Apa sih Influencer itu? Influencer merupakan seorang figur yang memiliki pengaruh (influence) sehingga dapat menjangkau massa serta dapat mempengaruhi decision-making orang banyak. Sedangkan, Marketing adalah teknik pemasaran. Kesimpulan nya, influencer marketing adalah teknik marketing di mana sebuah produk akan dipromosikan/direview oleh influencer sehingga, dapat menjangkau pasar yang lebih luas.
Entah seberapa sering bagi kita untuk membeli sesuatu baik yang dibutuhkan maupun tidak, sesaat setelah menonton review dari influencer baik melalui instagram maupun TikTok. Kita sudah tidak asing dengan istilah ” racun shopee ” atau ” racun tiktok ” setiap kali influencer memposting review nya terhadap suatu barang. Teknik marketing ini bisa mengendalikan minat pasar dan demand (permintaan) akan suatu barang hingga tak jarang menimbulkan kelangkaan karena produsen pun membutuhkan waktu untuk memproduksi barang dalam jumlah yang lebih banyak lagi.
Mengapa ‘influencer marketing’ sangat ampuh? Sederhana nya, influencer marketing memfasilitasi keinginan alami manusia untuk memiliki (belonging) dan kebutuhan kita untuk terus menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial (konformitas). Saat ini, influencer marketing memiliki image lebih otentik, lebih kredibel, dan lebih menarik daripada jenis pemasaran lainnya.
Berdasarkan referensi, beberapa fenomena psikologi dibawah ini ikut terlibat dalam suksesnya influencer marketing:
1. FoMO (Fear of Missing Out)
FoMO merupakan suatu keadaan dimana seseorang khawatir jika tidak mengalami hal yang sama dengan orang lain. Sederhana nya, individu yang mengalami FoMO tidak ingin ketinggalan suatu informasi, pengalaman, maupun trend sehingga, ia akan berusaha untuk terus terhubung. Fenomena ini tergambar pada individu yang terus mengikuti dan tidak ingin ketinggalan apapun produk yang sedang trend.
2. Berpengaruh dan Ahli
Influencer dapat memasarkan produk secara efektif karena mereka nampak kredibel atau terpercaya bagi konsumen. Saat mendengarkan rekomendasi, review, dan pendapat mereka tentang suatu produk, manusia secara alami berpikir mereka memiliki keahlian dalam produk tersebut untuk mendasari pendapat/review nya dan akhirnya, konsumen menerima review tersebut sebagai fakta.
3. Social proximity (kedekatan sosial)
Kedekatan sosial berarti kemungkinan untuk didekati serta memiliki kesamaan / relatedness. Hal ini karena jika dibandingkan dengan ‘artis’, influencer lebih dekat dan relate dengan masyarakat dan lebih mungkin ‘tergapai’ sehingga, tak jarang memandang influencer sebagai panutan. Misalnya, jika artis tidak mungkin menginjakan kaki nya untuk berbelanja di pasar, berbeda hal nya dengan influencer yang masih sangat mungkin melakukan hal itu dan hal keseharian biasanya. Ketika seorang influencer terlibat dengan tren terbaru, itu memvalidasi asumsi konsumen bahwa mereka “tahu” dan terpercaya. Mereka tampaknya memiliki informasi budaya pop baru sebelum orang lain.
4. Social proof
Social proof atau pembuktian sosial merupakan fenomena disaat orang menganggap sesuatu itu benar jika orang lain telah membuat asumsi yang sama terlebih dahulu. Misalnya, pakaian thrift dicap sebagai trend jika, banyak orang lain juga yang menganggap demikian (misal: memakai/membelinya).
Nah, sampai sini sudah paham ya mengapa kita sering terpikat oleh teknik marketing yang satu ini 🙂
Referensi:
https://getcarro.com/blog/the-psychology-of-influencer-marketing/
https://bitlabs.id/blog/apa-itu-influencer-marketing/
Kadekova, Zdenka & Holienčinová, Mária. (2018). Influencer marketing as a modern phenomenon creating a new frontier of virtual opportunities. Communication Today. 9. 90-104.