Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Self-Efficacy : AYO PERCAYA PADA KEMAMPUAN DIRIMU!

Apakah kamu sering merasa minder dan merasa bahwa dirimu lemah? Kamu tidak yakin tentang kemampuan kamu dalam menjalani keseharian? Ayo kita ubah! Kita tingkatkan efikasi diri agar keseharian kita berjalan dengan percaya diri. Efikasi diri itu apa ya? Check it out!

Self-Efficacy (efikasi diri) adalah keyakinan akan kemampuan diri untuk menghadapi tugas, menyelesaikan pekerjaan, menghadapi tantangan, mengerjakan ujian, dan lainnya untuk menuju pada suatu tujuan. Self-efficacy membantu individu untuk menilai kemampuan, potensi, dan kecenderungan yang ada dalam dirinya yang selanjutnya akan menggiring pada tindakan tertentu saat menghadapi situasi tertentu.

 

Faktor yang Mempengaruhi

Bandura (1997) menjelaskan empat sumber informasi yang membentuk efikasi diri, yaitu :

1. Pengalaman berhasil

Ketika individu berhasil menyelesaikan suatu masalah atau tugasnya maka efikasi dirinya meningkat, sebaliknya ketika individu merasa gagal maka efikasi dirinya menurun. Perkembangan ini juga ditentukan oleh kesalahan dalam menilai diri, apabila individu terus-menerus diingatkan dengan hal atau perilaku yang kurang baik maka efikasi dirinya akan rendah. Sebaliknya, apabila hal yang kurang baik (atau kegagalan) selalu diusahakan untuk diubah menjadi keberhasilan maka efikasi diri akan meningkat.

2. Kejadian yang dihayati seakan dialami sendiri

Hal yang berkaitan dengan pengaruh perkembangan efikasi dirinya adalah kejadian yang dilihat lalu dirasakan oleh individu sebagai kejadian yang dia alami sendiri. Figur perantaranya adalah “model” yang diamati individu dalam bagaimana model tersebut bertindak dengan efektif untuk mengatasi ancaman ketika dibawah situasi mengancam/menegangkan.

3. Persuasi verbal

Merupakan informasi dengan bentuk dorongan, motivasi, dan semangat yang diberikan kepada individu yang mau merubah efikasi dirinya, dengan keyakinan bahwa permasalahan atau rintangan yang dihadapi dapat dilewati dan diselesaikan. Informasi yang dapat menggugah semangat akan membuat individu menjadi gigih dalam meningkatkan efikasi dirinya.

4. Keadaan fisiologis dan suasana hati

Keadaan yang lelah, rasa sakit, perubahan suasana hati, terkadang dianggap sebagai efikasi diri dan dapat memengaruhi keyakinan efikasi diri individu tersebut. Bandura menyebutkan cara untuk mengubah keyakinan efikasi diri yaitu (1) meningkatkan kondisi tubuh, (2) menurunkan stress, (3) merubah emosi negatif, (4) mengoreksi kesalahan interpretasi terhadap keadaan tubuh.

 

Jenis Efikasi Diri dan Cirinya

  • Efikasi Diri Tinggi

Individu yang memiliki efikasi diri yang tinggi akan merasa yakin terhadap kemampuan yang dimiliki untuk mencapai apa yang diinginkan atau harapkan, memandang tugas sebagai tantangan untuk dikuasai bukan sebagai ancaman untuk dihindari, minat dan enjoy/flow dalam melakukan kegiatan, memiliki dan menyusun tujuan yang menantang, memiliki komitmen yang kuat, berusaha dan tidak putus asa dalam menghadapi kegagalan, serta merasa tenang dalam menjalankan tugas atau kegiatan yang sulit (Setiawan, 2015), memiliki motivasi yang terarah, gigih, dan kukuh dalam mencapai tujuan, memahami materi dengan baik, memiliki kesempatan besar dalam memenuhi tuntutan (terutama akademik) (Deviyanthi & Widiasavitri, 2016).

  • Efikasi Diri Rendah

Sedangkan individu yang memiliki efikasi diri rendah akan merasa tidak yakin bahwa dirinya mampu dalam mencapai harapan dan keinginannya, memiliki pikiran yang negatif dan irasional, perilaku yang menyimpang, menganggap tugas (terutama yang sulit) sebagai ancaman yang harus dihindari, pasrah, pesimis, serta banyak perasaan tidak mampu.

 

 

Referensi :

Deviyanthi, N. M. F. S., & Widiasavitri, P. N. (2016). Hubungan Antara Self-Efficacy dengan Kecemasan Komunikasi dalam Mempresentasikan Tugas di Depan Kelas. Jurnal Psikologi Udayana, 3(2), 342–353. https://doi.org/10.24843/jpu.2016.v03.i02.p16

Rustika, I. M. (2016). Efikasi Diri: Tinjauan Teori Albert Bandura. Buletin Psikologi, 20(1–2), 18–25. https://doi.org/10.22146/bpsi.11945

Setiawan, M. A. (2015). Model Konseling Kelompok Dengan Teknik Problem Solving Untuk Meningkatkan Self-Efficacy Akademik Siswa. Jurnal Bimbingan Konseling, 4(1), 8–14. https://doi.org/10.15294/JUBK.V4I1.6869

Smet, Bart. (1994). PSIKOLOGI KESEHATAN. Jakarta ; PT. Gramedia Widiasarana Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *