Mindfullness adalah keadaan dan sikap untuk hidup yang membantu diri menjadi lebih terbuka, berbelas kasih, dan sadar diri. Ini melibatkan sikat ‘sengaja’ mengarahkan perhatian diri jauh dari pikiran yang tidak terkendali/negatif dan pikiran menghakimi, yang dimana sikap tersebut memungkinkan diri untuk menjadi lebih hadir, terhubung dan terbuka dengan apa pun yang sedang terjadi pada diri.
Mindfullness mencakup dua kunci utama: kesadaran dan penerimaan. Kesadaran adalah pengetahuan dan kemampuan untuk memusatkan perhatian pada proses dan pengalaman batin seseorang, seperti pengalaman saat ini atau yang sedang terjadi. Penerimaan adalah kemampuan untuk mengamati dan menerima, bukannya menilai atau menghindari pemikiran tersebut.
Mindfullness memiliki sebuah tujuan tersendiri. Tujuan tersebut adalah untuk menumbuhkan perspektif tentang kesadaran dan identitas seseorang yang dapat membawa kedamaian yang lebih besar secara mental dan relasional. Mindfulness juga dapat digunakan dalam terapi berbasis kesadaran, untuk mengatasi stres, kecemasan, atau rasa sakit, dan hanya untuk menjadi lebih santai.
Mindfullness dapat dianggap sama dengan beberapa istilah (seperti flow dan meditasi) oleh beberapa orang. Secara teori, ketiga istilah tersebut berbeda. Lalu apa sih perbedaanya?
Mindfullness vs flow
Flow adalah keadaan di mana seseorang benar – benar terhanyut dalam suatu kegiatan dan kehilangan kesadaran diri. Flow dan mindfulness keduanya melibatkan konsentrasi yang mendalam, tetapi hanya flow yang melibatkan perilaku yang diarahkan pada tujuan. Sementara, mindfulness penuh menyalurkan konsentrasi sepenuhnya pada keadaan saat ini atau yang sedang dialami, sedangkan flow menyalurkan konsentrasi ke arah keterampilan dan pencapaian tujuan, yang mungkin termasuk pikiran masa lalu dan masa depan dan penilaian pikiran-pikiran itu.
Mindfulness vs meditation
Mindfulness adalah salah satu bentuk meditasi. Meditasi menggunakan berbagai praktik untuk menenangkan pikiran atau mencapai tingkat kesadaran yang lebih tinggi, salah satunya adalah perhatian penuh atau mindfullness. Mindfullness dapat diterapkan di dalam atau di luar meditasi formal yang dijalin menjadi aktivitas apa pun, seperti berjalan – jalan atau terlibat dalam percakapan.
Terdapat sikap yang untuk mencapai mindfullness, yaitu dengan menumbuhkan kesadaran dengan mengamati pikiran dan emosi yang sedang terjadi dan mengeksplor penyebab timbulnya pikiran dan emosi tersebut. Untuk menumbuhkan penerimaan, dengan menghindari sikap menghakimi atau menyingkirkan pikiran yang tidak menyenangkan. Emosi itu alami dan setiap orang memilikinya—mengakuinya dapat membantu seseorang memahami diri sendiri dengan lebih baik dan melangkah maju. Untuk menumbuhkan sebuah kesadaran dalam diri dapat melakukan sikap dengan focus on your breathing atau melakukan nafas mendalam disertai dengan fokus. Dan dapat dilakukan dengan mengapresiasi sesuatu yang sudah diterjadi.
Apakah mindfullness benar-benar bekerja? Terdapat studi ulasan yang menunjukkan bahwa intervensi berbasis mindfullness dapat membantu mengurangi kecemasan, depresi, dan rasa sakit. Pada tingkat yang lebih rendah, mindfillness dapat mengurangi stres dan meningkatkan kualitas hidup. Lalu, bagaimana bisa mindfullness membantu meredakan kecemasan? Karena mindfulness mencakup kesadaran dan penerimaan, yang dapat membantu orang memahami dan mengatasi emosi yang tidak nyaman, memungkinkan mereka untuk mendapatkan kontrol dan kelegaan.
Mindfulness dapat berperan dalam membantu orang menghentikan kebiasaan seperti merokok atau makan berlebihan. Ketika kebiasaan telah berkembang, pemicu (kelaparan) mendorong perilaku (makan) yang mengarah pada hadiah (kepuasan). Menjadi sadar akan perilaku dan apa yang berasal darinya dapat membantu mengubah hadiah dan menggantinya dengan perilaku yang lebih sehat.
Tingkat mindfullness yang lebih tinggi memprediksi hubungan yang lebih bahagia dan lebih memuaskan, penelitian menunjukkan perhatian penuh memiliki manfaat keterampilan hubungan utama, seperti hadir/penuh perhatian/terbuka, mengatur emosi, menjadi sadar diri, dan menumbuhkan empati dan kasih sayang. Terdapa lima cara brain – based di mana berlatih mindfullness yang dapat membantu seseorang memiliki hubungan yang lebih bahagia:
- Mindfullness membantu seseorang menjadi lebih hadir dan penuh perhatian.
Sebagian besar dari kita tahu betapa frustrasinya mencoba berbicara dengan pasangan yang terus – menerus memeriksa pesan atau perhatiannya yang selalu pada kekhawatiran. Mindfullness mengubah pikiran dalam kepala yang terkait dengan mengarahkan perhatian dan fokus. Oleh karena itu, perhatian dapat membantu memperhatikan ketika berada di pikiran yang tidak terarah dan mengalihkan perhatian ke apa pun yang dikatakan pasangan atau apa yang mungkin mereka rasakan dan butuhkan. Ini dapat membantu kita menjadi lebih mencintai dan hadir dalam hubungan tersebut, yang membangun keintiman dan membuat hubungan lebih bahagia dan lebih terhubung.
- Mindfullness menurunkan reaktivitas emosional negatif.
Studi mindfullness menunjukkan bahwa berlatih mindfulness selama 8 – 10 minggu mengubah area regulasi emosi otak. Amigdala adalah bagian kecil berbentuk almond dari otak tengah yang mengusai otak ke mode “melawan” di mana kita mulai melihat pasangan kita sebagai ancaman terhadap kesejahteraan atau otonomi kita dan secara otomatis ditutup secara emosional atau mulai menyerang mereka dengan kata-kata dan perbuatan marah. Mindfullness mengecilkan volume amigdala, yang berarti bahwa ia memiliki lebih sedikit kekuatan untuk menguasai kita ke mode “ancaman”. Hal ini dapat membantu pasangan keluar dari siklus negatif perdebatan.
- Mindfulness meningkatkan regulasi emosi.
Penelitian menunjukkan bahwa latihan mindfulness memperkuat korteks prefrontal dan meningkatkan konektivitas antara korteks prefrontal dan amigdala. Korteks prefrontal adalah pusat eksekutif otak dan dapat mengirim pesan ke amigdala yang mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja dan dapat mendinginkan dan menghentikan respons “melawan”.
- Mindfulness meningkatkan kesadaran diri.
Mindfulness mengarah pada perubahan pada korteks cingulate anterior, yang terkait dengan rasa pengaturan diri dan emosi kita. Oleh karena itu mindfulness dapat membantu kita mengamati ketika kita bertindak dengan cara yang tidak sehat dan mengalihkan perhatian kembali ke bagaimana kita ingin bertindak dan apa nilai-nilai inti kita. Ini dapat membantu kita menahan dorongan untuk bertindak merusak atau manipulatif.
- Mindfullness membuat kita lebih berempati.
Mindfulness juga mengubah insula, bagian dari otak yang terkait dengan empati dan kasih sayang. Ini dapat membantu kita lebih memahami perspektif dan emosi pasangan kita dan merasa lebih berbelas kasih kepada mereka. Ketika kita mendekati pasangan kita dengan penuh kasih sayang, bukan dengan kemarahan dan keinginan untuk mengendalikan mereka, ini dapat membawa percakapan ke arah yang positif. Welas asih juga membantu kita mengekspresikan cinta dan kehangatan kepada pasangan kita, yang membangun keintiman. Mindfulness menciptakan pendekatan, bukan pola pikir penghindaran.
References:
Sumber Gambar: https://www.mindfulschools.org/what-is-mindfulness/
Greenberg, Melanie. (2017). Five Ways Mindfulness Makes Your Relationship Happier. https://www.psychologytoday.com/us/blog/the-mindful-self-express/201706/five-ways-mindfulness-makes-your-relationship-happier
Sipe, W. E., & Eisendrath, S. J. (2012). Mindfulness-based cognitive therapy: theory and practice. The Canadian Journal of Psychiatry, 57(2), 63-69.
Today, Psychology. Mindfulness. https://www.psychologytoday.com/intl/basics/mindfulness