Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Aku Tidak Ingin Terlibat Dengan Kehidupan Orang Lain

Emotional detachment dapat didefinisikan sebagai ketidakmampuan atau keengganan individu untuk berhubungan dengan kehidupan emosional orang lain. Emotional detachment dapat membantu jika individu menggunakannya dengan sengaja. Individu dapat menetapkan batasan dengan orang atau kelompok tertentu, sehingga membantu individu tetap berada jauh dari orang-orang yang menuntut banyak perhatian emosional mereka (Holland, 2019). Emotional detachment juga dapat melindungi individu dari perasaan stres, sakit hati, dan kecemasan. Terkadang, emotional detachment juga dapat dijadikan sebagai mekanisme koping ketika individu dihadapkan pada situasi yang stress atau sulit (Cherry, 2021).

Namun, emotional detachment dapat berbahaya jika individu tidak mengontrolnya. Individu mungkin merasa “mati rasa” atau “muted“. Hal ini dikenal sebagai penumpulan emosi, dan biasanya merupakan gejala atau masalah yang harus ditangani oleh para ahli. Orang yang mengalami emotional detachment memiliki mobirditas dan tingkat mortalitas yang tinggi, depresi dan kecemasan yang sering, dan penyalahgunaan zat (Reid et al., 2020). Dilansir dari website healthline, tanda-tanda seseorang mengalami emotional detachment adalah (Holland, 2019):

  • Kesulitan untuk menciptakan atau mempertahankan hubungan personal
  • Kurangnya perhatian, atau tampak sibuk ketika berada di sekitar orang lain
  • Sulit untuk mencintai atau menyayangi anggota keluarga
  • Menghindari orang, aktivitas, atau tempat yang berkaitan dengan trauma atau peristiwa masa lalu
  • Berkurangnya kemampuan untuk mengekspresikan emosi
  • Kesulitan berempati dengan perasaan orang lain
  • Tidak mudah berbagi emosi atau perasaan
  • Sulit berkomitmen pada orang lain atau hubungan
  • Tidak menjadikan orang lain sebagai prioritas ketika mereka seharusnya menjadi prioritas

Emotional detachment dapat terjadi karena beberapa orang memilih untuk menjauh dari situasi atau seseorang yang mengganggu. Dengan menjauh dan tidak terlibat dapat membuat seseorang tetap tenang dan cool. Namun, emotional detachment juga dapat terjadi karena adanya riwayat pengalaman pelecehan, pengabaian, atau traumatis selama masa anak-anak. Hal ini menyebabkan mereka menggunakan emotional detachment sebagai sarana untuk bertahan hidup (Holland, 2019).

Meskipun emotional detachment bukanlah penyebab utama gangguan mental seperti bipolar atau depresi, tetapi seringkali dianggap sebagai salah satu gejala dari gangguan mental seperti personality disorder, attachment disorder, dan sindrom Asperger (Holland, 2019). Oleh karena itu, penting bagi individu untuk memutuskan kapan dan bagaimana individu mengakhiri emotional detachment sebelum berubah menjadi tidak terkendali dan menjadikannya sebagai gejala gangguan mental.

 

Semoga Bermanfaatt!!!

 

Sumber Gambar: https://www.keen.com/articles/spiritual/emotional-detachment-can-be-good-for-you

REFERENSI:

Cherry, K. (2021, April 25). Emotional Detachment: Definition, Symptoms, Causes, Treatments. https://www.verywellmind.com/what-is-emotional-detachment-5121166

Holland, K. (2019). Emotional Detachment: What It Is and How To Overcome It. https://www.healthline.com/health/mental-health/emotional-detachment

Reid, M., Wilson-Walsh, R., Cartwright, L., & Hammersley, R. (2020). Stuffing down feelings: Bereavement, anxiety and emotional detachment in the life stories of people with eating disorders. Health & Social Care in the Community, 28(3), 979–987. https://doi.org/10.1111/HSC.12930

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *