme yang sangat tinggi, seringkali tidak tercapai
  • Berfokus hanya pada spiritualitas dan mengabaikan masa kini
  • Hanya fokus pada hal positif atau terlalu optimis
  • Memproyeksikan perasaan negatif Anda sendiri kepada orang lain
  • Berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja padahal sebenarnya tidak
  • Berpikir bahwa orang dapat mengatasi masalah mereka melalui berpikir positif

Welwood menyatakan bahwa kemarahan dapat memicu munculnya spiritual bypasss. Kemarahan sering kali berasal dari emosi yang ditekan yang tidak ditangani, dan itu bisa menjadi luar biasa. Hal yang paling efektif untuk mengatasi marah adalah mengakui emosi, duduk bersamanya, dan menghormatinya tanpa menekannya (Psychology Today, 2019).

Dampak negatif dari spiritual bypass yang mungkin dirasakan adalah kebutuhan untuk mengontrol orang lain dan diri sendiri secara berlebihan, rasa malu, kecemasan, kebingungan emosional, toleransi berlebihan terhadap perilaku yang tidak pantas, ketergantungan bersama, kebaikan kompulsif, obsesi atau kecanduan, narsisme spiritual, kesetiaan buta kepada guru spiritual, dan mengabaikan tanggung jawab pribadi (Picciotto et al., 2018).

Semoga bermanfatt!!

 

Sumber Gambar: https://goodmenproject.com/featured-content/the-rise-of-spiritual-bypassing/

 

Referensi:

Cherry, K. (2020, December 6). What Is Spiritual Bypassing? https://www.verywellmind.com/what-is-spiritual-bypassing-5081640

Picciotto, G., Fox, J., & Neto, F. (2018). A phenomenology of spiritual bypass: Causes, consequences, and implications. Journal of Spirituality in Mental Health. https://doi.org/10.1080/19349637.2017.1417756

Psychology Today. (2019, January 23). What Is Spiritual Bypassing? | Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/us/blog/the-empowerment-diary/201901/what-is-spiritual-bypassing

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *