Apakah sobat Psike pernah mengalami kejadian yang kurang mengenakan yang masih diingat hingga sekarang? Apakah peristiwa tersebut sangat membekas pada sobat? Ada satu gangguan psikologis yang berhubungan dengan pengalaman traumatis di masa lalu. PTSD atau Post-Traumatic Stress Disorder adalah gangguan psikologis yang dapat terjadi pada mereka yang pernah mengalami atau menyaksikan peristiwa-peristiwa yang menimbulkan trauma. Peristiwa tersebut dapat berupa bencana alam, kecelakaan, terorisme, peperangan, pemerkosaan, atau ancaman pembunuhan [1].
Post-Traumatic Stress Disorder memang disebabkan akibat dari peristiwa traumatis yang dialami individu di masa lalu. Namun tidak hanya hal tersebut yang dapat menimbulkan atau memicu munculnya PTSD pada seseorang. Keluarga dan Keturunan juga dapat menjadi faktor penyebab kerentanan seseorang mengalami Post-Traumatic Stress Disorder. Seseorang yang berasal dari keluarga yang tidak stabil seperti pernah menjadi veteran perang. Sejarah kecemasan yang ada pada keluarga menunjukkan adanya kerentanan biologis pada keturunannya [2]. Memiliki orang tua dengan permasalahan kesehatan mental dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengembangkan PTSD pada dirinya [3].
Selain faktor keluarga dan keturunan, faktor sosial dan kultural juga berpengaruh pada PTSD. Ketika seseorang mengalami suatu peristiwa traumatis, lingkungan sosial budaya dapat berpengaruh pada perkembangan PTSD. Rendahnya dukungan sosial menjadi penyebab seseorang dapat mengembangkan PTSD yang dialaminya. Sebuah studi menyatakan bahwa dukungan sosial dari orangtua, teman dekat, teman sekelas, atau guru bisa menjadi faktor penting untuk melindungi seseorang terhindar dari PTSD [2].
Mengapa PTSD berkembang pada diri seseorang?
Belum ada alasan pasti mengapa PTSD dapat terus berkembang pada diri seseorang, namun beberapa kemungkinan diantaranya seperti [3]:
-
Mekanisme pertahanan diri
Seseorang mungkin akan merasakan “kegelisahan” pada trauma yang dialaminya sebagai akibat dari pengalaman traumatis yang dialaminya. Mekanisme ini membuat seseorang menghilangkan kecemasan pada dirinya untuk sementara, padahal kenyataannya orang tersebut tidak dapat beralih dari pengalaman traumatis yang dialaminya.
-
Level adrenaline tinggi
Penderita PTSD akan memproduksi hormon adrenalin yang berlebih daripada orang kebanyakkan. Produksi adrenalin terus dilakukan dalam tubuhnya meski tubuh tidak merespon adanya bahaya yang mengintai.
-
Perubahan di otak
Seseorang yang mengalami gangguan PTSD memiliki hipokampus yang lebih kecil dibandingkan orang normal. Berkurangnya ukuran hipokampus berhubungan dengan ketakukan, kecemasan, dan gangguan ingatan pada penderita PTSD.
References:
- American Psychiatric Association. (2021). What is posttraumatic stress disorder?. Diakses: https://www.psychiatry.org/patients-families/ptsd/what-is-ptsd. Diakses pada 5 Oktober 2021.
- Durand, V. M., & Barlow, D. H. (2006). Intisari Psikologi Abnormal (terjemahan). Pustaka Pelajar
- NHS. (2018). Causes – post-traumatic stress disorder. Diakses: https://www.nhs.uk/mental-health/conditions/post-traumatic-stress-disorder-ptsd/causes/. Diakses pada 5 Oktober 2021.