Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Accept Yourself Then Others Will: Mengenal Self Acceptance (penerimaan diri) lebih dalam

“The first step to accepting yourself is to STOP comparing yourself to others”
“Langkah pertama dalam menerima diri sendiri adalah dengan BERHENTI membandingkan dirimu dengan orang lain”

Bagaimana tanggapan kalian mengenai quotes di atas?
Sebelum melangkah lebih jauh, yuk kita kenali dulu apa sih sebenernya self acceptance itu!
Self-acceptance adalah suatu tingkat kemampuan dan keinginan individu untuk hidup dengan segala karakteristik dirinya. Individu dapat menerima dirinya diartikan sebagai individu yang tidak mempunyai masalah dengan diri sendiri, yang tidak memiliki beban perasaan terhadap diri sendiri sehingga individu lebih banyak memiliki kesempatan untuk beradaptasi dengan lingkungan (Hurlock, 1996).

Menurut Hurlock (2004) terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi konsep penerimaan diri seseorang yakni:
•Pengetahuan akan diri sendiri
•Permasalahan di lingkungan sekitar
•Sifat lingkungan
•Ada atau tidaknya gangguan secara emosional dari eksternal
•Perspektif mengenai dunia
•Pola asuh
•Kemampuan adaptasi
•Pencapaian hidup
•Kondisi ekonomi
•Dukungan sosial

Tahapan Dalam Penerimaan Diri
(Kubler,1998) menyatakan terdapat 5 tahapan dalam proses penerimaan diri yaitu:
1. Denial (Penolakan)
Kita akan mencoba untuk mengelak, menolak, menyangkal keadaan yang terjadi.
2.Anger (Kemarahan)
Kita mulai merasa frustasi akan kenyataan yg terjadi, berusaha mempertanyakan “kenapa sih aku”, “kenapa diantara semua orang harus saya yang mengalaminya.” Mungkin juga blaming atau menyalahkan orang lain “ah ini pasti gara-gara orang tuaku yang kaya gitu, “pasti gara-gara ini itu.”
3.Bargaining (Kompromi)
Mulai tawar-menawar atau kompromi, entah dengan diri sendiri, orang lain, atau dengan Tuhan. “Oke aku punya kekurangan ini tapi sepertinya aku tidak separah itu”, “tapi kata orang-orang sih aku emang begitu.” “ andaikan saja aku begini pasti begitu.” Pada tahap ini kita akan cenderung berandai-andai dan mulai kebingungan.
4.Depression (Depresi)
Pada tahap ini kita mulai merasa sedih, merasa kenyataan memang benar adanya tapi tidak sanggup berbuat apa-apa. Merasa putus asa, sedih, semua campur aduk.
5.Acceptance (Penerimaan)
Tahap terakhir dimana kita benar-benar bisa berdamai dengan kenyataan, menerima kita seutuhnya, mulai benar-benar sanggup menerima kenyataan yang terjadi.

(Cronbach, 1963) menyampaikan bahwa karakteristik individu yang dapat menerima diri adalah:
1.Memiliki keyakinan terhadap kapasitas diri untuk mengatasi lingkungan.
2.Menganggap dirinya sejajar dengan orang lain.
3.Menganggap diri sendiri wajar serta memiliki ekspektasi bahwa orang lain akan menerimanya dengan sepenuh hati.
4.Tidak malu atas kekurangan yang dimiliki dan memiliki kesadaran akan hal itu.
5.Bertanggung jawab atas setiap perilaku yang dilakukan.
6.Memiliki pendirian
7.Menerima kritik dan pujian objektif secara selektif
8.Menerima kelebihan dan kekurangan yang dimiliki
9.Tidak menyalahkan diri sendiri atau mengingkari perasaan-perasaan yang muncul.

Self Acceptance bukan tentang menyerah dengan keadaan, tapi tentang ikhlas. Ikhlas tidak sama dengan menyerah, ikhlas artinya menerima keadaan secara penuh, bahwa ada hal yang dapat kita ubah dan optimalkan, dan ada hal-hal yang perlu kita terima dengan lapang dada dengan dasar pemahaman bahwa tidak semua hal di dunia ini dapat kita kontrol. Dengan self acceptance atau ikhlas, kita tahu dan mau menerima kekurangan kita yang tidak bisa diubah, memperbaiki kekurangan yang masih bisa kita perbaiki, dan kelebihan yang bisa kita optimalkan untuk dapat mengaktualisasikan diri kita.

Kindfulness by Ajahn Brahm
Rekomendasi Buku Pengembangan Diri
Love for Imperfect Things By Haemin Sunim

Referensi:
PRASETYO, I. H. (2017). Penerimaan Diri Pada Wanita Involuntary Childless (Ketiadaan Anak Tanpa Kerelaan) (Doctoral dissertation, UNIVERSITAS AIRLANGGA).

Corr, C. A. (2020). Elisabeth Kübler-Ross and the “five stages” model in a sampling of recent American textbooks. OMEGA-Journal of Death and Dying, 82(2), 294-322.

Tentama, F. (2014). Hubungan positive thinking dengan self-acceptance pada difabel (bawaan lahir) di SLB Negeri 3 Yogyakarta. Jurnal Psikologi Integratif, 2(2).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *