Anorexia Nervosa adalah suatu gangguan yang ditandai oleh penurunan berat badan yang disengaja, yang dimulai dan/atau dipertahankan oleh pasien. Anorexia nervosa merupakan satu gangguan makan yang ditandai oleh gangguan citra tubuh dan membatasi jumlah makanan dengan amat ketat. Pasien dengan Anorexia terutama perempuan akan mengalami penurunan hormon Esterogen dan Progesteron.
Anoreksia tidak terjadi begitu saja tanpa alasan, berikut adalah beberapa faktor penyebab gangguan makan Anorexia Nervosa.
1)Faktor sosio-kultural
Tekanan yang berlebihan pada wanita muda demi mencapai suatu standart kurus yang tidak realistis. Seringkali pengaruh untuk tetap mempertahankan berat badan yang kurus adalah sesuatu yang wajib dilakukan sebagai suatu syarat atau pemenuhan standart.
2) Faktor psikologis
a. Diet ketat dengan sangat membatasi apapun yang dimakan dapat mengakibatkan berkurangnya kontrol terhadap diri sendiri untuk memenuhi kebutuhan nutrisi tubuh sebagaimana mestinya.
b. Ketidakpuasan pada bentuk tubuh menjadi pemicu untuk melakukan hal-hal atau perilaku yang tidak sehat agar mencapai berat badan yang diinginkan serta tetap mengontrolnya.
c. Merasa kurang memiliki kontrol atas berbagai aspek kehidupan selain diet.
Sulit menghindari pelonggaran diet dan harus selalu melakukan diet.
d. Kesulitan berpisah dari keluarga dan membangun identitas individual
Kurangnya kasih sayang, dan dukungan keluarga juga bisa memicu seseorang bertindak tidak sehat. Selain itu, kesulitan dalam membangun identitas sosial juga menjadi faktor internal.
e. Kebutuhan psikologis untuk Kesempurnaan
Mengharapkan setiap hal harus sempurna
3) Faktor keluarga
a. Keluarga dari pasien gangguan
Makan memiliki karakteristik yang sama dengan konflik, kurang kedekatan dan pengasuhan, serta gagal dalam membangun kemandirian dan otonomi pada diri anak dapat menyebabkan hal-hal tidak berjalan semestinya
b. Dari perspektif sistem keluarga,
Gangguan makan pada anak perempuan dapat memberi keseimbangan pada keluarga yang disfungsional dengan mengalihkan perhatian dari masalah keluarga ataupun masalah pernikahan.
4) Faktor biologis
a. Ketidakseimbangan neurotransmitter yang ada di otak dalam mengatur pola makan.
b. Kemungkinan pengaruh genetis.
Berikut ini adalah gejala-gejala/ciri-ciri seseorang menderita anorexia :
1) Tidak mengalami menstruasi selama 3 bulan berturut-turut (bagi wanita)
2) Tidak memiliki keinginan untuk makan atau bahkan menolak makan di depan umum.
3) Sering merasakan gelisah
4) Lemah, tidak dapat melakukan kegiatan seperti orang pada umumnya, karena kurangnya energi dan nutrisi dalam tubuh.
5) Kulit kusam
6) Nafas pendek-pendek
7) Memiliki kekhawatiran yang berlebih terhadap asupan kalori yang ada pada makanan.
Menderita Anorexia Nervosa dapat menganggu kestabilan kerja sistem dalam tubuh sehingga akan menimbulkan beberapa dampak buruk bagi tubuh itu sendiri, antara lain:
1.Penyusutan Tulang.
2.Kehilangan Mineral.
3.Rendahnya Suhu Tubuh,
4.Detak jantung yang cenderung tidak teratur.
5.Gangguan pertumbuhan badan.
6.Resiko yang tinggi untuk terkena osteoporosis.
Salah satu contoh kasus tentang Anorexia Nervosa dialami oleh Isabelle Caro yang berprofesi sebagai model dan aktris asal Prancis, sayangnya meninggal di usia 28 tahun dikarenakan penyakit anoreksia yang dideritanya. Sebelumnya, Caro pernah mengejutkan dunia mode di tahun 2007 saat tampil pada sebuah iklan pencegahan anoreksia di Italia dengan pose tanpa busana, otomatis hal itu memperlihatkan tubuhnya yang tinggal tulang dan kulit. Caro menderita anoreksia nervosa sejak usia 13 tahun. Penyebab dari Anorexianya adalah tidak lain karena trauma masa kecil. Selain itu, anggapan bahwa ia adalah seorang anak bermasalah juga turut menjadi faktor Penyebab lain. Caro mengatakan:
“I had a very complicated childhood, very difficult, very painful. My mother’s big phobia was that I would grow. She spent her time measuring my height. She wouldn’t let me go outside because she’d heard that fresh air makes children grow, and that’s why I was kept at home. It was completely traumatic.”
“Aku memiliki masa kecil yang sangat rumit, sulit, dan menyakitkan. Ketakutan terbesar ibuku adalah ketika aku bertembuh. Dia menghabiskan waktunya mengukur tinggiku. Dia tidak akan membiarkanku pergi kelua, karena dia mendengar jika udara segar akan membuat anak-anak bertumbuh. Itu mengapa aku tetap berada di rumah.Hal itu membuatku benar-benar trauma”
Dapat disimpulkan bahwa Anorexia berasal dari berbagai penyebab mulai dari budaya, keluarga, bahkan diri sendiri. Demi menghindari hal tersebut ada beberapa saran yang dapat dilakukan untuk mencegah dan mengatasi gangguan makan yang sering terjadi khususnya pada remaja, antara lain:
1) Tingkatkan rasa percaya diri.
Seseorang yang memiliki percaya diri tinggi akan menerima apa yang ada dalam diri mereka baik dari segi penampilan maupun postur tubuh sehingga mereka tidak akan terlalu terpaku pada standart yang diterapkan di luar sana.
2)Bersikap realistis dan tidak mudah percaya
Memilah-milah informasi yang masuk dan memiliki sifat tidak mudah percayapada apa yang digambarkan media tentang bentuk dan berat badan ideal adalah bentuk pertahanan diri agar terhindar dari keinginan untuk menempatkan diri sesuai standart yang berlaku.
3)Menjalin interaksi yang intens dengan lingkungan.
Usahakan tetap terjalin komunikasi yang baik diantara keluarga dan teman. Apabila terjadi masalah segera ceritakan kepada orang terdekat. Cara ini dapat membantu untuk terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.
4)Rajin berkonsultasi pada dokter dan ahli gizi.
Terus memantau kondisi tubuh, dan menjalankan pola hidup sehat. Jika tubuh mulai merasakan sesuatu yang kurang tepat lebih baik segera menghubungi dokter terdekat agar segera mendapatkan penanganan.
Itu adalah pemaparan singkat mengenai Anorexia Nervosa,
Harapannya semoga kita selalu hidup sehat dan terhindar dari segala penyakit.
Referensi:
Academy for Eating Disorder, 2006. Prevalence of Eating Disorders. Austria: Academy for Eating Disorder. Available from: http://www.aedweb.org/eating_disord ers/prevalence.cfm
https://www.kompasiana.com/destyagith/551c18e281331111039de21f/melihat-dunia-anoreksia-nervosa
Santoso, M. B., & Putri, D. (2018). Gangguan makan anorexia nervosa dan bulimia nervosa pada remaja.
Prosiding Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, 4(3), 399-407.
Gibson, D., Workman, C., & Mehler, P. S. (2019). Medical complications of anorexia nervosa and bulimia nervosa. Psychiatric Clinics, 42(2), 263-274.