Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Peluang Selfdiagnosis Dibalik Tren Isu Kesehatan Mental

Peluang Selfdiagnosis Dibalik tren Isu Kesehatan Mental

            Penggunaan internet khususnya media sosial, di era ini menjadi sebuah tern yang cukup berpengaruh bagi kehidupan setiap individu. Tidak hanya menyasar pada tingkatan usia tertentu saja, tren ini menyasar hampir seluruh usia tanpa memandang latar belakang apapun. Semua orang dari berbagai latar belakang, baik pendidikan, ekonomi, sosial dan bahkan mental sekalipun, dapat menggunakan media sosial tanpa memerlukan pengawasan dari pihak manapun. Tidak jarang apabila seorang individu tidak memiliki setidaknya satu akun pada media sosial, ia akan di beri label “ketinggalan jaman” oleh lingkungan tempatnya bersosialisasi. Hal tersebut menjadi salah satu latar belakang pengguna media sosial khususnya di Indonesia selalu bertambah setiap tahunnya. Bahkan, per januari 2020 saja survai Hootsuite menyebutkan bahwa pengguna aktif media sosial di Indonesia, mencapai angka 160 juta orang dari sekitar 272,1 juta penduduk. Ini berarti lebih dari separuh popolasi Indonesia merupakan pengguna aktif media sosial.

Internet and sosial media aktif user in Indonesia
Sumber : Hootsuite

            Sejalan dengan peningkatan angka pengguna media sosial yang cukup fantastis tersebut, banyak informasi, topik, maupun isu isu yang ada di media sosial menjadi trending bahkan viral karena di bicarakan oleh banyak orang dalam waktu yang bersamaan. Salah satu isu yang sedang hangat di perbincangkan di dunia media sosial adalah isu mengenai kesehatan mental. Beberapa waktu belakangan ini, topik mengenai kesehatan mental banyak sekali disuarakan oleh para pengguna media sosial. Banyak akun akun kesehatan mental baik bersifat individu maupun berkelompok mulai bermunculan, campaign campaign berbau peduli mental juga sangat ramai dijumpai, bahkan tidak jarang selebritis selebritis di berbagai platform menyuarakan mengenai topik ini. Tentu ini menjadi suatu hal yang sangat menggembirakan bagi para Mental Health Enthusiast. Dengan ramainya topik ini dibicarakan, masyarakat menjadi lebih aware dengan kesehatan mental, diskusi diskusi mengenai kesehatan mental pun mulai kerap dilaksanakan, normalisasi bagi mereka yang memiliki masalah berkaitan dengan kesehatan mental pun membaik, karena masyarakat mulai terbiasa mendengar isu isu mengenai topik ini. Namun hal ini juga bisa menjadi sebuah ancaman bagi masyarakat apabila tidak di bersamai dengan edukasi yang baik. Sebut saja fenomena Self diagnosis. Fenomena ini dapat saja terjadi ditengah masyarakat apabila glorifikasi tentang isu Kesehatan mental terjadi tanpa dibarengi dengan edukasi mengenai  bahaya dari self diagnosis.

