Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Mengapa Kita Merasa Bingung Ketika Berhadapan Dengan Dua Pilihan?

Teori disonansi kognitif diperkenalkan oleh Leon Festinger sekitar pada tahun 1950-an. Disonansi Kognitif adalah istilah yang merujuk pada kondisi mental yang tidak nyaman saat menghadapi dua keyakinan atau nilai yang berbeda. Teori disonansi kognitif berpusat pada bagaimana seseorang berusaha untuk mendapatkan konsistensi dan kesesuaian dalam sikap dan perilaku mereka. Teori disonansi kognitif menyatakan bahwa ketika ada dua kognisi (pengetahuan) yang relevan namun tidak konsisten satu sama lain, maka kesenjangan tersebut menimbulkan disonansi kognitif (Van Lange et al., 2012).

Terdapat dua situasi umum yang menyebabkan munculnya disonansi, yaitu ketika terjadi peristiwa atau informasi baru dan ketika sebuah opini atau keputusan harus dibuat, dimana kognisi dari tindakan yang dilakukan berbeda dengan opini atau pengetahuan yang mengarahkan ke tindakan lain (Octaviana, 2016). Teori disonansi memberikan penekanan terbesar pada ketidakcocokkan antara perilaku dan sikap. Oleh karena itu, jika individu merasakan adanya ketidakkonsistenan, atau mungkin beberapa kejanggalan, individu merasakan tekanan untuk berubah (Myers, 2012). Selain itu, disonansi kognitif muncul ketika (Van Lange et al., 2012):

  • Adanya tekanan dari pihak lain. Disonansi kognitif seringkali muncul akibat paksaan atau tekanan yang sulit dihindari.
  • Adanya informasi baru. Menerima suatu informasi baru dapat menimbulkan kondisi disonansi kognitif dan rasa tidak nyaman dalam diri.
  • Memilih keputusan yang akan diambil. Saat dihadapkan dengan dua pilihan yang sama-sama kuat, individu akan mengalami kondisi disonansi.

Disonansi kognitif tidak hanya disebabkan oleh adanya inkonsistensi, melainkan juga disebabkan oleh adanya komitmen seseorang terhadap munculnya konsekuensi yang tidak diinginkan. Jika seseorang itu tidak memiliki komitmen atas konsekuensi tersebut, maka inkonsistensi yang terjadi tidak akan menimbulkan disonansi kognitif. Disonansi kognitif bisa terjadi jika memenuhi empat kriteria berikut yaitu (Van Lange et al., 2012):

  1. Hanya ketika adanya kebebasan dalam memilih yang tinggi,
  2. Hanya ketika individu memiliki komitmen atas perilaku mereka,
  3. Hanya ketika perilaku tersebut mengarah pada konsekuensi yang berlawanan,
  4. Hanya ketika adanya konsistensi dibarengi dengan adanya konsekuensi yang sudah diduga sebelumnya.

Cara untuk mengurangi disonansi kognitif adalah:

  1. Menolak atau menghindari suatu informasi
  2. Melakukan justifikasi
  3. Mengubah keyakinan lama

 

Semoga Bermanfaatt!!

Sumber Gambar: https://rencanamu.id/post/life/how-to/bingung-menentukan-pilihan-coba-langkah-langkah-berikut-ini-agar-kamu-lebih-mudah-mengambil-keputusan

 

REFERENSI:

Van Lange, P. A. M., Kruglanski, A. W., & Higgins, E. T. (2012). Handbook of Theories of Social Psychology: Volume 1 (Vol. 2). SAGE Publications Ltd. papers3://publication/uuid/10875481-C238-4AFE-8F4E-0E098A75EDE5

Myers, D.G. (2012). Psikologi Sosial (Edisi 10, Buku 1). Jakarta: Salemba Humanika

Octaviana, Shella. (2016). Pengaruh Gambar Seram Kemasan Rokok Terhadap Disonansi Kognitif Perokok di Kota Serang. Eprints.untirta.ac.d

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *