Istilah anxiety atau kecemasan merupakan istilah paling populer di kalangan orang awam, terutama pada masa pandemi banyak generasi muda yang mengaku mengalami anxiety. Anxiety sendiri terbagi menjadi beberapa jenis salah satunya social anxiety.
Kecemasan sosial atau social anxiety merupakan suatu kondisi saat seseorang mengalami gelisah dan cemas saat berada di lingkungan sosial, saat bertemu orang lain yang baru dikenali, dan kesulitan untuk menentukan suatu topik saat berbicara dengan orang lain. Individu yang mengalami kecemasan sosial akan tertekan saat berada di lingkungan sosial atau lingkungan yang baru baginya karena ia merasa takut akan dicemooh atau dikucilkan oleh orang lain. Jadi, kecemasan sosial merupakan rasa takut untuk diperhatikan dan dievaluasi saat berada di suatu situasi sosial.
Situasi yang dapat menyebabkan kecemasan sosial adalah situasi akan menyampaikan public speaking, kejadian memalukan di tempat umum, bertemu orang baru, atau bertemu seseorang yang kedudukannya lebih tinggi, seperti mertua, kepala sekolah, wali kota, dan pemimpin perusahaan.
Setiap individu akan berusaha untuk memberikan identitas atau kesan terbaik, namun, terkadang situasi-situasi tersebut membuat individu kesulitan dalam memberikan kesan yang baik sehingga menimbulkan kecemasan dalam diri dan takut akan dievaluasi negatif oleh lingkungan sekitarnya.
Individu yang mengalami kecemasan sosial sebisa mungkin akan berupaya untuk mengurangi bahkan menghilangkan kecemasan tersebut agar memberikan kenyamanan dan keamanan dalam dirinya. Individu akan melakukan hal yang menurut dirinya aman dari situasi yang tidak diinginkan atau situasi yang membuat ia cemas. Beberapa peneliti telah mengungkapkan bahwa individu yang memiliki atau merasakan kecemasan sosial memiliki ciri-ciri sebagai bentuk pertahanan diri mereka.
Tiga aspek yang menggambarkan kecemasan sosial, diantaranya:
1. Ketakutan akan Evaluasi Negatif / Fear of Negative Evaluation (FNE), yaitu ketika individu merasa takut dan khawatir akan reaksi orang lain ketika memandang mereka sehingga menimbulkan kecemasan.
2. Penghindaran sosial dan rasa tertekan terhadap situasi yang baru / Social Avoidance and Distress-New (SAD-N), yaitu individu merasakan ketidaknyamanan terhadap situasi sosial yang belum pernah terjadi atau dialami sebelumnya atau ketika bertemu orang-orang baru.
3. Penghindaran sosial dan rasa tertekan terhadap situasi yang umum / Social Avoidance and Distress-General (SAD-G), yaitu individu merasakan ketidaknyamanan dan gelisah terhadap situasi sosial yang umum atau merasa malu terhadap orang yang sudah dikenali..
Bagaimana kriteria individu yang mengalami Social Anxiety?
1. Ketakutan yang ditandai oleh individu saat berada di suatu situasi sosial di mana individu merasa takut diawasi oleh orang lain, seperti saat berinteraksi sosial, tampil di umum, dan makan atau minum.
2. Individu takut bahwa dia akan melakukan hal yang dapat menimbulkan kecemasan, seperti melakukan hal yang memaluan, mendapat penolakan, dan sebagainya.
3. Ketakutan, kecemasan, dan kegelisahan ini akan menimbulkan tekanan dan berdampak pada aktivitas individu lainnya.
Mereka akan menampakkan postur tubuh yang kaku, suara yang sangat pelan, dan kemungkinan sedikit terbuka kepada orang lain.
Kecemasan sosial dapat terjadi karena disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain:
1. Keadaan emosional. Individu yang mudah mengeluarkan emosi biasanya akan memikirkan pendapat orang lain yang akhirnya menyebabkan seseorang mudah cemas dan ketakutan.
2. Faktor lingkungan. Kurangnya kelekatan dan dukungan dari orang tua dan trauma di masa kanak-kanak dapat menyebabkan seseorang mengalami kecemasan sosial.
3. Genetik dan fisiologis. Kecemasan sosial dapat diwariskan oleh anggota keluarga kepada generasi di bawahnya hingga enam kali lebih besar.
Ada beberapa cara untuk menghindari gejala ini, diantaranya:
1. Jangan self diagnose. Kamu harus mengonsultasikan hal ini kepada profesional, seperti psikolog atau konselor.
2. Coba untuk memulai berinteraksi sosial di lingkungan yang baru.
3. Banyak mengobrol dengan orang lain untuk mengurangi rasa ketakutan berinteraksi sosial.
Referensi:
American Psychiatric Association. (2013). Diagnostic and Statistical Manual of
Mental Disorder: Fifth Edition. United States: American Psychiatric Publishing.
Baltacı, Ö. (2019). The Predictive Relationships between the Social Media Addiction and Social Anxiety, Loneliness, and Happiness. International Journal of Progressive Education. Vol. XV (4). 73–82. https://doi.org/10.29329/ijpe.2019.203.6
Juntilla, N., Laakonen, E., Niemi, dan Ranta, K. (2011). Modeling the Interrelations
of Adolescent, Loneliness, Social Anxiety and Social Phobia. Center for Learning Research: University of Turku.