Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Kenapa Kita Harus Berpikir?

Berpikir adalah proses penafsiran otak terhadap stimulus. Dalam berpikir, proses sensasi, persepsi, dan memori kita terlibat. Menurut Paul Mussen dan Mark R. Rosenzweig, berpikir menunjukan berbagai kegiatan yang melibatkan penggunaan konsep dan lambang sebagai pengganti objek dan peristiwa. Untuk apa kita berpikir? Berpikir dilakukan untuk memahami realitas dalam mengambil keputusan, memecahkan masalah, dan berpikir kreatif atau menghasilkan sesuatu yang baru. Memahami realitas berarti menarik kesimpulan, meneliti berbagai kemungkinan ari realitas eksternal dan internal; dari itulah Anita Taylor mendefinisikan dengan singkat bahwa berpikir sebagai proses penarikan kesimpulan.

Sekarang ayo kita pelajari bagian-bagian untuk memahami realitas dalam berpikir

a. Mengambil/ Menetapkan Keputusan (Decision Making) 

Salah satu fungsi berpikir adalah menetapkan keputusan. Setia keputusan yang diambil akan disusul oleh keputusan-keputusan lain yang bersangkutan. Keputusan yang kita ambil beraneka ragam, akan tetapi terdapat tanda-tanda umum, yaitu : 1) keputusan merupakan hasil berpikir, 2) keputusan selalu melibatkan pilihan dari berbagai alternatif, 3) keputusan selalu melibatkan tindakan nyata walaupun pelaksanannya ditunda atau dilupakan. Faktor personal seperti kognitif (kualitas dan kuantitas ilmu pengetahuan), motif, dan sikap sangat menentukan apa yang kita putuskan.

b. Memecahkan Masalah (Problem Solving)

Pada umumnya terdapat 5 proses atau tahap untuk memecahkan masalah walaupun dalam berjalannya tidak selalu melalui tahapan ini, yaitu :
1. Terjadi peristiwa ketika perilaku yang biasa dilakukan terhambat karena sebab tertentu. Contohnya jika laptop bekerja lambat, kita me-refreshnya. Namun apabila cara ini gagal maka masalah akan timbul.
2. Kita mencoba menggali memori untuk mengetahui cara yang efektif di masa lalu
3. Mencoba seluruh kemungkinan pemecahan masalah yang diingat atau yang dapat dipikirkan. Disebut sebagai penyelesaian mekanis dengan uji coba (trial and error).
4. Menggunakan lambang-lambang verbal atau grafis untuk mengatasi masalah.
5. Terlintas dalam pikiran sebuah pemecahan masalah. Disebut sebagai insight solution.

c. Berpikir Kreatif (Creative Thinking) 

Berpikir kreatif memiliki 3 syarat yaitu : 1) kreativitas melibatkan respons atau gagasan yang baru atau jarang terjadi, 2) dapat memecahkan masalah secara realistis, 3) merupakan usaha untuk mempertahankan insight yang original, menilai, dan mengembangkannya sebaik mungkin. Ketika kita berpikir kreatif, jenis berpikir analogis adalah yang paling sering digunakan, dan pola berpikir divergen yaitu yang menghasilkan sejumlah kemungkinan jawaban.

 

Bagaimana kita berpikir?
– Berpikir Analogis : Individu menggunakan perbandingan atau kontras dalam berpikir. Faktanya berpikir analogis yang tidak logis adalah hal yang paling sering individu lakukan dalam menetapkan keputusan, memecahkan masalah, ataupun mengutarakan ide.

– Berpikir Autistik : Individu ‘melarikan diri’ dari kenyataan dan melihat hiduo sebagai gambar-gambar fatantis. Contohnya adalah melamun atau berkhayal, berfantasi, dan wishful thinking.

– Berpikir Realistik : Disebut juga nalar (reasoning), yaitu berpikir untuk menyesuaikan diri dengan dunia nyata. Floyd menjelaskan tiga macam berpikir realistik, yaitu :
1. Berpikir deduktif
Yaitu mengambil kesimpulan dari dua pernyataan dimana sau pernyataan merupakan pernyataan umum. Dapat dirumuskan menjadi “Jika A benar, B benar, maka C akan terjadi”. Kita berpikir mulai dari hal umum lalu ke hal khusus. Contohnya adalah :
Hewan mamalia melahirkan
Orangutan adalah mamalia
Maka, orangutan melahirkan

2. Berpikir induktif
Dimulai dari berpikir mengenai hal khusus lalu ke hal atau kesimpulan umum. Kita melakukan generalisasi. Ketepatan berpikir induktif bergantung pada hal yang menjadi dasar. Contohnya adalah :
Saya bertemu dengan Rizky
Rizky mahasiswa sastra dan bahasa Inggris
Rizky fasih berbahasa Inggris;

Ketika saya bertemu dengan mahasiswa sastra dan bahasa Inggris lain, saya menyimpulkan bahwa mahasiswa sastra dan bahasa Inggris fasih berbahasa Inggris.

3. Berpikir evaluatif
Yaitu berpikir kritis. Kita menilai baik-buruk, tepat atau tidaknya suatu gagasa, ide, maupun argumen. Bagaimana cara kita menilainya, terdapat kriteria tertentu, baik dari nilai dna norma yang kita pegang ataupun dari ilmu serta pengalaman yang kita miliki.

 

Referensi :
Rakhmat, Jalaluddin. (2018). PSIKOLOGI KOMUNIKASI. Bandung : PT REMAJA ROSDAKARYA.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *