Di era yang serba digital ini, siapa sih yang tidak mengenal dengan namanya smartphone atau disebut juga telepon pintar. Benda satu ini penggunaannya pun semakin canggih dan memiliki fungsi yang beragam. Penggunaan smartphone di Indonesia tidak hanya digunakan oleh orang dewasa saja, melainkan berbagai kalangan pun menggunakannya. Berdasarkan data yang dihimpun oleh Badan Pusat Statistik yang bersumber dari Susenas menunjukan bahwa proporsi individu yang menggunakan telepon genggam menurut kelompok umur pada tahun 2020 yaitu lebih banyak digunakan oleh usia 15-24 tahun yaitu sebesar 87,75 %, usia 25-64 tahun sebesar 72, 39 %, usia lebih dari 65 tahun sebesar 25,66 %, dan usia kurang dari 15 tahun sebesar 17,01 %.
Kehadiran smartphone ini tentu akan mempermudah hidup manusia untuk melakukan berbagai aktivitasnya dalam waktu singkat secara bersamaan, seperti belanja online, belajar, serta menemukan segala bentuk informasi. Apalagi di masa pandemic Covid-19 seperti sekarang ini, smartphone memberikan kontribusi banyak terhadap kelangsungan hidup manusia, sehingga manusia masih tetap bisa berkegiatan dengan produktif. Walaupun demikian, ternyata penggunaan smartphone yang berlebihan memberikan pengaruh negatif terhadap hidup manusia juga.
Salah satunya adalah Fonomena Phubbing. Mungkin bagi sebagian orang istilah phubbing adalah istilah baru dan jarang di dengar. Pubbhing merupakan singkatan dari phone dan snubbing. Sebagai gambarannya, fenomena Phubbing ini biasa terjadi ketika sedang makan atau kumpul bersama dengan keluarga, pasangan, teman dan sahabat. Misalnya saja di lingkungan keluarga banyak ditemukan fenomena ini. Seorang anak mengabaikan perkataan orang tuanya dan lebih memilih smartphone. Kemudian, saat berkumpul di ruang keluarga setiap anggota keluarga lebih fokus dan asyik pada smartphone masing-masing dan hal tersebut dianggap hal yang wajar. Padahal dalam situasi tersebut, dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk mempererat hubungan antar anggota keluarga satu sama lain.
Selain itu, fenomena phubbing juga ditemukan di tempat-tempat umum atau keramaian seperti pada saat mengantre, di transportasi umum seperti Bis atau KRL. Hal ini disebabkan karena orang yang mengalami phubbing memiliki sensation seeking yang tinggi, sehingga ia akan merasa cepat bosan, dengan begitu ia akan mencari suatu kegiatan yang lain seperti membuka sosial media pada smartphonenya untuk menghilangkan rasa bosannya. Ciri lainnya adalah individu tersebut memiliki self-esteem rendah menilai dirinya dan cenderung merasa tidak aman saat berinteraksi secara langsung dengan orang lain. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa phubbing merupakan salah satu gangguan sosial akibat dari ketergantungan smartphone yang menjadikan individu enggan berkomunikasi dan mengalihkannya pada smartphone secara berlebihan. Hal ini tentu akan menjadikan individu memiliki sikap apatis terhadap lingkungan dan cenderung introvert.
Lalu apakah fenomena phubbing ini berbahaya? Sama halnya dengan dampak ketergantungan smartphone yang lain, phubbing juga berdampak pada fisik/kesehatan, psikis, maupun hubungan sosial. Apabila fenomena ini terus dibiarkan maka sangat dikhawatirkan akan merusak hubungan yang terjalin dalam keluarga atau pertemanan dan muncul masalah kesehatan yang lainnya.
Banyak sekali faktor mengapa fenomena phubbing ini bisa terjadi, baik itu dari faktor internal maupun faktor eksternal. Faktor internal berasal dari para pelaku phubbing (phubber) dan dari korban pubbhing itu sendiri. Bagi pelaku phubbing, mungkin apa yang ia lakukan merupakan hal yang wajar dan tidak disadari, tapi bagi korban pubbhing ia akan merasa tidak dihargai keberadaannya. Lingkungan pun berperan dalam membentuk fenomena phubbing di sekitar kita. Oleh karena itu, yuk mulai sekarang kita peduli terhadap lawan bicara kita dan mulai memahami fenomena phubbing ini.
Referensi:
Amelia, T., Despitasari, M., Sari, K., Putri, D. S. K., Oktamianti, P., & Agustina, A. (2019). Phubbing, Penyebab Dan Dampaknya Pada Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia. Jurnal Ekologi Kesehatan, 18(2), 122-134.
Hanika, I. M. (2015). Fenomena phubbing di era milenia (ketergantungan seseorang pada smartphone terhadap lingkungannya). Interaksi: Jurnal Ilmu Komunikasi, 4(1), 42-51.