Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Kenali Bahaya Self Diagnosis!

Era modern seperti sekarang saat penggunaan teknologi sudah menjalar pada semua bidang kehidupan, tidak terkecuali kesehatan terutama kesehatan mental. Ada lebih dari 200 jenis gangguan mental yang dikenali, mulai dari depresi, gangguan kecemasan, skizofrenia hingga PTSD yang gejalanya bisa tumpang tindih satu sama lain. Kemudahan akses informasi melalui internet sedikit banyak telah mempengaruhi individu untuk melakukan riset tentang apa yang sedang ia rasakan atau keluhkan. Sekarang kita bisa dengan mudahnya membuka Google lalu mengetik gejala yang kita rasakan dan hasilnya akan keluar kurang dari hitungan detik. Kita mulai membaca kemungkinan penyakit yang kita derita dan melakukan ‘cocoklogi’ dengan hasil pencarian Google. Namun, tanpa kita sadari mencari jawaban diinternet justru dapat memperburuk kondisi kita, baik secara fisik maupun psikis.

Apa itu Self Diagnosis?

Self diagnosis adalah proses mendiagnosis atau mengidentifikasi suatu kondisi medis dalam diri seseorang yang dilakukan sendiri tanpa bantuan tenaga profesional. Sebagian orang mencari gejala atau tanda kesehatan di Google dan mencoba mencari tahu apakah mereka memiliki suatu penyakit atau gangguan tertentu. Seringkali hasil self diagnosis salah dan dapat menyesatkan orang sehingga melakukan self diagnosis sangat tidak dianjurkan.

Mengapa Self Diagnosis Tidak Boleh Dilakukan?

Self diagnosis tidak hanya salah, tetapi juga bisa berbahaya. Jika seseorang langsung mengambil kesimpulan tentang kondisi yang deritanya, maka pengobatan yang ia lakukan juga bisa salah. Ketika individu mendiagnosis gejala psikologis yang ada pada dirinya, ada kemungkinan ia mengabaikan penyakit medis yang berkontribusi pada gejala yang ia rasakan. Self diagnosis juga berisiko menimbulkan salah paham tentang suatu penyakit atau gangguan, terutama jika gejala yang dirasakan masih gejala umum.

Dalam beberapa kasus, diagnosis diri dapat mengancam jiwa. Misalnya gangguan panik, selain merupakan gangguan psikologis, tetapi tidak menutup kemungkinan akan terhubung dengan penyakit kesehatan fisik, seperti masalah jantung atau tiroid. Contoh lain adalah jika kita mengalami gejala umum seperti sakit kepala, lalu kita mencoba mendiagnosis diri melalui hasil pencarian Google yang menunjukkan tumor otak hingga dehidrasi. Self diagnosis adalah tindakan yang salah dan merupakan praktik yang berbahaya. Kalau kamu mengalami gejala yang mengkhawatirkan segera hubungi dokter daripada mencari jawaban di internet.

Sebuah studi yang dilakukan Pew Research Center menemukan bahwa hanya sekitar setengah dari orang yang mencari informasi secara online mengonsultasikan hasil temuan mereka dengan profesional kesehatan, seperti dokter atau psikolog. Dalam banyak kasus, individu percaya apa yang mereka temukan dari internet, sering kali bertindak tanpa berkonsultasi dengan profesional kesehatan.

Alasan mengapa self diagnosis adalah tindakan yang buruk adalah karena internet dirancang berdasarkan hal kata kunci dan algoritma. Mesin pencarian internet sering memberikan informasi tentang kemungkinan beberapa penyakit yang parah terlebih dahulu. Misalnya, sebuah penelitian yang dilakukan oleh Microsoft menemukan bahwa ketika mencari kata kunci “gejala sakit kepala”, maka akan muncul “tumor otak” padahal gejala sakit kepala juga bisa disebabkan oleh “penarikan konsumsi kafein”. Studi ini adalah yang pertama dari jenisnya yang meneliti istilah “cyberchondria” yang mengacu pada tindakan menarik kesimpulan saat seseorang meneliti hal-hal yang berhubungan dengan kesehatan secara online.

Bisakah Melakukan Self Diagnosis untuk Kesehatan Mental?

Menyadari pentingnya kesehatan mental dan berusaha menambah wawasan adalah hal yang baik, tetapi jangan sampai kita justru melakukan self diagnosis. Untuk bisa mencapai suatu diagnosis dibutuhkan proses yang kompleks, terutama ketika seseorang menunjukkan gejala yang terkait dengan berbagai penyakit mental. Misalnya ada seseorang yang menunjukkan gejala depresi dan memiliki masalah kurang perhatian dan kurang tidur. Ia bisa saja berpikir kalau ia mengalami depresi berat, ADHD, dan gangguan tidur. Namun, ia tidak tahu kalau depresi dapat menyebabkan ketiga gejala di atas. Ini berarti ia dapat memperburuk keadaan karena mengkhawatirkan sesuatu yang berlebihan atau mencoba mengobati gejala yang sebenarnya tidak ia alami.

Ketika self diagnosis yang kita lakukan salah, besar kemungkinan pengobatan atau perawatan yang kita lakukan juga salah. Kita mungkin akan mencoba cara-cara yang ada di internet, seperti melakukan diet, mengonsumsi obat-obatan yang dijual bebas, atau metode lain yang berpotensi memperburuk kondisi yang sebenarnya. Jika kita mengatasi gejala tertentu, tetapi mengabaikan sumber gejala yang mendasarinya maka akan memperburuk kondisi mental kita.

Memperhatikan kesehatan dengan serius dan secara aktif mencari jawaban ketika merasakan sesuatu yang tidak normal adalah hal yang penting. Ada banyak sumber bacaan online yang bagus, ada juga banyak konten yang menyesatkan. Ketika self diagnosis mengarah pada pengobatan sendiri, maka kemungkinan tidak hanya memperburuk kondisi saat ini tetapi juga mempersulit pengobatan di kemudian hari. Jika kamu mencari jawaban secara online dan merasa seolah-olah telah menemukan diagnosis potensial, pergilah ke seorang profesional untuk mengonfirmasi temuanmu. Dengan begitu kamu bisa mengetahui sumber, gejala, dan pengobatan yang tepat.

Mengapa Kita Harus Berkonsultasi dengan Profesional untuk Mendiagnosis Gangguan Mental?

Langkah pertama untuk menyembuhkan kondisi medis apa pun, baik mental, fisik, atau keduanya adalah diagnosis formal dari profesional. Diagnosis profesional akan memberi peta jalan yang diperlukan untuk berhasil mencapai kesehatan yang optimal. Fasilitas kesehatan mental profesional, dapat membantu kita membuat rencana perawatan yang benar-benar sesuai kebutuhan.

Diagnosis adalah salah satu aspek terpenting dari rencana pemulihan seseorang. Memahami diagnosis berarti memahami penyebab penyakit. Langkah ini adalah bagian penting, tetapi mendapayt diagnosis yang benar adalah sebuah proses  terutama jika seseorang mengalami gejala yang kompleks. Menemui dengan profesional kesehatan mental dapat membantu kamu menentukan diagnosis yang tepat. Profesional kesehatan mental akan menawarkan pengetahuan dan pelatihan yang diperlukan untuk mencapai diagnosis yang lebih pasti.

Untuk dapat berperan aktif dalam proses pengobatan, maka kita harus berkomunikasi dan bertukar informasi dengan jelas. Saat kita mencari bantuan pada profesional kesehatan mental, tetap perhatikan apa hal yang kita khawatirkan, bagaimana gejala yang kita rasakan memengaruhi kehidupan sehari-hari, dan kesimpulan dari penelitian atau pengalaman yang telah kita. Dengan begitu, profesional kesehatan mental dapat mengeksplorasi berbagai kemungkinan terkait kondisi kesehatan mental kita.

Referensi:

MentalHealth.net. (n.d.). Diagnosis vs. Self-Diagnosis. Retrieved October 16, 2021, from https://www.mentalhelp.net/self-help/diagnosis-vs-self-diagnosis/

Thatcher, T. (2021, January 12). Dangers of Self Diagnoses | Guidance & Support. Highland Springs. Retrieved October 16, 2021, from https://highlandspringsclinic.org/blog/dangers-of-self-diagnoses/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *