Di artikel sebelumnya, saya sudah memberikan tips mengenai bagaimana agar dapat berpikir kritis.
https://dictio.id/tips-berpikir-kritis-sehari-hari/
Namun pada kenyataannya berpikir kritis tidak semudah yang kita bayangkan atau ucapkan, selalu ada saja hambatannya. Lalu, apa saja yang menghambat kita untuk dapat berpikir kritis dikehidupan sehari-hari?
- Terlalu Berkutat Pada Naluri
Menggunakan intuisi atau naluri adalah langkah terakhir yang dapat dilakukan jika apa yang ingin kita lakukan adalah berpikir kritis. Percaya pada naluri adalah sebuah konteks keraguan. Menggunakan intuisi artinya tidak melakukan analisis dan berpikir otomatis yang berarti kurang usaha, niat, kesadaran, dan kontrol— hal ini biasa dimaksud dengan persepsi atau perasaan. Mengikuti naluri —yang dialami sebagai persepsi atau perasaan— akan mengarahkan kita kepada perspektif yang konsisten (yang akan kita gunakan terus-menerus) dengan bias dan pengalaman pribadi.
Seperti yang tadi ditulis bahwa menggunakan intuisi adalah berpikir otomatis, maka adanya kesalahan dan bias menjadi sulit untuk dicegah. Hal ini disebut kesalahan logika dan bias kognitif. Bahkan jika kita tau bahwa akan ada kesalahan, hal ini hanya dapat dicegah melalui pemantauan dan kontrol yang hati-hati yang dilakukan saat kita memberikan pemikiran atau penilaian reflektif.
- Kurangnya Pengetahuan
Jika kita tidak mengetahui keterampilan dari berpikir kritis atau critical thinking (CT) yaitu analisis, evaluasi, dan inferensi (bagaimana menggunakan CT) maka hal ini akan jadi penghalang atau hambatan utama dalam berpikir kritis. Lalu, jika sudah mengetahui keterampilan-keterampilan tersebut, tanyakan pada diri “apakah kita sudah memiliki pengetahuan dibidang atau topik yang diharuskan kita berpikir kritis?” Jika jawabannya “tidak/belum”, maka kita harus menggunakan kejujuran mengenai ilmu pengetahuan dan penilaian reflektif. Mengapa? Hal tadi memungkinkan kita untuk mempertimbangkan sifat, batasan, dan kepastian mengenai pengetahuan yang kita miliki, sehingga kita dapat mengevaluasi apa yang diperlukan untuk memperoleh pengetahuan dalam membuat atau melakukan pemikiran yang kritis. Poin kurangnya pengetahuan ini mungkin tidak selalu mengenai kurangnya pengetahuan tentang topik, tapi lebih ke percaya bahwa pengetahuan yang dimiliki diperlukan untuk membuat penilaian secara kritis ketika kurangnya kemauan untuk mendapatkan topik tambahan yang relevan.
- Kurangnya Kemauan
Selain keterampilan, disposisi terhadap pemikiran juga merupakan kunci dari CT. Disposisi pemikiran mengacu pada sejauh mana individu bersedia atau cenderung untuk melakukan keterampilan berpikir yang diberikan dan penting untuk memahami bagaimana kita berpikir dan bagaimana kita daapat membuat pemikiran kita lebih baik saat dalam setting akademik maupun keadaan sehari-hari. Disposisi tidak dapat dipelajari, tapi disposisi memmiliki peran besar apakah CT akan dilakukan atau tidak. Tidak peduli seberapa terampil seseorang dalam analisis, evaluasi, dan inferensi—jika mereka tidak mau berpikir kritis, CT tidak mungkin terjadi.
- Kesalahpahaman tentang Kebenaran
Pencarian tentang kebenaran adalah salah satu kecendrungan berpikir yang mengacu pada keinginan akan pengetahuan, mencari dan mengajukan opini dalam upaya memberi informasi dan mendapat informasi yang baik, kesediaan utnuk mengajukan pertanyaan tentang diri maupun orang lain, jujur dan objektif, bahkan jika temuan tidak mendukung kepentingan pribadi atau keyakinan atau pendapat yang terbentuk sebelumnya; dan untuk mengubah pikiran seseorang tentang sebuah ide sebagai akibat dari keinginan akan kebenaran. Meskipun hal ini adalah sesuatu yang kita banyak perjuangkan atau lakukan, kenyataannya kita mudah menyerah pada asumsi yang tidak beralasan; kepercayaan yang dianggap benar tanpa pembenaran yang memadai. Misalkan, kita membuat penilaian berdasarkan steretip yang tidak berdasar akal sehat ataupun kepercataan yang tidak memiliki bukti empiris untuk membenarkannya. Saat menggunakan CT, penting bagi kita untuk membedakan fakta dan keyakinan, dan menggali fakta lebih dalam dengan mengevaluasinya (re: fakta) dengan lata belakang empiris untuk memvalidasinya sebagai fakta.
- Pikiran yang Tertutup
Pada artikel sebelumnya, dijelaskan mengenai Play Devil’s Advocate yang mengacu pada “pertimbangan alternatif”. Pada saat yang berlawanan, pikiran tertutup adalah penghalang yang signifikan untuk CT. Pada tahap ini, Anda mungkin telah mengidentifikasi sifat bias yang melekat dalam pemikiran kita. Langkah pertama CT akan selalu mengevaluasi bias ini. Namun, bias seseorang mungkin begitu kuat sehingga membuat mereka menjadi berpikiran tertutup dan membuat mereka tidak mau mempertimbangkan perspektif lain. Pemikiran tertutup lainnya melalui penelitian yang benar dan pemikiran kritis tentang suatu topik dan kemudian memutuskan bahwa perspektif ini tidak akan pernah berubah, seolah-olah pengetahuan mereka tidak akan pernah perlu beradaptasi.
Referensi :
https://www.psychologytoday.com/intl/blog/thoughts-thinking/201901/5-barriers-critical-thinking