Gratitude merupakan suatu bentuk emosi positif dalam mengekspresikan kebahagiaan dan rasa terimakasih terhadap segala kebaikan yang diterima (Seligman, 2002). Penelitian yang dilakukan Rotkirch (2014) menemukan bahwa gratitude berkolerasi dengan tingkat kedekatan personal terhadap teman sebaya maupun saudara bagi remaja. Ia menjelaskan bahwa remaja yang memiliki tingkat gratitude tinggi lebih dapat mengontrol emosi dirinya dalam menghadapi konflik dengan lingkungan sekitarnya sehingga dapat mempererat kedekatan personal dan keterikatan
emosional dengan orang lain, terutama pada peer groupnya.
Individu bersyukur karena menyadari bahwa dirinya banyak
menerima kebaikan, penghargaan dan pemberian baik dari Tuhan, orang lain dan lingkungan sekitarnya sehingga terdorong untuk membalas, menghargai dan
berterimakasih atas segala sesuatu yang diterimanya dalam bentuk perasaan, perkataan danperbuatan.
Secara konseptual, gratitude terbagi dalam dua tingkat, yaitu state (keadaan) dan trait (sifat). Sebagai sebuah keadaan, gratitude berarti perasaan subjektif berupa kekaguman, berterimakasih dan menghargai segala sesuatu yang diterima. Sedangkan sebagai sifat,
gratitude diartikan sebagai kecenderungan seseorang untuk merasakan gratitude dalam hidupnya, meskipun kecenderungan untuk merasakan gratitude itu tidak selalu muncul
namun seseorang yang memiliki kecenderungan ini akan lebih sering berterimakasih dalam situasi-situasi tertentu.
Mc Cullough, Emmons, dan Tsang (2002) membedakan trait gratitude dalam empat aspek, yaitu: pertama, Intensity, artinya sangat bersyukur ketika terjadi hal-hal positif. Kedua, Frequency artinya individu sering mengungkapkan rasa syukur setiap hari. Ketiga, Span artinya individu merasa bersyukur dalam berbagai
keadaan hidup (seperti bersyukur atas pekerjaan, kesehatan dan keluarga yang dimiliki). Keempat, Density artinya individu sering merasakan perasaan berterimakasih terhadap lebih banyak orang. McCullough, et al. (2002) menyatakan bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi gratitude yaitu: Pertama, Emotionality yaitu suatu kecenderungan dimana seseorang
merasa emosional dan menilai kepuasan hidupnya. Kedua, Prosociality yaitu kecenderungan seseorang untuk diterima di lingkungan sosial. Ketiga, Religiousness yaitu sesuatu yang berkaitan dengan nilai-nilai transendental, keagamaan dan keimanan seseorang.
Referensi:
McCullough, M. E., Emmons, R.A., & Tsang, J. (2002). The grateful disposition: A conceptual and empirical topography. Journal of Personality and Social Psychology, 82, 112-127.
Seligman, M. E. P. (2002). Authentic happiness: Using the new positive psychology to realize your potential for lasting fulfillment. New York: Free Press.