Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Selfie Merupakan Salah Satu Kecenderungan Kepribadian Narsistik ?

Salah satu pengaruh dari perkembangan zaman dan kemajuan teknologi yang sedang menjadi fenomena saat ini adalah selfie. Di Indonesia, khususnya dikalangan remaja, selfie merupakan hal yang tidak boleh ketinggalan. Mengambil gambar diri sendiri, maupun bersama banyak orang yang menjadi ciri khas foto selfie. Demam selfie seakan mengubah kegemaran remaja saat ini yang  cenderung tampil sangat percaya diri dihadapan kamera.

Selfie semakin banyak mengundang perhatian dari berbagai pihak khususnya para psikolog. Para psikolog biasanya menilai bahwa selfie memang sesuatu yang wajar. Selfie adalah suatu bentuk aktualisasi diri, dan itu manjadi hal yang positif ketika selfie ini menghasilkan sebuah foto yang bernilai seni tinggi. Selfie sebenarnya tidak dimaksudkan untuk hal-hal yang negatif, karena hanya sekedar menunjukkan dirinya pada publik melalui sosial media. Bukan menjadi suatu masalah yang besar ketika seseorang melakukan selfie lalu mengirim ke sosial media, bahkan banyak orang yang dapat melakukan hal tersebut. Namun jika sudah kecanduan maka
sangat perlu mendapatkan perhatian dan pengawasan lebih terhadap diri sendiri maupun orang terdekat. Selain itu yang membuat prihatin adalah jika dampak selfie itu sendiri dapat merugikan diri orang yang melakukannya dan orang lain.

Kecenderungan adalah keinginan-keinginan yang sering muncul atau timbul. Kecenderungan adalah sama dengan kecondongan yang merupakan hasrat aktif yang menyuruh kita agar lekas bertindak. Hal ini dapat menimbulkan dasar kegemaran terhadap sesuatu (Fitriyah dan Jauhar, 2014). Kecenderungan disebut juga kesiapan reaktif yang bersifat kebiasaan. Kecenderungan merupakan sifat/watak kita yang disposional, yaitu bukan merupakan tingkah laku itu sendiri. Akan tetapi merupakan sesuatu yang memungkinkan timbulnya tingkah laku dan mengarahkan pada objek tertentu. Kecenderungan sifatnya bukan herediter yakni tidak dibawa sejak lahir, juga tidak mekanistis kaku seperti refleks dan kebiasaan. Sifatnya bisa sementara namun kadang kala juga bisa bersifat menetap 12 Narsistik berasal dari mitologi Yunani mengenai Narcissus, seorang pemuda tampan yang jatuh cinta pada cerminan dirinya sendiri. Kepribadian narsistik
memiliki perasaan yang berlebihan mengenai pentingnya diri sendiri dan okupasi dengan pemikiran dan ketertarikan diri sendiri yang berlebihan (Wade & Tavris, 2007).

Narsisitik dicirikan dengan perasaan berlebihan bahwa dirinya penting, mereka yang mengalami gangguan ini mengharapkan perlakuan spesial dari orang lain, sementara tidak mempertimbangkan perasaan orang lain pada saat individu-individu narsistik memiliki perasaan diri sosok yang tidak realistis, tidak dapat menerima kritik,
memanipulasi orang lain dan kurang empati. Karakteristik ini dapat mengarah pada permasalahan dalam hubungan substansial di masa depannya (King, 2010).

Kepribadian narsistik memiliki perasaan yang berlebihan mengenai pentingnya diri sendiri dan okupasi dengan pemikiran dan ketertarikan diri sendiri yang berlebihan (Wade & Tavris, 2007). Narsisitik dicirikan dengan perasaan berlebihan bahwa dirinya penting, mereka yang mengalami gangguan ini mengharapkan perlakuan spesial dari orang lain, sementara tidak mempertimbangkan perasaan orang lain pada saat bersamaan. Dalam berbagai hal, pada kenyataannya, atribut utama dari kepribadian narsistik adalah ketidakmampuan untuk mengalami empati orang lain (Feldman, 2012). Individu-individu narsistik memiliki perasaan diri sosok yang tidak realistis, tidak dapat menerima kritik, memanipulasi orang lain dan kurang empati. Karakteristik ini dapat mengarah pada permasalahan dalam hubungan substansial di masa depannya (King,2010). Selfie merupakan bagian dari narsis. Sedangkan narsis atau narsistik adalah prilaku mencintai diri sendiri yang berlebihan. Narsis tidak hanya pamer di jejaring sosial tapi juga ingin selalu menang sendiri, baik dengan orang lain maupun pasangannya.

Terdapat sebuah penelitian yang dilakukan oleh Husni (2019) menghasilkan antara minat selfie dengan kecendrungan gangguan kepribadian narsistik pada siswa-siswi sekolah menengah pertama, yaitu: (1) aspek kecendrungan gangguan kepribadian narsistik yang dilakukan oleh siswa-siswi sekolah menengah pertama dalam kategori sedang, (2) hubungan tidak signifikan antara minat selfie dengan kecendrungan gangguan kepribadian narsistik kecendrungan
gangguan kepribadian narsistik belum tentu tinggi.

 

Referensi :

Feldman, Robert S. (2012). Pengantar Psikologi, Jilid II Jakarta: Salemba Humanika.

Fitriyah,L & Jauhar,M. (2014). Pengantar Psikologi Umum. Jakarta: Prestasi Pustaka.

Husni, M. (2019). Selfie Gangguan Kepribadian Narsistik. Jurnal Tinta, 1(1), 105-116.

King, Laura A. (2010). Psikologi Umum: Sebuah Pandangan Apresiatif , Jilid II. Jakarta: Salemba Humanika.

Wade,C & Tavris, C.  (2007)Psikologi, Jilid II, Edisi 9. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *