Bayangkan tiba-tiba jantung berdegup sangat cepat, napas terasa pendek, tubuh gemetar, kepala ringan, dan muncul keyakinan bahwa sesuatu yang sangat buruk sedang terjadi. Padahal Anda sedang duduk di tempat yang sebenarnya aman. Pengalaman seperti ini dapat terasa sangat nyata dan menakutkan—dan bagi sebagian orang, ketakutan terhadap serangan berikutnya justru menjadi masalah yang lebih besar daripada serangan panik itu sendiri.
Apa Itu Panic Attack?
Panic attack atau serangan panik adalah episode munculnya rasa takut atau ketidaknyamanan yang sangat intens dan terjadi secara tiba-tiba. Respons tubuh dapat menjadi sangat kuat meskipun tidak terdapat ancaman fisik yang sebanding dengan sensasi yang dirasakan.
Dalam kondisi normal, tubuh memiliki sistem fight-or-flight yang membantu kita menghadapi bahaya. Ketika seseorang menghadapi ancaman, detak jantung meningkat, napas berubah, tubuh menjadi lebih waspada, dan energi dialihkan untuk menghadapi situasi tersebut. Pada serangan panik, respons semacam ini dapat muncul secara sangat intens meskipun seseorang tidak sedang menghadapi bahaya nyata. Harvard Health menggambarkan panic attack sebagai aktivasi respons tubuh terhadap bahaya yang dapat muncul tanpa adanya ancaman fisik aktual.
Inilah yang membuat serangan panik begitu membingungkan. Sensasinya bukan sekadar “merasa cemas”. Tubuh benar-benar mengalami perubahan fisik yang dapat membuat seseorang yakin bahwa ia sedang mengalami masalah medis serius.
HelpGuide menjelaskan bahwa serangan panik dapat muncul secara tiba-tiba, bahkan ketika seseorang sedang santai atau tertidur. Episode biasanya mencapai intensitas puncak dalam waktu singkat dan kemudian mereda. Banyak serangan berakhir dalam 20–30 menit, meskipun beberapa gejala dapat bertahan lebih lama.
Mengalami satu atau beberapa panic attack tidak otomatis berarti seseorang mengalami panic disorder. Banyak orang dapat mengalami serangan panik tanpa kemudian mengalami gangguan panik. Yang membedakan panic disorder adalah pola berulang yang disertai kekhawatiran menetap dan perubahan perilaku yang signifikan.
Seperti Apa Rasanya Saat Panic Attack Terjadi?
Serangan panik dapat melibatkan kombinasi gejala fisik, emosional, dan persepsi. Karena gejalanya sangat beragam, pengalaman setiap orang tidak selalu sama.
Jantung berdebar, berdetak cepat, atau muncul rasa tidak nyaman maupun nyeri di dada.
Sesak, napas terasa pendek, sulit menarik napas, atau sensasi seperti tercekik.
Gemetar, pusing, kepala terasa ringan, mati rasa, atau kesemutan.
Berkeringat, merasa panas, menggigil, atau mengalami sensasi dingin.
Mual, perut tidak nyaman, atau sensasi seperti sistem pencernaan sedang terganggu.
Takut mati, takut kehilangan kendali, takut menjadi gila, atau merasa sesuatu yang mengerikan akan terjadi.
Merasa lingkungan tidak nyata atau mengalami sensasi seperti terlepas dari diri sendiri.
Perasaan mendadak bahwa tubuh sedang berada dalam keadaan darurat.
Daftar gejala tersebut konsisten dengan sumber klinis seperti MedlinePlus, NHS, dan HelpGuide.
Saat panic attack terjadi, tubuh dapat mengaktifkan respons darurat yang sangat kuat sehingga sensasi fisik terasa seperti ancaman nyata.
Panic Attack Bukan Berarti Panic Disorder
Perbedaan ini penting karena istilah “panic attack” dan “panic disorder” sering digunakan seolah-olah sama.
Panic attack adalah sebuah episode atau pengalaman. Seseorang dapat mengalaminya satu kali, beberapa kali, atau sebagai bagian dari kondisi lain seperti gangguan kecemasan, depresi, atau PTSD.
Panic disorder adalah kondisi kesehatan mental yang ditandai oleh serangan panik berulang dan tidak terduga, disertai kekhawatiran terus-menerus mengenai serangan berikutnya atau perubahan perilaku akibat serangan tersebut. MedlinePlus dan HelpGuide sama-sama menekankan bahwa ketakutan terhadap serangan berikutnya dan perilaku menghindar merupakan bagian penting dari pola panic disorder.
Episode singkat berupa lonjakan ketakutan atau ketidaknyamanan yang intens dengan gejala fisik dan psikologis.
Pola serangan panik berulang yang disertai kekhawatiran menetap atau perubahan perilaku yang bermakna.
Ketakutan atau penghindaran terhadap situasi karena merasa sulit melarikan diri atau mendapatkan bantuan jika panik terjadi.
Dengan kata lain, masalah utama dalam panic disorder bukan hanya apa yang terjadi selama lima, sepuluh, atau dua puluh menit ketika serangan muncul. Masalahnya dapat berkembang menjadi “takut mengalami ketakutan itu lagi.”
Lingkaran “Takut terhadap Panic Attack”
Salah satu aspek paling melelahkan dari panic disorder adalah munculnya kecemasan antisipatif. Setelah mengalami serangan yang sangat menakutkan, seseorang dapat mulai memantau tubuhnya secara berlebihan.
Jantung berdetak sedikit lebih cepat setelah menaiki tangga. Napas terasa berbeda ketika sedang lelah. Kepala terasa ringan karena kurang makan. Sensasi-sensasi biasa tersebut kemudian ditafsirkan sebagai tanda bahwa serangan akan segera datang.
Jantung berdebar atau napas berubah.
“Jangan-jangan saya akan panik.”
Perhatian semakin terpusat pada tubuh.
Ketegangan dan aktivasi tubuh meningkat.
Gejala terasa semakin kuat.
“Benar, sesuatu yang buruk sedang terjadi.”
HelpGuide menekankan bahwa interpretasi katastrofik terhadap sensasi tubuh dapat mempertahankan siklus panik. Misalnya, jantung berdebar ditafsirkan sebagai tanda serangan jantung, lalu ketakutan tersebut semakin meningkatkan aktivasi tubuh.
Memahami siklus ini bukan berarti menganggap gejala fisik “hanya ada di pikiran”. Gejalanya nyata. Yang perlu diperiksa adalah bagaimana otak menafsirkan sensasi tersebut dan bagaimana interpretasi itu kemudian memengaruhi respons tubuh.
Mengapa Panic Attack Bisa Terjadi?
Tidak selalu ada satu penyebab yang dapat menjelaskan mengapa seseorang mengalami panic attack. Faktor biologis, genetik, pengalaman hidup, stres, lingkungan, dan kondisi kesehatan tertentu dapat berperan.
MedlinePlus menyebut beberapa kemungkinan faktor yang berkaitan dengan panic disorder, termasuk faktor genetik, biologi dan kimia otak, lingkungan, serta stres berat. Kondisi ini juga dapat lebih sering muncul pada akhir masa remaja atau awal masa dewasa, meskipun dapat terjadi pada usia lain.
HelpGuide juga mencatat bahwa transisi kehidupan dan stres berat seperti kehilangan orang yang dicintai, perceraian, atau kehilangan pekerjaan dapat menjadi pemicu pada sebagian orang. Selain itu, beberapa kondisi medis, penggunaan zat stimulan, konsumsi kafein, atau penghentian obat tertentu dapat menghasilkan gejala yang menyerupai atau memicu kepanikan.
Karena itu, penting untuk tidak menyimpulkan bahwa semua gejala panik pasti berasal dari masalah psikologis. Gejala seperti nyeri dada, sesak napas, jantung berdebar, pusing, atau pingsan dapat memiliki penyebab medis lain.
Panic Attack atau Kondisi Medis?
Inilah salah satu bagian paling penting dalam memahami serangan panik. Gejala panic attack dapat menyerupai kondisi medis seperti masalah jantung, gangguan tiroid, gangguan pernapasan, efek zat tertentu, atau kondisi fisik lainnya.
Karena itu, seseorang yang baru pertama kali mengalami gejala berat—terutama nyeri dada, sesak yang signifikan, pingsan, atau gejala yang berbeda dari pengalaman sebelumnya—tidak sebaiknya langsung mendiagnosis dirinya sendiri sebagai mengalami panic attack.
MedlinePlus menjelaskan bahwa pemeriksaan dapat mencakup riwayat kesehatan, pemeriksaan fisik, pemeriksaan darah untuk kondisi tertentu seperti gangguan tiroid, atau pemeriksaan jantung apabila diperlukan. Tujuannya bukan sekadar “mencari masalah”, melainkan memastikan gejala tidak disebabkan kondisi fisik yang membutuhkan penanganan.
Jika gejala terasa baru, sangat berat, berbeda dari biasanya, menetap, memburuk, menyebabkan pingsan, atau Anda tidak yakin penyebabnya, cari pertolongan medis segera. Dalam keadaan darurat, gunakan layanan gawat darurat setempat. Diagnosis panic disorder sebaiknya dilakukan setelah kemungkinan penyebab medis yang relevan dipertimbangkan.
NICE juga merekomendasikan agar orang yang datang ke layanan gawat darurat dengan panic attack menjalani pemeriksaan yang diperlukan untuk menyingkirkan masalah fisik akut sebelum diarahkan pada perawatan lanjutan.
Ketika gejala fisik menyerupai kondisi medis, pemeriksaan yang tepat penting untuk membedakan penyebabnya sebelum menyimpulkan bahwa gejala berasal dari panic attack.
Apa Itu Agoraphobia?
Pada sebagian orang, ketakutan terhadap panic attack berkembang menjadi penghindaran terhadap tempat atau situasi tertentu. Kondisi yang berkaitan dengan pola ini dikenal sebagai agoraphobia.
Agoraphobia bukan sekadar takut berada di tempat ramai. Intinya adalah ketakutan terhadap situasi ketika seseorang merasa akan sulit melarikan diri, mendapatkan bantuan, atau menghadapi rasa malu jika gejala panik muncul.
Kereta, bus, pesawat, atau kendaraan yang dianggap sulit ditinggalkan.
Pusat perbelanjaan, stadion, antrean, atau ruang yang dipenuhi banyak orang.
Lift, terowongan, atau tempat yang dianggap sulit mendapatkan pertolongan.
Situasi ketika seseorang merasa tidak ada orang yang dapat membantunya jika panic attack terjadi.
Jika penghindaran semakin luas, kehidupan sehari-hari dapat menyempit. Seseorang mungkin mulai menolak undangan, membatasi perjalanan, menghindari aktivitas fisik, atau hanya mau pergi ke tempat tertentu jika ditemani orang yang dianggap aman. HelpGuide menggambarkan pola penghindaran semacam ini sebagai salah satu komplikasi yang dapat berkembang bersama panic disorder.
Apa yang Bisa Dilakukan Saat Panic Attack Terjadi?
Tujuan ketika serangan berlangsung bukan memaksa tubuh agar langsung berhenti merasakan apa pun. Tujuannya adalah membantu diri tetap aman, mengurangi respons tambahan yang memperkuat kepanikan, dan membiarkan gelombang gejala berlalu.
Jika Anda sudah pernah mendapatkan evaluasi dan mengetahui bahwa gejala tersebut merupakan panic attack, ingatkan diri bahwa respons tubuh sedang meningkat dan akan mereda. Hindari langsung menyimpulkan bahwa Anda sedang sekarat atau kehilangan kendali.
Jika sedang mengemudi, berhentilah di tempat aman. Jika sedang berdiri dan merasa sangat pusing, duduklah. Prioritaskan keselamatan fisik sebelum mencoba teknik apa pun.
Hindari bernapas terlalu cepat. Cobalah memperlambat ritme napas dan membuat hembusan sedikit lebih panjang daripada tarikan, selama teknik tersebut terasa nyaman bagi Anda.
Terus-menerus memeriksa detak jantung, tekanan di dada, atau setiap perubahan kecil dalam tubuh dapat mempertahankan perhatian pada gejala. Alihkan perhatian secara perlahan pada lingkungan sekitar.
Sebutkan beberapa benda yang dapat Anda lihat, dengar, atau rasakan. Fokus pada detail sederhana di sekitar dapat membantu perhatian kembali pada keadaan saat ini.
Jika Anda terus meninggalkan situasi setiap kali sensasi panik muncul, otak dapat semakin mengasosiasikan situasi tersebut dengan bahaya. Strategi menghadapi penghindaran sebaiknya dilakukan secara bertahap dan, bila diperlukan, dengan bantuan profesional.
HelpGuide merekomendasikan pembelajaran mengenai panic, latihan pernapasan, relaksasi, grounding, aktivitas fisik, tidur yang cukup, serta dukungan sosial sebagai bagian dari self-help.
Self-Help untuk Mengurangi Risiko dan Dampak Panic Attack
Self-help bukan pengganti diagnosis atau terapi ketika seseorang mengalami panic disorder yang signifikan. Namun, kebiasaan sehari-hari dapat menjadi bagian penting dari pengelolaan gejala.
Catat kapan serangan terjadi, apa yang sedang dilakukan, sensasi yang muncul, pikiran yang menyertainya, dan bagaimana episode berakhir.
Pada orang yang sensitif, konsumsi kafein berlebihan dapat memperkuat sensasi tubuh yang kemudian ditafsirkan sebagai tanda bahaya.
Kurang tidur dapat memperburuk kecemasan dan membuat tubuh lebih sulit mengelola stres.
Aktivitas fisik teratur dapat mendukung kesehatan secara keseluruhan dan menjadi bagian dari pengelolaan kecemasan.
Alkohol, beberapa zat stimulan, dan perubahan penggunaan zat tertentu dapat memengaruhi gejala panik.
Berbicara dengan orang yang dipercaya dapat mengurangi rasa terisolasi dan membantu menghadapi proses pemulihan.
MedlinePlus dan HelpGuide sama-sama menyarankan tidur yang cukup, aktivitas fisik, makan secara teratur, mengurangi kafein, serta menghindari alkohol sebagai bagian dari kebiasaan yang dapat membantu pengelolaan panic disorder.
Namun, penting untuk tidak mengubah seluruh hidup menjadi serangkaian aturan untuk “mencegah panik”. Jika seseorang mulai menghindari semakin banyak makanan, tempat, aktivitas, perjalanan, atau situasi hanya karena takut sensasi tubuh tertentu, strategi self-help tersebut dapat berubah menjadi bagian dari siklus penghindaran.
Self-help dapat mendukung pemulihan melalui pengenalan pola, pengaturan napas, tidur, aktivitas fisik, pengelolaan stimulan, dan dukungan sosial.
Penanganan Panic Disorder: Apa yang Terbukti Membantu?
Ketika panic attack berulang mulai mengganggu pekerjaan, pendidikan, hubungan, perjalanan, atau kehidupan sehari-hari, self-help saja mungkin tidak cukup. Kabar baiknya, panic disorder merupakan kondisi yang dapat ditangani.
NICE menyatakan bahwa psikoterapi, obat-obatan, dan self-help memiliki bukti efektivitas dalam penanganan panic disorder. Untuk kasus ringan hingga sedang, intervensi self-help dapat dipertimbangkan. Untuk kondisi sedang hingga berat, CBT atau pengobatan tertentu dapat menjadi pilihan berdasarkan evaluasi dan keputusan bersama dengan tenaga kesehatan.
CBT dan Panic Disorder
Cognitive Behavioral Therapy atau CBT merupakan salah satu pendekatan yang paling banyak diteliti untuk panic disorder. Terapi ini membantu seseorang memahami hubungan antara sensasi tubuh, pikiran, emosi, dan perilaku yang mempertahankan siklus panik.
CBT untuk panic disorder dapat mencakup pengenalan pola pikir katastrofik, restrukturisasi kognitif, latihan menghadapi sensasi tubuh secara terkontrol, serta paparan bertahap terhadap situasi yang selama ini dihindari.
Penelitian besar juga mendukung efektivitas CBT. Sebuah network meta-analysis terhadap 74 uji klinis dengan 6.699 peserta menemukan bahwa CBT individual tatap muka, CBT kelompok tatap muka, dan guided self-help berbasis CBT lebih efektif dibandingkan treatment as usual dalam mengurangi gejala panic disorder, meskipun tingkat kepastian bukti berbeda antarformat.
Umbrella review yang mencakup 38 systematic review dan meta-analysis juga menemukan dukungan yang cukup konsisten terhadap CBT sebagai intervensi efektif untuk mengurangi gejala panic disorder pada orang dewasa, walaupun penulis menekankan adanya keterbatasan kualitas metodologis pada banyak review yang dianalisis.
Bagaimana dengan Obat?
Obat dapat digunakan pada sebagian orang dengan panic disorder, terutama ketika gejalanya cukup berat atau psikoterapi tidak tersedia, tidak sesuai, atau belum memberikan hasil yang memadai.
Antidepresan seperti SSRI dan SNRI merupakan kelompok obat yang digunakan dalam penanganan panic disorder. Obat tersebut tidak bekerja seperti “obat darurat” yang langsung menghentikan panic attack dalam hitungan menit. Penggunaannya perlu mengikuti evaluasi dan resep tenaga medis.
Benzodiazepine bekerja lebih cepat, tetapi memiliki risiko ketergantungan dan persoalan lain sehingga penggunaannya perlu sangat hati-hati. NICE secara khusus menyatakan bahwa benzodiazepine tidak sebaiknya digunakan sebagai pengobatan untuk panic disorder karena berkaitan dengan hasil jangka panjang yang kurang baik.
Jangan memulai, menghentikan, atau mengubah dosis obat untuk panic disorder tanpa berkonsultasi dengan dokter.
Mengapa Menghindari Situasi Justru Bisa Memperburuk Masalah?
Setelah panic attack yang sangat menakutkan, menghindari tempat kejadian terasa masuk akal. Jika pernah panik di dalam bus, seseorang mungkin memilih tidak naik bus lagi. Jika pernah panik di pusat perbelanjaan, ia mungkin mulai berbelanja secara daring. Jika pernah panik ketika sendirian, ia mungkin selalu meminta seseorang menemaninya.
Dalam jangka pendek, penghindaran memang dapat memberikan rasa lega. Namun, otak dapat belajar bahwa “tempat ini aman hanya jika saya menghindarinya” atau “saya hanya aman jika ada orang lain bersama saya”. Akibatnya, wilayah kehidupan yang terasa aman dapat semakin mengecil.
Inilah salah satu alasan exposure menjadi bagian penting dalam CBT untuk panic disorder. Tujuannya bukan memaksa seseorang masuk ke situasi yang sangat menakutkan secara tiba-tiba. Paparan biasanya dirancang secara bertahap, terstruktur, dan sesuai kemampuan, sehingga seseorang dapat belajar bahwa sensasi kecemasan dapat ditoleransi dan tidak selalu berakhir dalam bencana.
Penelitian tentang komponen CBT menemukan bahwa interoceptive exposure, yaitu paparan terkontrol terhadap sensasi tubuh yang ditakuti, berkaitan dengan efektivitas terapi yang lebih baik dalam analisis komponen tertentu.
Kesalahan yang Sering Terjadi Saat Menghadapi Panic Attack
Pikiran ini dapat terasa sangat nyata ketika gejala fisik sedang berada di puncaknya. Jika Anda sudah mendapatkan evaluasi medis dan mengenali pola panic attack, penting untuk belajar membedakan sensasi panik dari interpretasi katastrofik.
Melawan setiap sensasi tubuh secara panik dapat membuat perhatian semakin terpusat pada gejala. Tujuannya adalah melewati gelombang panik dengan aman, bukan memaksanya hilang seketika.
Penghindaran berulang dapat memperkuat keyakinan bahwa tempat tersebut berbahaya. Pendekatan bertahap dan profesional lebih membantu daripada menghilangkan semakin banyak aktivitas.
Panic attack melibatkan respons fisiologis dan psikologis yang nyata. Menyalahkan diri sendiri tidak membantu memahami mekanismenya atau mencari penanganan.
Kapan Sebaiknya Mencari Bantuan Profesional?
Tidak perlu menunggu sampai kehidupan benar-benar berhenti sebelum mencari bantuan. Jika panic attack berulang, membuat Anda terus-menerus takut akan serangan berikutnya, atau menyebabkan Anda mengubah kehidupan secara drastis, evaluasi profesional layak dipertimbangkan.
Beberapa tanda yang patut diperhatikan antara lain:
- Anda mengalami panic attack berulang tanpa penyebab yang jelas.
- Anda menghabiskan banyak waktu mengkhawatirkan kapan serangan berikutnya akan terjadi.
- Anda mulai menghindari tempat, perjalanan, pekerjaan, kuliah, aktivitas sosial, atau olahraga.
- Anda selalu membutuhkan seseorang untuk merasa aman.
- Anda berulang kali pergi ke layanan kesehatan karena takut mengalami masalah fisik yang serius.
- Gejala membuat kualitas hidup, hubungan, atau produktivitas menurun.
- Anda menggunakan alkohol, obat, atau zat lain untuk mencoba mencegah atau menghentikan kepanikan.
MedlinePlus menekankan bahwa panic disorder yang tidak ditangani dapat berdampak pada kualitas hidup dan dapat berkaitan dengan kondisi lain seperti depresi atau masalah penggunaan zat.
Bagaimana Membantu Seseorang yang Sedang Panic Attack?
Jika orang di sekitar Anda sedang mengalami panic attack, respons pertama yang paling membantu biasanya bukan meminta mereka “tenang” atau mengatakan bahwa ketakutan mereka tidak masuk akal.
Berbicara dengan suara tenang, mengurangi keramaian di sekitar jika memungkinkan, membantu mereka duduk di tempat aman, dan mengingatkan mereka untuk bernapas perlahan dapat membantu. Setelah episode mereda, hindari mempermalukan atau mengolok-olok pengalaman tersebut.
Jika ini merupakan serangan pertama, gejalanya sangat berat, atau terdapat tanda yang mengarah pada masalah medis, jangan berasumsi bahwa itu hanya panic attack. Bantu orang tersebut mendapatkan evaluasi medis yang sesuai.
Untuk seseorang yang mengalami panic disorder, dukungan terbaik bukan selalu menemani dan membantu menghindari semua situasi yang ditakuti. Dukungan yang lebih konstruktif dapat berarti mendorongnya mendapatkan penanganan profesional dan mendukung proses pemulihan secara bertahap.
Panic Attack Dapat Terasa Sangat Menakutkan, tetapi Ada Jalan Keluar
Pengalaman panic attack sering membuat seseorang merasa kehilangan kendali atas tubuhnya sendiri. Jantung yang berdebar, sesak, pusing, gemetar, atau sensasi tidak nyata dapat terasa seperti tanda bahwa sesuatu yang mengerikan sedang terjadi.
Namun, memahami mekanisme panic dapat mengubah cara seseorang merespons pengalaman tersebut. Tubuh sedang mengaktifkan sistem alarm. Sensasinya nyata, tetapi sensasi yang kuat tidak selalu berarti terdapat bahaya yang sama kuatnya.
Yang juga penting adalah memahami bahwa panic attack dan panic disorder bukan kondisi yang harus dijalani sendirian. Penanganan berbasis bukti, terutama CBT, memiliki dukungan penelitian yang kuat. Self-help, perubahan gaya hidup, dukungan sosial, dan dalam kondisi tertentu obat-obatan dapat menjadi bagian dari rencana penanganan yang lebih luas.
Pemulihan bukan berarti tidak pernah merasakan kecemasan lagi. Pemulihan berarti seseorang secara bertahap dapat memahami sensasi tubuhnya, menghadapi ketakutan dengan cara yang lebih adaptif, mengurangi penghindaran, dan kembali menjalani kehidupan yang lebih luas.
Jika Anda mengalami panic attack, jangan buru-buru menyalahkan diri sendiri. Kenali gejalanya, pastikan penyebab medis yang relevan telah diperiksa, perhatikan pola yang muncul, dan cari bantuan ketika pengalaman tersebut mulai menguasai kehidupan Anda. Ketakutan dapat terasa sangat besar, tetapi rasa takut bukan berarti Anda tidak memiliki pilihan.
Sumber dan Referensi
HelpGuide. “Panic Attacks and Panic Disorder: Signs, Causes, Treatment.” Diperbarui 28 Juli 2026.
National Institute of Health / MedlinePlus. “Panic Disorder.”
NHS. “Panic Disorder.”
Harvard Health Publishing. “Panic disorders.” Diperbarui 27 Januari 2026.
Harvard Health Publishing. “Panic attacks: Recognizing and managing panic attacks and preventing future attacks.”
NICE. “Generalised anxiety disorder and panic disorder in adults: management.”
Papola, D., et al. “CBT treatment delivery formats for panic disorder: a systematic review and network meta-analysis of randomised controlled trials.” Psychological Medicine, 2023.
Pompoli, A., et al. “Psychological therapies for panic disorder with or without agoraphobia in adults: a network meta-analysis.” Cochrane Database of Systematic Reviews.
“Psychosocial treatment for panic disorder: An umbrella review of systematic reviews and meta-analyses.” PubMed.
“Dismantling cognitive-behaviour therapy for panic disorder: a systematic review and component network meta-analysis.” PubMed.