Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Kenapa Ya Kita Bisa Lupa?

Apakah kamu pernah ketika mau bercerita ke teman soal apa yang kamu alami, tapi ceritanya tersendat karena ada kejadian yang kamu lupakan dan sulit untuk mengingatnya? Atau ketika kamu mau pergi ke kampus namun buku yang perlu kamu bawa malah ketinggalan? Atau kamu malah lupa soal janji bermain bersama teman? Tentunya hal-hal yang disebutkan adalah beberapa kejadian yang sering kali membuat kita frustasi apalagi ketika kita tidak dapat mengingatnya. Tentu kita tahu bahwa fenomena tersebut adalah contoh lupa dalam kehidupan sehari-hari. Lalu mengapa manusia bisa lupa?

Fenomena lupa ini memang menarik dan unik bagi manusia, sehingga seorang psikolog bernama Hermann Ebbinghaus melakukan penelitian ilmiah tentang lupa di tahun 1885. Berdasarkan penelitiannya ini, Ebbinghaus menyimpulkan bahwa lupa terjadi ketika kita sudah mempelajari sesuatu. Ketika kita mengingat atau mempelajari sesuatu yang bermakna maka lupa tidak akan terjadi sangat cepat ataupun sangat lama. Namun pada faktanya lupa atau melupakan sesuatu memang kadang menguntungkan. Seperti lupa soal detail dari pengalaman, orang, ataupun benda yang membantu kita menghindar dari hal yang menyebabkan sakit, duka, ataupun rasa terganggu dari hal yang sepele ataupun tidak berguna.

Lalu mengapa manusia bisa lupa?

Kegagalan Pengkodean

Ketika individu berkata bahwa dia lupa sesuatu, sebenarnya individu tersebut tidak benar-benar lupa hanya saja individu tersebut tidak pernah mengkodekan informasi dari awal informasi tersebut diambil atau dipersepsikan olehnya. Kegagalan pengkodean terjadi ketika informasi tidak pernah dimasukkan ke dalam memori jangka panjang.

Retrieval Failure

Untuk mudahnya adalah kegagalan mengingat kembali (informasi) karena tidak ada petunjuk yang memadai. Penyebabnya ini meliputi masalah informasi dalam simpanan (memori), efek waktu yang bisa saja informasi sudah terlalu lama diambil, alasan untuk mengingat atau melupakan, dan kondisi otak.

Decay

Setiap informasi pasti meninggalkan jejak di otak kita atau biasa disebut dengan memory trace. Namun informasi ini akan hilang jika tidak lama digunakan. Decay atau pembusukan terjadi karena perubahan fisik yang terjadi di otak ketika materi baru dipelajari atau informasi baru diambil dan akan hilang seiring berjalannya waktu.

Namun decay atau pembusukan ini bukanlah sebuah penjelasan lengkap mengapa kita bisa lupa, karena logikanya jika dengan decay terjadi lupa maka individu sulit mengingat informasi baru karena perlu banyak waktu untuk memori lama menjadi busuk. Karena dalam menjelaskan lupa decay ini dirasa belum cukup, maka ada mekanisme lain yang disebut interfensi.

Interfensi

Dalam interfensi, informasi yang kita masukan ke otak sudah terlalu banyak. Hal ini menyebabkan informasi yang satu mengganggu informasi lain; informasi baru mengganggu informasi lama. Jika kita analogikan memori dalam otak adalah rak buku di perpustakaan maka interfensi digambarkan sebagai untuk buku-buku baru harus menyingkirkan terlebih dulu buku lama, sehingga buku lama tidak lagi dapat ditemukan.

Dalam interfensi ini dibagi lagi menjadi dua, yaitu Interfensi Proaktif dan Retroaktif. Untuk mengingat perbedaan dari kedua interfensi ini adalah ingat bahwa interfensi proaktif meningkat seiring berjalannya waktu—masa lalu memengaruhi masa kini, pro berarti “maju dalam waktu”; dan interfensi retroaktif adalah kemunduran waktu, retro “mundur dalam waktu”. Lebih jelasnya mengenai kedua interfensi ini adalah :

  • Interfensi Proaktif : Informasi lama mengganggu informasi baru, atau informasi yang telah dipelajari mengganggu mengingat informasi yang baru. Contohnya kamu mahasiswa psikologi mempelajari teori kepribadian Freud di semester awal lalu semester berikutnya kamu mempelajari teori kepribadian Carl Jung. Pada saat ujian semester bisa saja kamu kesulitan untuk menguraikan teori Jung karena kesamaannya dengan teori Freud
  • Interfensi Retroaktif : Informasi baru mengganggu informasi lama, atau kesulitan mengingat informasi yang sudah dipelajari karena adanya kontak terakhir dengan informasi baru.

 

Fenomena Tip-Of-The-Tongue

Fenomena Tip-Of-The-Tongue atau TOT disebut sebagai “mengingat kembali yang penuh usaha”. Fenomena TOT ini terjadi ketika kita yakin bahwa kita mengetahui sesuatu tapi tidak dapat menemukan hal tersebut dalam memori kita. Di fenomena ini kita biasanya mengingat ciri-ciri dari hal tersebut, seperti huruf pertama pada kata namun kita tidak dapat mengingat katanya. TOT menunjukkan kita tidak menyimpan semua informasi tentang topik atau suatu pengalaman dengan satu cara. Contohnya ketika individu berusaha untuk memikirkan kata tertentu namun yang muncul dalam memori adalah kata bermakna sama dengan yang dicari, namun individu tersebut masih terganggu karena belum menemukan kata yang tepat. TOT menunjukkan bahwa bunyi dari kata terkait dengan memori bahkan jika kata tersebut tidak memiliki makna terkait.

Disfungsi Memori

Disfungsi memori merupakan masalah yang terjadi dalam hal lupa—melupakan. Biasanya hal ini merujuk pada penyakit yang berhubungan dengan otak dan syaraf. Adapun contohnya :

  • Alzheimer : Penyakit yang dicirikan oleh masalah memori yang parah. Diawali dengan melupakan hal yang sederhana misalnya janji dengan seseorang, lalu hilang memori semakin nyata seperti lupa cara mengerjakan tugas sederhana (contoh menggunakan gadget), lalu akan kehilangan kemampuan berbicara, berbahasa, kemunduran fisik bahkan kematian.
  • Amnesia : Hilangnya memori yang terjadi tanpa kesulitan mental yang lain.
  • Amnesia Retrograd : Memori hilang untuk kejadian-kejadian sebelum peristiwa tertentu, biasanya karena kecelakaan; hilangnya memori bagian dari masa lalu. Biasanya memori akan muncul lagi secara bertahap, namun pada kasus tertentu beberapa memori hilang selamanya. Namun memori yang hilang ini merupakan memori selektif.
  • Amnesia Anterograd : Gangguan memori yang memengaruhi kemampuan penyimpanan informasi dan kejadian baru.

 

 

Referensi :

A. King, Laura. (2016). Psikologi Umum : Sebuah Pandangan Apresiatif. Edisi 3, Buku 1. Jakarta : Salemba Humanika.

Feldman, Robert S. (2017). Pengantar Psikologi. Edisi 10, Buku 1. Jakarta : Salemba Humanika.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *