Selama ini banyak orang yang menganggap bahwa tingkah laku adalah sikap. Kita juga tidak membingungkan arti dari sikap karena secara tidak langsung, kita dapat memahaminya. Namun apakah anggapan itu benar? Apakah benar tingkah laku atau perilaku sama dengan sikap? Apakah terdapat hubungan diantara perilaku dan sikap? Untuk mengetahui jawabannya lebih jelas, mari kita bahas mengenai sikap dari psikologi sosial.
Allport (1935) mendefinisikan sikap sebagai kesiapan mental dan saraf, diatur oleh pengalaman, menggunakan pengaruh petunjuk atau dinamis atas respon individual terhadap semua objek dan situasi. Sikap merupakan kesiapan mental artinya proses yang berlangsung dalam diri individu bersama dengan pengalaman individual akan mnegarahkan dan menentukan respon atau reaksi terhadap berbagai objek dan situasi. Semakin berkembang pengertian sikap, dapat disimpulkan bahwa sikap merupakan suatu proses penilaian yang dilakukan sesorang terhadap suatu objek.
Batasan sikap dalam psikologi sosial merujuk pada adanya penilaian objek terhadap sikap. Eagly & Chaiken (1988) menjelaskan bahwa penilaian adalah proses mengolah dan menghubungkan suatu stimulus dengan suatu respon tertentu. Sikap merupakan proses evaluasi yang bersifat internal-subjektif, yang dapat diketahui melalui pengetahuan, keyakinan, perasaan, dan kecenderungan perilaku individu terhadap objek sikap.
Sikap dibentuk oleh 3 komponen yaitu
- Kognitif : berisi semua pemikiran, ide, tanggapan, keyakinan, kesan, atribusi, dan penilaian tentang objek sikap.
- Afektif : meliputi perasaan atau emosi individu terhadap objek sikap. Dapat diketahi melalui perasaan suka atau tidak suka, senang atau tidak senang terhadap objek sikap.
- Perilaku : diketahui melalui respon subjek yang berkenaan dengan objek sikap. Respon ini berupa tindakan atau perbuatan yang dapat diamati, dan dapat berupa niat untuk melakukan perbuatan tertentu, serta adanya kesiapan untuk bertindak terhadap objek sikap.
Teori Tentang Hubungan Sikap dan Perilaku
Jika tadi sudah disebutkan bahwa sikap dan perilaku berbeda, maka kita pelajari hubungan sikap dan perilaku yang dengan harapannya kita tidak akan keliru lagi.
- Teori Perilaku Beralasan
The theory of reason action dari Icek Ajzen dan Martin Fishbein dikeluarkan tahun 1980. Menurut mereka keputusan untuk melakukan perilaku tertentu merupakan hasil dari proses yang rasional. Untuk mengetahui bagaimana hubungan sikap dan perilaku, sehingga objek sikap adalah perilaku itu sendiri. Alternatif pilihan dipertimbangkan, konsekuensi dan hasil dinilai, kemudian membuat keputusan untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu yang disebut intensi. Intensi menjadi prediktor untuk perilaku yang akan dilakukan di situasi tertentu.
- Teori Perilaku Berencana
Theory of planned behavior ini dikembangkan oleh Ajzan tahun 1991. Ajzen menganggap bahwa hubungan antara sikap dan perilaku dalam teori perilaku beralasan tidak menjelaskan mengenai perilaku yang tidak sepenuhnya dapat dikendalikan individu, meskipun invidiu tersebut mempunyai sikap positif terhadap perilaku yang dimaksud. Intensi merupakan faktor motivasional yang sangat kuat pengaruhnya terhadap perilaku, sehingga individu dapat mengharapkan orang lain berperilaku berdasarkan intensi.
- Attitude-to-Behavior Process Model
Teori ini dikenalkan oleh Fazio tahun 1989. Bahwa hubungan sikap dan perilaku berlangsung spontan. Teori ini menjelaskan bahwa kita dihadapkan pada kejadian atau peristiwa yang berlansgung cepat, maka kita secara spontan sikap yang ada pada diri akan mengarahkan perilaku.
Referensi :
Wibowo, Istiqomah. (2009). Psikologi Sosial. Jakarta : Salemba Humanika.