Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Silent Treatment: Penolakan dalam Diam

Silent treatment adalah penolakan untuk berkomunikasi secara verbal dengan orang lain. Orang yang menggunakan silent treatment kemungkinan menolak untuk mengakui kehadiran orang lain. Silent treatment digunakan dalam berbagai jenis hubungan, termasuk hubungan romantis. Kadang-kadang bisa menjadi bentuk pelecehan emosional ketika seseorang menggunakannya untuk mengontrol dan memanipulasi orang lain.

Kipling William seorang profesor psikologi di Purdue University yang telah melakukan banyak penelitian tentang dampak silent treatment memaparkan berbagai kasus yang pernah ia temui, diantaranya:

Kasus pertama. Seorang ayah yang menolak untuk berbicara dengan anak perempuannya yang telah dewasa. Bahkan sang ayah meninggal dalam kondisi masih tidak ingin berbicara dengan putrinya. Ketia putrinya mengunjungi sang ayah di rumah sakit, sang ayah justru memalingkan wajah tanpa berbicara sepatah kata pun.

Kasus kedua. Seorang ayah yang berhenti bicara dengan putranya saat masih remaja. Sang ayah lalu kesulitan untuk membangun komunikasi lagi dengan putranya. Perlakuan sang ayah menyebabkan anak laki-lakinya yang dahulu adalah anak yang ceria dan bersemangat berubah menjadi pendiam. Sang ayah pun menyadari kalau ia adalah penyebabnya.

Kasus ketiga. Sepasang suami istri yang memutuskan komunikasi selama empat puluh tahun sejak awal pernikahan karena perselisihan kecil. Empat puluh tahun makan sendirian, menonton televisi sendirian, empat puluh hidup dalam satu rumah tetapi seperti tidak terlihat. Ketika ditanya mengapa sangistri tetap mau tinggal bersama suaminya selama itu, sang istri menjawab dengan sederhana “karena setidaknya dia memberikanku tempat tinggal yang layak”.

Silent treatment memilik sebutan lain, seperti pengucilan, isolasi sosial, penghalang, atau ghosting. Meskipun dalam psikologi keempat istilah tadi memiliki definisi yang berbeda-beda, tetapi pada dasarnya semua itu adalah bentuk pengucilan. Sebenarnya pengucilan bukanlah hal yang baru. Orang-orang Yunani kuno misalnya, mereka akan megusir orang yang dianggap mengancam demokrasi selama sepuluh tahun. Orang-orang Amerika terdahulu akan mengusir orang yang dituduh mempraktikkan sihir.

William mengungkapkan bahwa setidaknya dua dari tiga orang telah menggunakan silent treatment terhadap orang lain dan bisa lebih banyak. Meskipun dibutuhkan lebih banyak data untuk mengetahui dengan pasti, tetapi diperkirakan penggunaan silent treatment telah meningkat selama bertahun-tahun karena adanya bentuk komunikasi baru. Silent treatment juga bisa kita jumpai secara kasat mata dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya saat kita melambaikan tangan kepada seorang teman, tetapi ia justru memalingkan wajah dan tidak membalas lambaian kita.

Mengapa Orang Menggunakan Silent Treatment?

Orang-orang menggunakan silent treatment untuk beberapa alasan, antara lain:

  • Penghindaran: Dalam beberapa situasi, orang tetap diam dalam percakapan karena mereka tidak tahu harus berkata apa atau ingin menghindari konflik.
  • Komunikasi: Seseorang dapat menggunakan perlakuan diam jika mereka tidak tahu bagaimana mengungkapkan perasaan mereka tetapi ingin pasangannya tahu bahwa mereka kesal atau.
  • Hukuman: Jika seseorang menggunakan keheningan untuk menghukum seseorang atau untuk mengendalikan mereka, maka ini termasuk bentuk pelecehan emosional.
Bagaimana Silent Treatment Mempengaruhi Suatu Hubungan?

Dalam kebanyakan kasus menggunakan silent treatment bukanlah cara yang efektif untuk menangani perselisihan. Penelitian menunjukkan bahwa baik pria maupun wanita menggunakan silent treatment dalam hubungan. Ketika salah satu pasangan ingin membicarakan masalah tetapi yang lain menghindar, maka dapat menyebabkan timbulnya emosi negatif seperti marah dan kesal. Ketika salah satu pasangan memilih menghindari konflik, maka perselisihan akan terjadi terus menerus.

Dalam sebuah hubungan komunikasi yang jujur dan langsung adalah kunci hubungan yang sehat. Silent treatment mencega orang mencegah orang menyelesaikan konflik dengan cara yang tepat. Menurut sebuah studi yang dilakukan tahun 2012, orang-orang yang terus menerus merasa diabaikan melaporkan tingkat harga diri, rasa memiliki, dan makna yang lebih rendah dalam hidup. Dalam jangka pendek silent treatment dapat menyebabkan stres, sedangkan dalam jangka panjang stres dapat dianggap sebagai penyiksaan. Oleh karena itu, silent treatment dapat berdampak pada kesehatan suatu hubungan, bahkan jika orang yang diam berusaha menghindari konflik.

Apakah Silent Treatment Termasuk Penyiksaan?

Silent treatment dapat menjadi penyiksaan, jika:

  • Berniat menyakiti orang lain dengan diam;
  • Keheningan berlangsung untuk waktu yang lama;
  • Keheningan hanya berakhir ketika mereka memutuskannya;
  • Berbicara dengan orang lain tetapi tidak dengan pasangannya;
  • Mencari aliansi dari orang lain;
  • Menggunakan keheningan untuk menyalahkan pasangannya dan membuatnya merasa bersalah;
  • Menggunakan keheningan untuk memanipulasi atau menekan pasangan mereka untuk mengubah perilaku.
Bagaimana Menyikapi Silent Treatment?
  1. Ketika kamu menyadari kalau teman atau pasanganmu sedang menggunakan silent treatment, maka kamu bisa berkata jujur pada mereka seperti “aku tahu kok kamu lagi diemin aku, emang kenapa?”. Tindakan ini dapat membuka komunikasi yang lebih baik dalam suatu hubungan.
  2. Kamu bisa memberitahukan perasaanmu saat tidak ditanggapi oleh orang lain. Misalnya “aku bingung loh kalo kamu enggak mau ngomong, aku pengen masalah ini cepat selesai jadi kamu bisa kasih tau aku kenapa kamu kayak gini”.
  3. Mintalah orang lain untuk mengemukakan perasaannya padamu. Saling bersikap terbuka akan membuat penyelesaian konflik menjadi lebih cepat. Jangan bersikap defensif, tetapi cobalah untuk mendengarkan dengan empati.
  4. Meminta maaf jika ada kata atau tindakan yang menyakiti. Kamu tidak perlu meminta maaf atau menyalahkan diri sendiri atas penggunaan silent treatment oleh orang lain, karena diam adalah cara orang lain untuk merespons. Namun, kamu mungkin perlu meminta maaf kalau telah mengatakan atau melakukan sesuatu yang mungkin menyakiti perasaan orang lain.
  5. Cobalah untuk tidak memanaskan situasi atau memprovokasi orang yang diam untuk berbicara karena dapat menciptakan lebih banyak konflik.

Referensi:

Austin, D. (2021, March 26). The Psychology of the Silent Treatment. The Atlantic. Retrieved October 18, 2021, from https://www.theatlantic.com/family/archive/2021/03/psychology-of-silent-treatment-abuse/618411/

Leonard, J. (2020, June 8). Is the silent treatment a form of abuse? Medical News Today. Retrieved October 18, 2021, from https://www.medicalnewstoday.com/articles/silent-treatment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *