Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Memahami Cancel Culture dan Dampaknya

Halo Sobat Psike! Jika kamu merupakan seorang penggemar KPop atau KDrama, mungkin akhir-akhir ini kamu mengikuti berita tentang seorang aktor yang didepak oleh publik dari industri hiburan akibat skandal yang menimpanya. Aktor tersebut diketahui baru populer setahun belakangan, namun namanya langsung tercoreng disebabkan oleh skandal. Selain aktor yang sedang hangat dibicarakan, beberapa pekerja seni Korea Selatan lainnya juga sudah pernah merasakan didepak dari dunia entertainment Korea Selatan, seperti Jung Joon Young, Seungri ex Bigbang, Jisoo, Lee Jonghyun ex CNBLUE, dan sebagainya. Karya yang telah mereka berikan langsung hilang begitu saja setelah skandal yang tidak dapat dimaafkan oleh publik.

Seperti yang kita tahu bahwa Korea Selatan sangat kental dengan cancel culture yang tidak pandang bulu terhadap siapapun. Para pekerja seni dituntut untuk memberikan citra yang baik dan terpuji dihadapan publik, sehingga ketika publik tahu perilaku yang mereka lakukan di belakang layar, publik tidak segan-segan untuk menghukum dengan memberikan sanksi sosial berupa pengucilan dan depakan dari industri hiburan. Sebenarnya, apa yang dimaksud dengan cancel culture ini? Simak terus artikel ini ya!

Definisi Cancel Culture

Cancel culture merupakan praktik populer untuk menarik dukungan (membatalkan) tokoh masyarakat dan perusahaan setelah mereka melakukan atau mengatakan sesuatu yang dianggap tidak pantas atau menyinggung. Cancel culture umumnya dibahas sebagai dilakukan di media sosial dalam bentuk mempermalukan publik figur.

Selain menarik dukungan, publik biasanya melakukan online shaming atau mempermalukan online sebagai kontrol sosial, dengan cara main hakim sendiri, bullying, intimidasi, dan gosip. Hal ini dilakukan untuk mempermalukan individu yang terlibat dalam perilaku yang dianggap tidak pantas.

Siapa yang Dapat Melakukan Cancelling? 

Cancelling membutuhkan orang yang membatalkan untuk terlibat dalam tiga proses psikologis:

  • Untuk mengidentifikasi atau menyadari pelanggaran dan menilainya secara signifikan
  • Untuk mengalami emosi negatif yang kuat
  • Untuk bertindak secara menghukum dan terlihat jelas untuk menyakiti si pelanggar

Orang-orang yang mengalami proses ini biasanya merupakan korban dari perilaku individu tersebut, penggemar, serta organisasi yang berkaitan dengan individu yang melakukan perilaku tersebut.

Dampak Psikologis dari Cancel Culture

Cancel culture ini memberikan dampak baik bagi yang melakukan dan bagi yang menerima cancelling.

Dampak Bagi yang Menerima Cancelling (the cancelled) 

Bagi penerima cancelling, cancel culture ini sama dengan bullying, jika seseorang menerima cancelling, hal itu bisa membuat individu tersebut merasa dikucilkan, terisolasi secara sosial, dan kesepian.  Dan penelitian menunjukkan bahwa kesepian dikaitkan dengan kecemasan, depresi, dan tingkat bunuh diri yang lebih tinggi. Tidak jarang, banyak selebriti Korea Selatan yang melakukan bunuh diri akibat tidak mampu menahan tekanan dari publik.

Bagi yang Melakukan Cancelling (the canceller)

Mengcancel seseorang yang menyinggung tidak benar-benar membuat mereka pergi. Dan jika kita tidak memiliki hubungan dekat dengan mereka, mempermalukan seseorang di depan umum tidak mungkin mengubah mereka. Bisa jadi hal tersebut membuat mereka semakin tertantang (seringkali untuk mempertahankan ego dan reputasi mereka), sedangkan kita yang berusaha menyingkirkan mereka akan semakin stress.

Ternyata, dampak cancel culture juga tidak hanya dirasakan oleh cancelled dan canceller, tetapi juga dirasakan oleh bystander atau orang yang menonton. Setelah melihat begitu banyak orang dibatalkan, beberapa orang yang hanya menonton bisa diliputi ketakutan. Mereka mungkin menjadi kewalahan dengan kecemasan bahwa orang-orang akan berpaling dari mereka, serta orang lain akan menemukan sesuatu di masa lalu mereka untuk digunakan melawan mereka. Terlalu banyak membaca atau menonton berita tentang cancel culture juga akan membuat emosi negatif meningkat karena banyaknya informasi negatif yang didapat.

Cara Menjaga Kesehatan Mental dari Fenomena Ini

Sebagai pengguna media sosial, tentunya kita tidak mungkin menghindari berita negatif yang muncul ke dalam media sosial kita. Namun, kita dapat mengelola diri kita sendiri agar mental kita tetap stabil walau banyaknya cancel culture di luar sana, dengan cara berikut ini:

1. Berpikir terlebih dahulu sebelum memposting. Apa yang kita posting bisa saja menjadi boomerang bagi kita di masa depan.

2. Kurangi penggunaan media sosial. Kita tidak dapat memfilter berita yang masuk, tapi kita dapat memfilter diri kita sendiri untuk mengurangi membaca informasi negatif.

3. Selalu berbuat baik kepada orang lain. Kita tidak pernah tahu apa yang akan orang lain lakukan jika kita berbuat jahat kepada mereka. Kita pasti pernah menjadi jahat di cerita hidup orang lain. Oleh karena itu, jika kamu merasa pernah menyakiti seseorang, lebih baik kamu segera meminta maaf walaupun kejadiannya sudah sangat lama.

4. Banyak berbicara dengan orang lain. Menghabiskan waktu dengan orang lain akan membuatmu lupa dengan ponsel dan tidak akan mengecek media sosial. Berbicara dengan orang lain juga akan membuat kita memperluas sudut pandang tentang kehidupan.

Referensi:

Dholakia, U. (2020). What is cancel culture? Retrieved from https://www.psychologytoday.com/intl/blog/the-science-behind-behavior/202007/what-is-cancel-culture.

Saint-Louis, H. (2021). Understanding cancel culture: Normative and unequal sanctioning. First Monday. Retrieved from https://firstmonday.org/ojs/index.php/fm/article/download/10891/10177.

Toler, L. (2021). The mental health effect of cancel culture. Retrieved from https://www.verywellmind.com/the-mental-health-effects-of-cancel-culture-5119201.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *