Layunya para generasi muda, generasi penerus negeri ini, tentunya menimbulkan keresahan baru. Para generasi muda yang diharapkan akan memegang estafet pembangunan bangsa justru terlihat tak semenggairahkan semestinya. Terjadi sejumlah kasus remaja yang dikenal baik di lingkungannya tiba-tiba ditemukan meninggal karena bunuh diri. Banyak dari kasus-kasus itu terjadi karena orang tuanya yang mengalami ketidakharmonisan atau perceraian atau sering disebut sebagai broken homen. Hal ini turut juga dipicu kebiasaan kebanyakan remaja di kota besar yang kesehariannya dipenuhi dengan dunia digital dan fantasi melalui telepon genggamnya. Sejumlah ahli bahkan menyampaikan pandangannya bahwasanya generasi muda dalam memutuskan untuk bunuh diri terjadi karena kekurangan cinta dan tenggelam dalam dunia imajiner yang terbangun akibat kebiasaannya. Remaja yang masuk dalam dunia imajiner akan semakin mudah terperosok dalam depresi hingga bunuh diri.
Sejumlah negara di dunia pun perlahan mulai menaruh perhatian serius pada generasi muda. Negara-negara tersebut mulai memahami betapa pentingnya merawat para generasi muda agar menjadi generasi yang kuat dan kokoh agar mampu menguasai kemajuan di masa depan. Di Jepang misalnya, penduduk lanjut usia jumlahnya semakin banyak setiap tahun. Masalahnya, hal ini tidak dibarengi dengan pertumbuhan anak dan generasi muda. Berdasarkan data, jumlah penduduk dengan usia lebih dari 65 tahun meningkat dari 1,1 juta menjadi 31,9 juta, atau 25,1% dari populasi di Jepang. Bahkan, diperkirakan pada tahun 2060 mendatang proporsi penduduk berusia 65 tahun ke atas mencapai hampir 40% dari populasi Jepang (Sitanggang, 2018).
Negara sebelahnya, yaitu Cina turut mengeluarkan kebijakan untuk mendorong pertumbuhan penduduknya. Negara ini bahkan menghapus program Satu Anak dalam Keluarga demi mendorong pertumbuhan penduduknya (Cahyaningsih, 2018). Cina mengalami pertumbuhan penduduk yang sangat rendah bahkan minus karena penduduknya menganggap anak merupakan beban. Hal ini akan memicu meledaknya penduduk usia tua yang pada akhirnya akan menurunkan produktivitas negara.
Peran Keluarga dan Kesehatan Mental
Sudah bukan rahasia lagi, banyak permasalahan sosial dan hukum yang muncul dalam masyarakat sebagai akibat dari keluarga yang disfungsional. Dimulai dari pola asuh hingga perlindungan dari anggota keluarga yang lemah menjadi salah adu penyebabnya. Akibat dari rendahnya penerapan fungsi keluarga akhirnya melahirkan anak terlantar, anak dan remaja yang melanggar hukum hingga sejumlah permasalahan lainnya yang sering kita lihat di berbagai media. Tak jarang, masalah kesehatan mental dan fisik yang timbul pada remaja dan generasi muda secara umum lahir sebagai akibat tidak berjalannya fungsi keluarga secara baik.
Psikoanalis Freudian seperti Carl Rogers pada periode menjelang 1950-an memperkenalkan prinsip terapi yang berpusat pada klien (Wibowo, 2018). Para psikiater kala itu mempercayai bahwa interaksi antara pasien gangguan mental dan keluarga mereka hanya menambah masalah. Namun, psikolog modern baru-baru ini menampik kepercayaan tersebut. Psikolog modern bahkan menemukan bahwasanya keluarga benar-benar dapat berpartisipasi dalam terapi dan membantu pasien pulih. Keluarga menjadi bagian dari lingkungan yang menjadi variabel yang dapat menentukan kesembuhan pasien gangguan jiwa. Meski demikian, tak cukup hanya dengan terlibat keluarga juga dituntut untuk memiliki pengetahuan dan keterampilan mengenai kesehatan mental. Selain itu, pendeteksian dini terhadap gangguan perkembangan anak seperti autisme dan gangguan lainnya akan sangat membantu meringankan dan bahkan memperbaiki gangguan tersebut. Hal ini pun menjadi hal yang sentral bagi peran keluarga, karena keluarga dapat dengan mudah mengenali tanda-tanda depresi dan kondisi tertentu pada anggota keluarganya.
Keluarga inti dan keluarga besar sangat berperan dalam membantu pasien untuk dapat melewati masa-masa sulit dan kritis bagi generasi muda. Penanaman nilai-nilai keagamaan yang kuat akan menjadi fondasi anak dalam melakukan interaksi dengan lingkungannya. Fenomena di Indonesia sebenarnya sangat mendukung dalam pengembangan konsep psikologi modern. Hal ini mengingat masyarakat Indonesia secara turun temurun menanamkan nilai kebersamaan dan hubungan yang sangat erat dalam keluarga. Tradisi dan budaya kekerabatan yang erat dalam keluarga ini akan sangat bermanfaat dalam menangani permasalahan seputar kesehatan mental pada remaja. Terlebih, akan semakin maksimal ketika dibarengi dengan pengetahuan dan keterampilan yang tepat dalam menangani masalah kesehatan mental dan fisik. Ketika keluarga dibekali dengan kompetensi misalnya dalam memberi anak nutrisi yang tepat, menjaga kesehatan mereka, mencegah penyakit menular, melakukan terapi keluarga, merawat orang tua di rumah dan sejenisnya, maka dapat dipastikan bahwa konsen mengenai masalah kesehatan mental di Indonesia dapat teratasi dengan baik dari rumah.
Referensi
Sitanggang, Andri Eriko. 2018. Fenomena Penurunan Jumlah Kelahiran di Jepang. Skripsi Program Studi Bahasa Jepang, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara.
Cahyaningsih, Eri Dwi et.al. 2018. Kebijakan Satu Anak Di China: Tujuan, Dampak, Dan Kebijakan Penghapusannya. Departemen Ilmu Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Gadjah Mada
Wibowo, Mungin Eddy. 2018. Profesi Konseling Abad 21. Cetakan ke-1 Semarang: Unnes Press.