Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Belajar Dari Meniru Orang Lain

Jika di artikel sebelumnya sudah dibahas mengenai teori belajar behavorisme atau behavioristik, pad artikel ini akan dibahas mengenai ‘anak’ atau salah satu konsep (inputan) dalam teori behavioristik tersebut, yaitu teori Social Learning. Social learning merupakan aliran behaviorsime yang menekankan bagian kognitif dari pikiran, pengalaman, dan evaluasi. Salah satu tokoh yang terkenal dalam memperkenalkan social learning atau teori pembelajaran sosial ini adalah Albert Bandura. Menurut Albert Bandura, belajar sosial adalah orang belajar melalui pengalaman atau pengamatan langsung. Teori yang dikemukakan Bandura bahwa faktor sosial, faktor kognitif serta faktor perilaku memainkan peran penting sebagai interaksi dalam pembelajaran. Faktor lingkungan (sosial) memengaruhi perilaku, perilaku memengaruhi lingkungan, dan faktor kognitif memengaruhi perilaku.

Bandura juga menyatakan bahwa individu belajar banyak melalui peniruan melalui pegamatan terhadap perilaku model. Proses belajar ini disebur observational learning atau pembelajaran melalui pengamatan. Selama observational learning berjalan, seseorang mencoba melakukan tigkah laku yang dilihatnya dan reinforcement/punishment berfungsi sebagai sumber informasi bagi seseorang mengenai tingkah laku mereka. Menurut Bandura (dalam Laura A.King, 2010) terdapat empat tahap dalam proses belajar meniru (modelling) melalui pengamatan dan empat kondisi ini harus selalu ada dalam belajar, yaitu :

  1. Atensi (memerhatikan) : Dalam tahapan ini, seseorang harus memberikan perhatian lebih terhadap model dengan cermat.
  2. Retensi (mengingat) : Kemudian setelah tahapan atensi dilanjut dengan tahapan retensi yaitu tahapan mengingat kembali perilaku yang ditampilkan oleh model yang diamati, maka seseorang perlu memiliki ingatan yang bagus terhaap perilaku model.
  3. Reproduksi : Tahapan ini seseorang yang tekah memberikan perhatian untuk mengamati dengan cerman dan mengingat kembali perilaku yang telah ditampilkan oleh modelnya maka berikutnya adalah mencoba menirukan atau mempraktikakan perilaku yang dilakukan oleh model.
  4. Motivasi : Tahapan berikutnya adalah seseorang harus memiliki motivasi untuk belajar dari model.

Adapun dalam meniru model dibagi lagi kedalam beberapa perilaku peniruan yang berbeda, yaitu :

  • Peniruan langsung

Pembelajaran langsung dikembangkan berdasarkan teori pembelajaran social Albert Bandura. Ciri khas pembelajaran ini adalah adanya modeling, yaitu suatu fase dimana seseorang memodelkan atau mencontohkan sesuatu melalui demonstrasi bagaimana suatu ketrampilan itu dilakukan. Meniru tingkah laku yang ditunjukkan oleh model melalui proses perhatian. Contoh: Meniru gaya penyanyi yang disukai.

  • Peniruan Tak Langsung

Peniruan Tak Langsung adalah melalui imaginasi atau perhatian secara tidak langsung. Contoh: Meniru watak yang dibaca dalam buku, memperhatikan seorang guru mengajarkan rekannya.

  • Peniruan Gabungan

Peniruan jenis ini adalah dengan cara menggabungkan tingkah laku yang berlainan yaitu peniruan langsung dan tidak langsung. Contoh: Pelajar meniru gaya gurunya melukis dan cara mewarnai daripada buku yang dibacanya.

  • Peniruan Sesaat / seketika.

Tingkah laku yang ditiru hanya sesuai untuk situasi tertentu saja.  Contoh: Meniru gaya pakaian di TV, tetapi tidak boleh dipakai di sekolah.

  • Peniruan Berkelanjutan

Tingkah laku yang ditiru boleh ditonjolkan dalam situasi apapun. Contoh: Pelajar meniru gaya bahasa gurunya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *