Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Konformitas sosial: Baik atau Buruk?

Konformitas adalah kecenderungan individu untuk menyelaraskan sikap, keyakinan, dan perilakunya dengan orang-orang di sekitarnya. Konformitas dapat berbentuk tekanan sosial yang nyata atau pengaruh yang tidak disadari secara halus. Terlepas dari bentuknya, itu bisa menjadi kekuatan yang kuat—mampu mengubah perilaku kelompok besar, memulai atau mengakhiri konflik, dan banyak lagi. Maka dari itu, sudah menjadi hal wajar bagi manusia untuk memiliki konformitas sosial agar dapat diterima oleh lingkungan.

Berikut ini beberapa keseharian manusia yang didasari oleh konformitas

1. Mematuhi Peraturan

Manusia hidup berdampingan dengan peraturan. Peraturan merupakan hukum yang mengatur serta mengikat manusia. Misalnya saja saat kita masih bersekolah, kita memakai seragam bahkan warna sepatu yang sama dengan seluruh siswa lain. Disaat ada sebuah tren seperti minuman boba, seketika semua orang membeli maupun membuka usaha minuman boba. Saat lampu merah di jalan raya, semua kendaraan berhenti. Wah tidak disangka ternyata banyak ya?

2. Salam

Salam disini berarti ucapan dan perilaku kita disaat bertemu dengan orang lain. Sedari kecil kita sudah ditanamkan hal ini oleh orangtua kita. Anak-anak yang harus salim dengan orang yang lebih tua. Saat bertemu dengan orang, kita harus tersenyum, memberikan salam, maupun menegur orang yang kita kenal jika tak sengaja bertemu di suatu tempat. Hal tersebut merupakan norma yang manusia lakukan.

3. Antri

Sudah tidak asing kan dengan perilaku ini? Disaat membeli makanan, membeli tiket, hingga ke wc, semua orang mengantri. Perilaku ini dilakukan semua orang karena merupakan aturan yang jika dilanggar akan mendapatkan sanksi.

4. Tren Fashion

Jika ada seorang artis terkenal yang sedang menggunakan baju polkadot maka, semua orang akan berbondong-bondong untuk membeli dan mengenakan baju bermotif polkadot. Jika seseorang yang terkenal memiliki rambut yang keriting, semua orang akan mengeriting rambutnya agar sama dengan manusia lain dan tidak tertinggal tren.

5. Pernikahan

Banyak sekali stigma adanya minimal dan maksimal usia seseorang untuk menikah, memiliki anak, hingga pencapaian hidup lain nya. Nyatanya, tidak ada batasan usia untuk seseorang melakukan pernikahan, bekerja, memiliki anak, memiliki rumah, dan lain sebagainya. Stigma tersebut ada karena lingkungan sosial melakukan semua itu pada usia yang relatif sama sehingga, manusia cenderung tertekan oleh hal ini dan menganggap stigma itu benar bahkan dijadikan sebuah patokan.

Setelah melihat beberapa keseharian kita yang berkaitan dengan konformitas, Apakah konformitas merupakan hal yang baik atau buruk?

Konformitas tidak pasti benar atau pasti salah. Ketika konformitas terjadi karena ketakutan, kepedulian terhadap status sosial seseorang, atau memiliki konsekuensi yang berbahaya, hal itu dapat dilihat sebagai hal yang negatif. Namun, konformitas yang melindungi kesejahteraan kelompok secara keseluruhan—misalnya saling memutuskan untuk menghormati hak milik pribadi—dapat membantu keberhasilan masyarakat.

 

Referensi

https://www.psychologytoday.com/us/basics/conformity

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *