Spotlight effect merupakan suatu kecenderungan dimana individu melihat dirinya sebagai pusat perhatian, sehingga secara intuitif individu melebih-lebihkan adanya perhatian dari orang lain terhadap dirinya. Thomas Gilovich, Victoria Medvec, dan Kenneth Savitsky (2000, dalam Myers 2012) melakukan penelitian terkait spotlight effect pada mahasiswa cornell university dengan meminta mahasiswa mengenakan baju yang memalukan sebelum memasuki ruang kelas. Si pemakai kaos menebak bahwa hampir separuh teman-temannya akan memperhatikan kaos tersebut. Namun, kenyataannya hanya 23% yang memperhatikan. Hal ini menunjukkan bahwa ternyata lebih sedikit orang yang memperhatikan kita daripada yang kita sangka.
Spotlight effect dapat terjadi karena adanya bias kognitif atau kesalahan dalam penalaran. Individu biasanya menafsirkan pengalaman mereka berdasarkan konteks apa yang sudah mereka ketahui dan pikirkan. Hal ini sering menghasilkan pengamatan yang tidak sepenuhnya akurat. Individu memperhatikan apa yang mereka anggap penting, dan mereka yakin orang lain melihat hal-hal ini dengan cara yang sama. Sehingga banyak orang yang tidak menyadari bahwa persepsi mereka bias. Dalam dunia individu, mereka menjadi pusat dan prioritas. Namun, di dunia orang lain, mereka memprioritaskan informasi yang paling penting bagi mereka (Raypole, 2020).
Mempercayai bahwa orang lain memperhatikan seseorang dapat menjadi sumber stress dan kecemasan yang signifikan. Selain itu, dapat membuat kinerja seseorang terganggu, memicu perasaan yang tidak diinginkan, dan menggagalkan pengejaran tujuan seseorang (Macrae et al., 2016). Semua orang sangat fokus terhadap diri mereka, tindakan mereka, dan penampilan mereka sehingga mereka percaya bahwa semua orang juga merasakan hal yang sama. Menyadari adanya spotlight effect dapat membantu mengurangi kegugupan atau rasa malu dalam situasi sosial. Jika individu telah mencapai titik di mana individu menyadari bahwa tidak ada orang yang benar-benar memperhatikan mereka, maka berhentilah untuk terlalu mengkhawatirkannya (Cuncic, 2021). Selain itu, cobalah untuk bersikap santai dan tenang karena spotlight effect tidak selalu berhubungan dengan kesalahan publik (Raypole, 2020)
Merupakan suatu hal yang normal jika individu menganggap dirinya sebagai pusat dunia. Namun terkadang, persepsi ini dapat membuat orang lain seolah-olah menghabiskan banyak waktu untuk mempertimbangkan tindakan individu. Kekhawatiran yang berlebihan tentang bagaimana orang lain memandang individu dapat membuat mereka sulit untuk berbicara di depan umum, menawarkan ide di tempat kerja, dan mencegah individu mengejar minat lain (Raypole, 2020)
Semoga bermanfaatt!!
Sumber Gambar: https://www.manipalthetalk.org/miscellaneous/psychology-series-the-spotlight-effect/
Referensi:
Cuncic, A. (2021, June 25). The Spotlight Effect and Social Anxiety. https://www.verywellmind.com/what-is-the-spotlight-effect-3024470
Macrae, C. N., Mitchell, J. P., McNamara, D. L., Golubickis, M., Andreou, K., Møller, S., Peytcheva, K., Falben, J. K., & Christian, B. M. (2016). Noticing Future Me: Reducing Egocentrism Through Mental Imagery. Personality and Social Psychology Bulletin, 42(7), 855–863. https://doi.org/10.1177/0146167216644961
Myers, David. (2012). Psikologi Sosial. Jakarta: Salemba Humanika
Raypole, C. (2020, July 30). Always Feeling Self-Conscious? Here’s Why You Shouldn’t, According to Science. https://www.healthline.com/health/mental-health/spotlight-effect#causes