Self diagnosis sendiri adalah sebuah proses dimana seorang individu mengamati dan mengidentifikasi diri mengenai penyakit atau gangguan yang mereka alami tanpa adanya konsultasi medis. Tindakan ini dapat memberikan dampak yang berbahaya bagi diri sendiri. Tergesa-gesa dalam mendiagnosis diri sendiri tanpa konsultasi kepada ahlinya justru akan mengarahkan ke hal hal yang negatif. Hal ini tentu sangat berbahaya bagi individu tersebut, karena dengan mendiagnosis diri sendiri dengan gangguan yang tidak tepat, ia akan mencari treatment yang tidak tepat, yang juga bisa menyebabkan gangguan sebenarnya tidak terdeteksi. Sebagai masyarakat umum tidak salah apabila hendak melihat gambaran secara umum mengenai gangguan yang dialami dari informasi di internet atau buku panduan. Tetapi jika sudah masuk ke diagnosis, sudah menjadi ranah dari ahli yang bersangkutan. Seperti contohnya ketika seseorang merasakan jantung berdebar dan sesak nafas, sebelumya ia membaca sebuah artikel mengenai anxiety, kemudian ia melakukan diagnosis pada dirinya sendiri bahwa ia mengalami anxiety akhirnya dia melakukan pengobatan secara mandiri untuk mengurangi anxiety yang ia rasakan, namun mengesampingkan pengobatan medis padahal sebenarnya dia mengalami penyakit jantung. Tentu hal ini sangat berbahaya apabila terjadi. Selain itu peluang merasakan kecemasan berlebihan juga dapat dirasakan oleh mereka yang melakukan selfdiagnosis pada dirinya sendiri. Mereka melakukan self diagnosis pada diri mereka sendiri dan akan memikirkan kemungkinan terburuk dari suatu gangguan yang mereka yakini ada dalam diri mereka, padahal gangguan tersebut sebenarnya tidak terjadi. Tentunya hal tersebut dapat menimbulkan kecemasan maupun kepanikan yang sebenarnya tidak perlu.

Potensi menyangkal gangguan mental yang dialami juga dapat dilakukan oleh mereka yang melakukan self diagnosis. Mereka membaca gejala gejala sebuah penyakit di internet kemudian menyangkal gejala tersebut, menganggap remeh, dan mengambil tindakan untuk tidak memperdulikan gejala gejala yang mereka alami, padahal gejala yang mereka alami akan berdampak lebih buruk apabila tidak mendapatkan penanganan segera. Selain itu krisis kepercayaan terhadap tenaga ahli seperti psikolog dan psikater dapat terjadi pada mereka yang sering melakukan self diagnosis. Mereka merasa bisa mengidentifikasi gangguan atau penyakit yang mereka rasakan tanpa memerlukan bantuan ahli.

Tentunya dengan semakin banyak orang membicarakan dan mengkampanyekan isu Kesehatan mental semakin banyak pula orang yang mengetahui urgensi Kesehatan mental, namun edukasi mengenai bahaya dari self diagnosis ini juga perlu di suarakan. Jika merasa ada yang salah dengan diri sendiri, konsultasikan dengan ahlinya. Hindari untuk mendiagnosis diri sendiri berbekal informasi yang masih minim.

Don’t do self diagnosis and Don’t hesitate to come to the experts

 

Referensi:

Ahmed, A., & Samuel, S. (2017). Self-Diagnosis in Psychology Students. The International Journal ofIndian Psychology, 4, 2348–5396.

Azizah, N. (2020, September 10). Psikolog Jelaskan Bahaya Self-Diagnosis Terhadap Mental 

    Republika   Online. ublika. https://www.republika.co.id/berita/qz7uyi463/psikolog-jelaskan-bahaya-self-diagnosis-terhadap-mental

Georgakopoulou, S. (2017). The Dangers of Self-Diagnosis and Self-Help. Psychology and Behavioral Science International Journal, 2(5). https://doi.org/10.19080/PBSIJ.2017.02.555600

Indonesia, C. (2021, Agustus). 5 Bahaya Self-Diagnose, Menduga-duga Penyakit dari Internet. CNN Indonesia. https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20210829092302-255-686881/5-bahaya-self-diagnose-menduga-duga-penyakit-dari-internet

Kemp, S. (2020, February 18). Digital 2020: Indonesia—DataReportal – Global Digital Insights.Data Reportal. https://datareportal.com/reports/digital-2020-indonesia

Riyanto, A. (n.d.). Hootsuite (We are Social): Indonesian Digital Report 2020—Google Search.

Andi.Link.   Retrieved October 17, 2021, from https://www.google.com/search?q=Hootsuite+(We+are+Social)%3A+Indonesian+Digital+Report+2020&oq=Hootsuite+(We+are+Social)%3A+Indonesian+Digital+Report+2020&aqs=chrome.0.69i59j69i60l2.839j0j7&sourceid=chrome&ie=UTF-8

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *