Apakah kalian pernah mendengar istilah white lies? Banyak orang mengatakan bahwa white lies adalah berbohong demi kebaikan. Lalu, apakah itu benar? Mari kita ulas bersama.
White lies merupakan salah satu bentuk dari perilaku berbohong yang orientasinya adalah untuk kebaikan orang lain. Dengan kata lain, kita berbohong untuk menjaga perasaan orang lain, memproteksi diri mereka dari probabilitas tersakiti karena jawaban kita, dan juga untuk menyenangkan orang lain.
Nah, seperti apa saja contoh dari White Lies itu?
Jadi, bagaimana bentuk dari kebohongan putih? Misalnya, orang tua yang memberi janji palsu kepada anak. Biasanya dilakukan saat si anak merengek meminta dibelikan mainan, tapi orang tua enggan menuruti. Dengan janji palsu, orang tua berharap si kecil akan lupa dengan permintaannya.
Contoh kedua, misalnya ketika ada teman ada yang bertanya mengenai penampilannya hari ini, di dalam hati kamu merasa penampilannya kurang bagus namun kamu tetap memujinya dengan kalimat “bagus sekali, cocok!”, hanya untuk menjaga perasaannya.
Contoh ketiga, berbohong kepada teman yang meminta contekan. Kamu mengatakan bahwa belum mengerjakan tugasnya, padahal nyatanya sudah selesai. Hal ini dilakukan agar tugasmu tidak dicontek orang lain.
Lalu, apa yang memotivasi seseorang untuk melakukan white lies?
Para peneliti telah mengeksplorasi lebih jauh apa yang memotivasi orang untuk melakukan perilaku berbohong. Akhirnya, mereka menemukan bahwa hal yang memotivasi seseorang untuk melakukan kebohongan putih adalah karena mereka cenderung dimotivasi oleh empat tekanan. Motivasi pertama, adalah kebijaksanaan. Orang-orang mengatakan kebohongan putih bertujuan untuk bersikap sopan dan menjaga perasaan orang lain agar dianggap bijaksana.
Motivasi lainnya adalah kompensasi psikologis. Artinya, orang mengatakan kebohongan putih dengan tujuan untuk melindungi citra rapuh mereka sendiri.
Alasan ketiga adalah menghormati kekuasaan. Orang cenderung melakukan kebohongan putih kepada mereka yang berkuasa agar dianggap patuh. Seperti contohnya, pekerja yang mengatakan kepada atasannya bahwa mereka senang bekerja lembur, padahal nyatanya tidak.
Motivasi terakhir adalah orang berbohong untuk stabilitas relasional. Kebohongan kecil dianggap dapat membantu orang menghindari konflik dan menjaga keharmonisan suatu hubungan.
Black Lies VS White Lies
Selain white lies, ada pula istilah black lies. Perbedaan utama antara white lies dengan black lies ada di tujuannya.
Kalau white lies merupakan kebohongan dengan tujuan untuk kepentingan orang lain, maka black lies merupakan kebohongan dengan tujuan untuk kepentingan diri sendiri tanpa memikirkan dampaknya untuk orang lain.
Apa saja dampak orang yang berbohong?
Bagi seseorang yang sering mengatakan kebohongan, maka akan susah untuk berhenti dari kebiasaan buruk tersebut. Satu kebohongan akan memunculkan kebohongan lainnya.
Seseorang yang berbohong di dalam dirinya akan muncul rasa was-was yang selalu menghantui. Ia akan merasa takut jika suatu waktu kebohongannya akan diketahui orang lain. Perasaan pun menjadi tak tenang, karena memikirkan hal tersebut, hal ini akan membuat seseorang menjadi tidak fokus yang bisa berdampak pada kualitas tidur, produktifitas kerja, dan sebagainya.
Jadi, apakah white lies diperbolehkan?
Berbohong demi kebaikan, apa pun alasannya, tetaplah merupakan bentuk dari kebohongan. Ketika kamu terlalu sering berbohong demi kebaikan, akan ada konsekuensi yang harus kamu tanggung. Usahakanlah untuk mengatakan kejujuran, walaupun itu menyakitkan. Kamu bisa menyampaikannya dengan pemilihan kata yang tepat.
Referensi:
- Bryant, E. (2008). Real lies, white lies, and gray lies: Towards a typology of deception. Kaleidoscope: A Graduate Journal of Qualitative Communication Research, 7, 23-48.
- Goldman, R. (2021). Is It Ever Okay to Lie?. Diakses pada 13 September 2021 dari https://www.verywellmind.com/is-it-ever-okay-to-lie-5118228
- Hagan, E. (2020). What Is a White Lie?. Diakses pada 13 September 2021 dari https://www.psychologytoday.com/us/blog/the-nature-deception/202010/what-is-white-lie