Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Psychological well being pada remaja

Psychological well-being adalah sebagai kemampuan individu untuk menerima diri apa adanya, membentuk hubungan yang hangat dengan orang lain, memiliki kemandirian dalam menghadapi lingkungan sosial, mengontrol lingkungan eksternal, menetapkan tujuan hidupnya, dan merealisasikan potensi dirinya secara kontinu. Kemampuan tersebut dapat diupayakan dengan cara memfokuskan pada realisasi diri, pernyataan diri dan pengaktualisasian potensi dirinya sehingga dapat berfungsi positif secara penuh dan meraih kebahagiaan (Ryff, 1989).

Psychological well being merupakan unsur penting yang perlu ditumbuhkan pada diri indvidu agar dapat menghadapi dan menjalankan tugas perkembangannya secara penuh dan menghadapi tanggung jawab serta mencapai potensinya. Psychological well being dapat ditandai dengan diperolehnya kebahagiaan, kepuasan hidup dan tidak adanya gejala-gejala depresi

Konsep psycologycal well being menurut ryff terdiri dari enam dimensi, yaitu : penerimaan diri, hubungan positif dengan orang lain, otonomi, penguasaan lingkungan, tujuan hidup dan pertumbuhan pribadi. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi Psychological well-being yaitu, pertama adalah usia, hasil penelitian menunjukkan bahwa otonomi, penguasaan lingkungan, tujuan hidup dan perkembangan
pribadi meningkat seiring dengan meningkatnya usia. Selain itu Pengukuran penerimaan diri dan hubungan positif tidak ditunjukkan oleh perbedaan usia. Kedua adalah jenis kelamin, perbedaan jenis kelamin memiliki pengaruh pada psychological well-being seseorang, dimana wanita cenderung lebih memiliki Psychological well-being dibandingkan laki-laki. Hal inibterkait dengan pola fikir yang berpengaruh terhadap strategi koping dan aktivitas sosial yang dilakukan, dimana wanita lebih cenderung memiliki kemampuan interpersonal yang lebih baik dari pada laki-laki. Ketiga adalah dukungan sosial, penelitian yang telah dilakukan menunjukkan hasil bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara interaksi sosial dengan Psychological well-being.

Ketercapaian Psychological well being ditandai dengan berfungsinya aspek-aspek psikologis positif dalam prosesnya
mencapai aktualisasi diri. Psychological well being akan dicapai individu apabila dia mampu mencapai atau mewujudkan kebahagiaan disertai pemaknaan hidup.

 

 

Referensi:

Ryff, C. D. (1989). Happiness is everything, or is it? explorations on the meaning of psychological well-being Journal American Psychological Association 57, (6),
1069-1081

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *