Apakah Anda termasuk orang yang sering bekerja dibawah tekanan (works under pressure)? Terdapat beberapa perusahaan atau tempat kerja yang menuntut seseorang untuk mampu bekerja dibawah tekanan. Tidak hanya karyawan atau pekerja, tetapi kalangan siswa ataupun mahasiswa dapat mengalami hal tersebut (berada dibawah tekanan). Tekanan tersebut bisa jadi adalah tekanan ketaatan dan tekanan anggaran waktu. Dimana tekanan ketaatan adalah sebuah tekanan yang dihasil ketika individu mendapatkan perintah langsung oleh individu lain. Sedangkan, ketaatan anggaran waktu adalah sebuah tekanan yang menuntut individu untuk melakukan kegiatan dengan efisiensi terhadap waktu yang telah ditetapkan. Definisi tekanan ketaatan dan anggaran waktu ini, sesuai dengan definisi yang dijelaskan oleh Riza Anggraeni Rosadi (2017) pada jurnalnya yang berjudul PENGARUH GENDER, TEKANAN KETAATAN, TEKANAN ANGGARAN WAKTU DAN PENGALAMAN AUDIT TERHADAP AUDIT JUDGEMENT. Dan terdapat hasil penelitian yang dilakukan oleh Ella Marliani Pertiwi, dkk. pada jurnalnya yang berjudul HUBUNGAN ANTARA BEBAN KERJA MENTAL DENGAN STRESS KERJA DOSEN DI SUATU FAKULTAS, hasilnya menunjukkan bahwa beban kerja dapat berpotensi atau memicu stress di tempat kerja. Bekerja dibawah tekanan untuk mencapai target yang telah ditentukan adalah sebuah stressor (penyebab stress) yang dapat menimbulkan penyakit (illness) dan menurunnya produktivitas kerja.
Adanya hasil penelitian tersebut atau mungkin Anda pernah mengalaminya, bahwa stressor seperti beban – beban yang ada di sekitar lingkungan Anda, contohnya beban kerjaan, beban kuliah ataupun sekolah, ataupun hingga beban rumah tangga yang dimana sangat memungkinkan dapat mengalami stress. Dan stress inilah yang bisa memicu penyakit (illness) fisik. Penyakit fisik tersebut dapat menimbulkan nyeri yang disebut nyeri psikogenik. Menurut Long B.C yang dikutip oleh Kiki Izzah Tazkiyah, dkk. (2014) pada jurnalnya yang berjudul PENGARUH TEKNIK MASSAGE TERHADAP PENGURANGAN NYERI PERSALINAN KALA I FASE AKTIF, bahwa nyeri psikogenik merupakan nyeri yang diklasifikasikan pada lokasi serangan, yang memiliki definisi nyeri psikogenik adalah nyeri yang tidak diketahui penyebab fisiologisnya. Jadi, dimana penyakit atau rasa nyeri yang dirasakan jika diperiksa secara medis (pergi ke dokter) bahwa hasilnya tidak ditemukan penyebab spesifik di tubuh atau bagian yang sakit atau nyeri tersebut. Dan kondisi itu disebut dengan “psikosomatis”. Psikosomatis adalah bahasa yang berasal dari Bahasa Yunani yang terdiri dari dua kata yaitu “psyche” artinya psikis dan “soma” artinya badan. Dan menurut Salvatore Settineri, dkk (2019) pada jurnalnya yang berjudul EMOTIONAL SUPPRESSION AND ONEIRIC EXPRESSION IN PSYCHOSOMATIC DISORDERS: EARLY MANIFESTATIONS IN EMERGING ADULTHOOD AND YOUNG PASIENTS, bahwa “psychosomatic illness is a substitute and following concomitant during emotional states and that’s emotional states of anxiety, guilt, depression, anger, and fear”. Jadi, dapat disimpulkan bahwa psikosomatik adalah suatu kondisi ketika mengalami atau merasakan sakit pada tubuh (soma) karena diakibatkan pikiran dan emosi yang sangat tinggi dan dalam sebuah kondisi yang tertekan (psyche). Dan semua orang bisa mengalami gangguan psikosomatis tergantung pada tingkat keparahan yang berbeda pada setiap individu. Hal tersebut seperti yang dikatakan Bollas yang dikutip oleh Ellisabeth von Essen (2021) pada jurnalnya yang berjudul YOUNG ADULTS’ TRANSITION TO A PLANT-BASED DIET AS A PSYCHOSOMATIC PROCESS: A PSYCHOANALYTICALLY INFORMED PERSPECTIVE, bahwa “there may also be psychosomatic processes where different qualities are projected onto the body.”
Gangguan psikosomatis ini bisa terjadi atau dirasakan pada beberapa organ kita. Dan menurut Ahmad Zain Sarnoto (2016) pada jurnalnya yang berjudul PSIKOSOMATIS DAN PENDEKATAN PSIKOLOGIS BERBASIS AL – QUR’AN, mengatakan bahwa gangguan psikosomatis dapat dikelompokkan menjadi empat menurut organ yang terkena:
- Gangguan kulit, seperti: hyperhidrosis (kulit kering) dan neurodermatitis.
- Gangguan pernafasan, seperti: asma bronchial, hiperventilasi atau bernafas yang cepat dan bisa menimbulkan pingsan.
- Gangguan kardiovaskuler, seperti: migraine dan hipertensi atau tekanan darah tinggi.
- Gangguan gastrointestinal, seperti: luka lambung.
Dari pernyataan tersebut, dapat diamati atau mungkin Anda juga pernah merasakannya bahwa saat dituntut untuk bekerja dibawah tekanan karena adanya deadline yang akhirnya mengharuskan Anda untuk menyelesaikannya sesuai deadline, hingga berujung Anda menfotsir diri Anda sendiri. Dan Anda pada saat dan/atau selesai mengerjakan tugas kemungkinan bisa merasakan fisik tidak baik – baik saja, seperti merasakan migraine atau sakit kepala yang berat; pegal di daerah leher, bahu, pinggang, dan bisa maag atau asam lambung yang tinggi. Contohnya lain yang dialami oleh beberapa siswa atau mahasiswa ketika jadwal ujian yang sudah hampir dekat atau pun pada saat hari ujian tiba, bisa mengalami asam lambung tinggi dan pusing yang berat.
Jika dibenak Anda timbul sebuah pertanyaan “Mengapa sih seseorang atau bahkan diri sendiri ini mengalami gangguan psikosomatis? Apa sih penyebab utamanya?”. Jika membicara bicara hal itu atau untuk menjawabnya, sebenernya banyak penyebab atau multifaktor saat membicara psikologis pada individu. Tetapi, salah satu penyebab utama atau dengan melihat banyaknya hasil penelitian yang ada bahwa penyebab utama gangguan psikosomatis adalah stress.
Terdapat penelitian yang dilakukan oleh Susanti pada tahun 2017 yang judul jurnalnya adalah “Tingkat Stress Dan Ketidakstabilan Tekanan Darah Pada Penderita Hipertensi Dewasa Muda”, dengan tujuan dari penelitian tersebut adalah mengetahui seberapa besar tingkat stress dan ketidakstabilan dalam tekanan darah pada penderita hipertensi usia dewasa muda. Dan hasilnya dari penetian tersebut dapat simpulkan bahwa stress dapat berpengaruh terhadap tekanan darah tinggi dan terdapat hubungan antara tingkat stress dengan ketidakstabilan pada dewasa muda. Penelitian lain yaitu dilakukan oleh Fanny Diantri, dkk. pada tahun 2020 dengan judul jurnalnya adalah “Proposi Stress Dan Gejala Psikosomatik Pada Siswa Kelas XII SMA Di Denpasar”, dengan tujuan untuk menghitung sebuah proporsi stress dan gejala psikosomatik, serta mengetahui keluhan dari keduanya secara bersamaan terhadap siswa. Dan hasilnya dapat disimpulkan bahwa siswa yang mengalami stress sebesar 32,2% dan mereka yang mengalami stress tersebut mengalami gejala psikosomatis sebesar 71,6%. Dan 50% subjek penelitian mengalami sepuluh gejala psiksomatis yaitu lelah/kurang bertenaga, nyeri punggung, mual, jerawat, sakit kepala, flu, sakit perut, hilang nafsu makan, berkeringat lebih banyak, dan sakit di kaki lengan atau tungkai.
Dan timbul sebuah pertanyaan tentang “bagaimana bisa sih stress ini kok mempengaruhi fisik kita?”. Jika membicarakan bagaimana bisa stress mempengaruhi fisik atau tubuh kita, maka pembahasannya lebih mengarahkan biologis individu itu sendiri. Ketika individu mengalami stress, maka otak akan mengirimkan sebuah sinyal kepada beberapa organ tubuh yang fungsinya untuk mengeluarkan jenis hormon, yaitu: kortisol, adrenalin dan norepinefrin. Jika hormon – hormon ini tidak seimbang atau meningkat/kebanyakan akan menyebabkan beberapa organ tubuh kerja menjadi lebih keras daripada biasanya. Misalnya: jantung menjadi berdebar lebih cepat, perut terasa bergejolak seakan – akan tubuh menjadi aktif. Ketika stress ini ada dalam jangka waktu yang lama, tubuh akan terus – menerus aktif, sampai pada akhirnya tubuh menyerah dan mungkin dapat menimbulkan sebuah penyakit (illness) yang sebelumnya tidak dirasakan, seperti: demam, asam lambung tinggi, tegang otot, sakit kepada, dan sebagainya. Hal tersebut sesuai dengan yang dikatakan oleh Made Wardhana (2011) pada jurnalnya yang berjudul PSIKONEUROIMUNOLOGI DI BIDANG DERMATOLOGI, bahwa “stressor (penyebab stress) diketahui dapat merangsang sebuah sistem tubuh yang bertujuan untuk memproduksi hormone yang dapat menyebabkan stress utama yaitu glukokortikoid, norepinefrin, serotonin, epinefrin, dopamin, beta endorfin, dan hormone lainnya. Respons dari stress tersebut mengakibatkan atau akan membangkitkan rentetan reaksi yang tujuan atau dalam upaya untuk menjaga homeostasis (menjaga kesimbangan kondisi tubuh)”. Lalu, menurut Ariana Widya Murni (2020), pada jurnalnya berjudul KADAR KORTISOL PLASMA PADA DISPEPSIA FUNGSIONAL DENGAN GANGGUAN PSIKOSOMATIK, mengatakan juga bahwa “Individu yang mengalami gangguan psikosomatik, pada hormon kortisol peningkatannya tidak berdiri sendiri tetapi dipengaruhi oleh stress psikososial yang terjadi, gejala gangguan mood yang dirasakan, dan seberapa kuat kemampuan individu untuk beradaptasi dengan masalahnya tersebut”.
Dan, pertanyaan yang terakhir muncul adalah “bagaimana jika individu sudah mengalami atau terlanjur stress akibat tekanan – tekanan yang ada (stressor)? apa yang harus dilakukan?”. Karena fisik dari setiap individu berbeda dalam menerima stimulus dari luar atau stressor, yaitu pertama yang harus dilakukan adalah dengan cara mengenali ciri – ciri atauj gejala – gejala ketika stress. Misalnya, sulit fokus atau bahkan frustasi dengan pekerjaan yang sedang dilakukan. Setelah itu, kedua mencari sumber stress (stressor) utama. Biasanya sumber stress ada dilingkungan sekitar individu itu sendiri, misalkan adanya tugas pekerjaan, tekanan atasan, dan sebagainya. Dan yang terakhir, mengatasi atau mencari cara untuk melepaskan stress tersebut. Dengan kalimat lain atau pada intinya individu mampu melalukan coping strategies. Menurut Peter D. MacIntyre, dkk. (2020) pada jurnalnya yang berjudul LANGUAGE TEACHERS’ COPING STRATEGIES DURING THE COVID-19 CONVERSION TO ONLINE TEACHING: CORRELATIONS WITH STRESS, WELLBEING AND NEGATIVE EMOTIONS, mengatakan bahwa “….divided coping strategies into emotion – focused and problem – focused strategies”. Dimana emotion – focused (berfokus pada emosi) sebuah usaha untuk mengatasi emosi tersebut atau agar tidak terlalu emosional dalam menghadapi situasi yang stressful, misalnya dengan berbicara kepada teman tentang stressor yang dihadapi. Sedangkan, problem – focused (berfokus pada masalah) sebuah usaha untuk mencari solusi atau melakukan sesuatu yang bertujuan untuk menghilangkan stressor atau setidaknya berkurang, misalnya jika stress karena ujian solusinya adalah belajar, jika stress karena akan ada interview kerja solusinya adalah latihan interview kerja, jika stress karena adanya masalah dengan pasangan solusinya adalah dengan membicarakan masalah tersebut dengan pasangan.
Pada intinya, bahwa seseorang yang selalu atau sering bekerja dibawah tekanan dapat menimbulkan dampak yang negatif terhadap dirinya sendiri dan tergantung bagaimana individu tersebut dalam menghadapi sebuah tekanan – tekanan yang ada. Jika seseorang tidak dapat menghadapi tekanan – tekenan tersebut, maka akan menimbulkan ketidaksehatan mental pada diri individu seperti stress. Jika seseorang tidak memiliki “mental health” yang baik, bisa akan mempengaruhi pada fisik mereka seperti psikosomatis. Dimana tubuh mempengaruhi pikiran dan pikiran mempengaruhi tubuh (tubuh dan pikiran saling mempengaruhi). Psikosomatis ini lah terjadinya rasa nyeri atau sakit tetapi tidak ada penyebab spesifisik secara medis, sehingga tak jarang membuat orang awam menjadi bingung dan bisa saja mengabaikannya gejala – gejala yang muncul sehingga mempengaruhi terhadap tindakan atau kegiatan yang dilakukan. So, invisible just because you can’t see it doesn’t mean it is not there or it is okay.
REFERENCES
Jurnal Nasional:
Deantri, Fanny., Sawitri, Anak Agung Sagung. (2020). Proposi Stress Dan Gejala Psikosomatik Pada Siswa Kelas XII SMA Di Denpasar. Jurnal Bios Logos, Vol. 10, No 1, 27-33.
Murni, A. W. (2020). Kadar Kortisol Plasma Pada Dispepsia Fungsional Dengan Gangguan Psikosomatik. Jurnal Penyakit Dalam Indonesia, Vol. 7, No. 1, 15-21.
Pertiwi, Ella Marliani., Denny, Hanifa Maher., Widjasena, Baju. (2017). Hubungan Antara Beban Kerja Mental Dengan Stress Kerja Dosen Di Suatu Fakultas. Jurnal Kesehatan Masyarakat (e-journal), Volume 5, Nomor 3, Juli 2017 (ISSN: 2356-3346) , 260-268.
Rosadi, R. A. (2017). Pengaruh Gender, Tekanan Ketaatan, Tekanan Anggaran Waktu Dan Pengalaman Audit Terhadap Audit Judgment. Jurnal Nominal, Vol VI, No 1 , 124 – 135.
Sarnoto, A. Z. (2016). Psikosomatis Dan Pendekatan Psikologi Berbasis Al-Qur’an. Statement, Vol. 6, No.2, 111-117.
Susanti. (2017). Tingkat Stress Dan Ketidakstabilan Tekanan Darah Pada Penderita Hipertensi Dewasa Muda. Adi Husada Nursing Journal, Vol.3, No.2, 81-85.
Tazkiyah, Kiki Izzah. & Yanti. (2014). Pengaruh Teknik Massage Terhadap Pengurangan Nyeri Persalinan Kala I Fase Aktif. Jurnal Kebinanan, Vol VI, No. 1, 1-10.
Wardhana, M. (2011). Psikoneuroimunologi Di Bidang Dermatologi. MDVI, Vol. 38, No. 4 , 175 – 180.
Jurnal Internasional:
Essen, E. v. (2021). Young Adults’ Transition To A Plant-Based Diet As A Psychosomatic Process: A Psychoanalytically Informed Perspective. Elsevier, 1-10.
MacIntyre, Peter D., Gregersen, Tammy., Mercer, Sarah. (2020). Language Teachers’ Coping Strategies During The Covid-19 Conversion To Online Teaching: Correlations With Stress, Wellbeing And Negative Emotions. Elsevier, 1 – 13.
Settineri, Salvatore., Frisone, Fabio., Alibrandi, Angela., & Merlo, Emanuele Maria. (2019). Emotional Suppression And Oneiric Expression In Psychosomatic Disorders: Early Manifestations In Emerging Adulthood And Young Patients. Frontiers in Psychology, Vol. 10, 1-8.