Playing victim, dengan menganggap bahwa diri kita adalah korban, adalah salah satu cara pembenar atas segala sesuatu yang terjadi pada diri kita. Banyak orang merasa dengan melakukan playing victim, maka mereka akan terbebas dari rasa bersalah. Padahal kenyataannya, melakukan playing victim sama saja merusak diri kita sendiri. Kita menjadi terbiasa untuk menyalahkan orang lain dan lingkungan apabila ada sesuatu kejadian yang tidak menyenangkan terjadi pada diri kita.
Tidak ada pelajaran yang kita dapat ketika kita melakukan playing victim. Bagaimana kita bisa mendapatkan pelajaran dari kejadian yang tidak menyenangkan tersebut apabila kita selalu menyalahkan orang lain dan lingkungan ?
Alih-alih melakukan playing victim, lebih baik kita melakukan instropeksi diri. Apa yang membuat diri kita menderita ? Mengapa hal itu membuat kita menderita dan bagaimana solusinya ? Pertanyaan-pertanyaan dasar itulah yang sebaiknya kita tanyakan pada diri kita sendiri ketika sesuatu yang tidak menyenangkan terjadi pada diri kita.
Memang terlihat mudah untuk diucapkan, tetapi sangat sulit untuk dilakukan. Buktinya, masih banyak orang yang melakukan playing victim sebagai “jalan keluar” atas permasalahannya. Beberapa hal yang bisa kita lakukan agar kita “terbebas” dari mindset playing victim adalah sebagai berikut,
1. Mulailah dengan Memvalidasi Diri Sendiri (Self-validation)
“Validasi diri (Self-validation) adalah menerima pengalaman kita, pikiran kita, dan perasaan internal kita. Bukan berarti pengalaman, perasaan dan pikiran kita dapat dibenarkan. Bukan. Validas diri adalah tentang menerima diri.
Dengan menerima pengalaman, pikiran dan perasaan internal kita mempunyai arti bahwa kita memberi ruang pada diri kita sendiri untuk mengakui bahwa pengalaman ini adalah hal yang nyata, menormalkan kembali perasaan kita, dan memikirkan cara terbaik untuk melanjutkan kehidupan kita. Oleh karena itu, validasi diri merupakan cara terbaik agar kita tidak terjebak pada playing victim.
2. Yakinlah Bahwa Diri Kita Dapat Merubah Keadaan Yang Ada
Ketika ada hal yang tidak menyenangkan, kita harus mengakui bahwa saat ini kita sedang berjuang untuk merubahnya menjadi lebih baik bukan ? Tetapi, benarkah kita benar-benar yakin bahwa apa yang terjadi pada diri kita saat ini dapat berubah ?
Pernah mendengar statement-statement seperti ini ?
“Bosku memang brengsek; Dosenku killer banget. Dia yang membuat hidupku hancur.”
Statement seperti itulah yang menandakan bahwa kita tidak atau belum yakin kalau kita dapat merubah keadaan. Secara teori, ketika kita berperan atau memposisikan diri sebagai korban dalam kehidupan ini, maka kita akan membatasi keyakinan kita sendiri bahwa kita bisa merubah keadaan yang ada.
Penting untuk diingat : Variabel-variabel diluar diri kita adalah variabel sekunder. Diri kitalah variabel primernya.
3. Kembangkan Locus of Control
Alam bawah sadar kita, dan itu manusiawi, sering memberikan narasi-narasi pada pikiran kita sendiri bahwa kita adalah korban keadaan. Ketika keadaan seperti itu terjadi, ingatlah bahwa sometimes kita butuh untuk mengembangkan locus of control yang ada dalam internal diri.
“Jika seseorang memiliki locus of control dalam dirinya, maka orang tersebut akan menghubungkan kesuksesan yang terjadi dengan usaha dan kemampuannya sendiri. Seseorang yang selalu mempunyai harapan untuk berhasil akan lebih termotivasi dan lebih mungkin untuk belajar.”
Oleh karena itu, alih-alih memfokuskan pikiran kita pada orang lain atau lingkungan, yang kita sendiri tidak dapat mengontrolnya, fokuslah pada diri kita sendiri. Kita mempunyai kebebasan untuk memilih apa yang kita pikirkan dan kita lakukan, karena kitalah yang memiliki kontrol atas diri kita sendiri.
4. Temukan Inspirasimu
Inspirasi dibutuhkan agar kita dapat menemukan ide-ide solutif terkait dengan permasalahan kita. Ketika kita mencari inspirasi, maka fokus kita akan teralihkan dari pola pikir playing victim itu sendiri. Inspirasi bisa kita dapatkan dari mana saja. Bisa saja dari kutipan-kutipan kata bijak atau malah dari lingkungan terdekat kita sendiri. Cari tahu bagaimana mereka menyelesaikan masalah-masalah yang menimpa diri mereka.
Atau apabila hal itu dirasa terlalu berat, kamu bisa mendapatkan inspirasi dari lagu-lagu favoritmu. Atau mungkin kamu bisa mendapatkannya ketika kamu “nongkrong” dan bercanda bersama teman-temanmu.
5. Terimalah Dirimu
Menerima diri sendiri apabila membuat kesalahan bukan berarti menjadi pembenar untuk setiap kesalahan yang kita buat. Makna dari “menerima bahwa kita membuat kesalahan” adalah kita, sebagai manusia, pasti melakukan kesalahan. Bukanlah hal yang memalukan ketika kita melakukan, selama kita mengakuinya, tidak mengulanginya lagi, dan berusaha untuk memperbaiki diri menjadi lebih baik. Dengan melakukan itu semua, maka istilah playing victim tidak ada lagi dalam kamus kita.
Melakukan kesalahan, walaupun hasilnya pahit, tetapi dapat memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi perkembangan kepribadian kita. Kegagalan terbesar yang kita alami akan memberikan pelajaran terbaik dalam kehidupan kita.
Salah satu cara agar dapat menerima kondisi kita adalah dengan menertawakannya. Tertawakan hidup dan tertawakan diri sendiri. Temukan humor dalam segala hal, dan kita akan melihat segalanya dari sisi yang berbeda. Dengan mempertahankan rasa humor dalam diri kita, membuat kita untuk selalu melihat sisi baik dari segala hal. Jadilah Abunawas untuk diri kita sendiri.
6. Buatlah Diri Anda Sibuk
Sibukan diri kita dengan melakukan hal-hal yang positif, walaupun kegiatan itu terlihat sepele. Yang terpenting, jangan melakukan hal-hal yang merugikan diri kita sendiri dan orang lain. Kita bisa berjalan-jalan ringan di sekitar lingkungan kita, atau berwisata ke tempat-tempat yang menyenangkan. Atau berolahraga, dimana dengan melakukan olahraga sama saja “memberitahu” kepada jiwa kita bahwa kondisi kita sedang baik-baik.
Membuat diri kita sibuk akan membuat kita “melupakan” akan permasalahan yang terjadi. Hal tersebut akan menghindarkan pikiran kita untuk playing victim. Selain itu, melupakan permasalahan yang terjadi akan membuat pikiran kita “beristirahat”, sehingga membuat pikiran kita menjadi lebih fresh. Jangan pernah lagi melihat kebelakang!
7. Momentum Membentuk Momentum Baru
Maksud dari istilah “momentum membentuk momentum baru” adalah setiap kesuksesan kecil akan men-trigger kesuksesan berikutnya. Sayangnya, hal itu juga berlaku sebaliknya, kesalahan kecil akan men-trigger kesalahan berikutnya.
Playing victim biasanya muncul ketika kita fokus pada bagaimana menyelesaikan masalah yang besar. Buat rencana-rencana kecil untuk menyelesaikan permasalahan besar kita. Misalnya, ketika kita dapat menerima dan yakin bahwa semua akan baik-baik saja, maka kita perlu “merayakan” kesuksesan tersebut. Lanjutkan momentum kebaikan tersebut untuk menggapai momentum-momentum selanjutnya.
8. Rancang Grand Design Kehidupanmu Sendiri
Buatlah daftar terkait semua hal yang kita inginkan untuk diri kita sendiri. Sekali lagi, kitalah sutradara utama dari kehidupan kita sendiri. Buat mindmap terkait tujuan besarmu, yang kemudian di-breakdown menjadi tujuan-tujuan kecil. Gapailah satu per satu, step by step.
Jangan lupa untuk mempersiapkan resource yang dibutuhkan. Apabila didalam tujuanmu membutuhkan skill-skill tertentu, mulailah mempelajari skill tersebut. Apabila tujuanmu membutuhkan bantuan dari orang-orang tertentu, mulailah mencari lingkungan pertemanan yang mendukung tujuanmu. Jauhi dan lupakan lingkungan yang terdiri dari toxic people.
Satu hal lagi yang penting, jangan pernah menghindari pilihan yang sulit. Pilihlah untuk kebaikanmu sendiri, seberapapun sulitnya pilihan itu sendiri. Dengan berprinsip bahwa kitalah sutradara dari kehidupan kita sendiri, maka sudah tidak ada lagi ruang untuk playing victim.
9. Jangan Tergesa-gesa
Setiap orang pasti ingin kondisi yang tidak menyenangkan ini akan berlalu secepat mungkin. Semua orang menginginkan rancangannya dapat terwujud dalam waktu singkat. Tetapi kenyataannya, itu semua membutuhkan waktu. Kita sendiri tidak tau kapan pastinya kondisi yang tidak menyenangkan ini akan selesai.
Dengan sedikit “relax” terkait dengan deadline penyelesaian masalah yang ada, akan meminimalkan munculnya playing victim di pikiran kita. Yakinlah, semuanya ada waktunya.
Satu hal lagi yang lebih penting lagi adalah jangan membandingkan kondisi diri kita dengan kondiri orang lain. “Enak ya si A sudah sukses dalam karirnya, sedangkan aku masih gini-gini aja.; Beruntungnya si B sudah married, sedangkan aku masih single.” Dengan membandingkan kondisi kita dengan kondisi orang lain akan memunculkan bibit-bibit playing victim.
10. Lawan Pikiran Playing Victim
Kalau semua cara diatas tidak berhasil, satu-satunya cara adalah dengan melawan pikiran playing victim yang ada di pikiranmu sendiri. Dengan melawannya, minimal kita menyadari bahwa playing victim itu bukanlah sesuatu yang berguna bagi diri kita sendiri. Dengan melawan pikiran itu, minimal kita menyadai bahwa playing victim adalah sesuatu yang “memalukan”.
Kita mempunyai “sistem kehormatan” yang harus kita pegang teguh. “Sistem kehormatan” mempunyai arti bahwa kita berkomitmen untuk menjadi lebih baik, walaupun jalan yang kita tempuh bukanlah jalan yang tidak menyenangkan. “Sistem kehormatan” berarti bahwa kitalah yang bertanggung jawab atas diri kita sendiri. “Sistem kehormatan” berarti tidak ada lagi istilah playing victim dalam kamus kita.