Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Forgiveness : Upaya Berdamai dan Bertindak Positif

Menurut Thompson dan Synder (2002), Forgiveness atau yang kita kenal sebagai pemaafan adalah cara individu untuk menyatukan kesalahan daan merubah kesalahan tersebut menjadi netral atau positif yang tadinya negatif. McCullough mendefinisikan forgiveness sebagai keinginan untuk menghindari individu atau sesuatu yang pernah menyakiti dan berkurangnya keinginan untuk melukai atau membalas dendam dan disertai peningkatan rasa belas kasihan (compassion) dan keinginan untuk bertindak secara positif ke arah orang yang menyakiti; Forgiveness merupakan sikap seseorang yang telah disakiti untuk tidak melakukan perbuatan balas dendam terhadap pelaku, tidak adanya keinginan untuk menjauhi pelaku, sebaliknya adanya keinginan untuk berdamai dan berbuat baik terhadap pelaku, walaupun pelaku telah melakukan perilaku yang menyakitkan. Enright (dalam McCullough dkk., 2003) mendefinisikan forgiveness sebagai sikap untuk mengatasi hal-hal yang negatif dan penghakiman terhadap orang yang bersalah dengan tidak menyangkal rasa sakit itu sendiri tetapi dengan rasa kasihan, iba dan cinta kepada pihak yang menyakiti.

Apa saja aspek forgiveness?

Mc Cullough (2000), McCullough dkk (1998) membagi forgiveness menjadi beberapa aspek, yaitu:

  • Avoidance Motivations

Avoidance Motivations atau motivasi-motivasi menghindar, individu yang sudah melakukan pemaafan cenderung mengalami penurunan motivasi untuk menghindari kontak dengan pelaku, baik itu secara kontak fisik maupun psikologis. Korban akan menepis keinginan untuk menjaga jarak dengan hal-hal yang menyakitinya. Oleh sebab itu, korban tidak lagi menghindar ataupun menjauhi pelaku dan akan terus menjaga hubungan yang baik dengan pelaku.

  • Revenge Motivations

Selain tidak akan menghindari pelaku, individu yang telah melakukan pemaafan juga akan mengalami penurunan motivasi dalam membalas dendam atau mencoba untuk melihat hal-hal berbahaya yang dapat terjadi pada pelaku. Individu yang telah melakukan pemaafan artinya sudah membuang keinginan untuk membalas perbuatan yang telah terjadi kepadanya. Individu tersebut akan meminimalisir atau bahkan menghilangkan rasa marah untuk membalas dendam terhadap hal-hal yang menyakitinya.

  • Beneviolence Motivations

Adapun motivasi yang terakhir adalah motivasi yang berhubungan dengan berbuat baik kepada pelaku. Individu yang telah melakukan pemaafan cenderung akan meningkatkan motivasi untuk berbuat baik 25 kepada pelaku. Walaupun individu masih merasa bahwa ia adaah korban, tetapi individu senantiasa berbuat baik kepada pelaku. Oleh sebab itu, ia akan terus menjaga hubungan agar tetap berjalan baik dengan pelaku.

 

Apa saja faktor yang mempengaruhi forgiveness?

Menurut Worthington (1999), faktor-faktor yang mempengaruhi individu melakukan forgiveness adalah :

  • Kecerdasan Emosi

Kemampuan untuk memahami keadaan emosi diri sendiri dan orang lain. Mampu mengontrol emosi, memanfaatkan emosi dalam membuat keputusan, perencanaan dan memberikan motivasi.

  • Respon Pelaku

Dimana respon pelaku meminta maaf dengan tulus atau menunjukan penyesalan yang dalam. Permintaan maaf yang tulus akan berkorelasi positif dengan forgiveness.

  • Munculnya Empati

Empati adalah kemampuan untuk mengerti dan merasakan pengalaman orang lain tanpa mengalami situasinya. Empati menengahi hubungan antara permintaan maaf dengan forgiveness. Munculnya empati ketika si pelaku meminta maaf sehingga mendorong korban untuk memaafkannya.

  • Kualitas Hubungan

Forgiveness paling mungkin terjadi pada hubungan yang dicirikan oleh kedekatan, komitmen dan kepuasan. Forgiveness juga berhubungan positif dengan seberapa penting hubungan tersebut antara pelaku dan korban

  • Rumination (Merenung dan Mengingat)

Semakin sering individu merenung dan mengingat-ngingat tentang peristiwa dan emosi yang dirasakan akan semakin sulit forgiveness terjadi. Rumination dan usaha menekan dihubungkan dengan motivasi penghindaran (avoidance) dan membalas dendam (revenge).

  • Komitmen Agama

Pemeluk agama yang komitmen dengan ajarannya akan memiliki nilai tinggi pada forgiveness dan nilai rendah pada unforgiveness

  • Faktor Personal

Sifat pemarah, pencemas, introvert dan kecenderungan merasa malu merupakan faktor penghambat munculnya forgiveness. Sebaliknya sifat pemaaf, extrovert merupakan faktor pemicu terjadinya forgiveness.

 

Apakah terdapat fase dalam pemaafan?

Enright (2001) mengungkapkan, bahwa forgiveness merupakan sesuatu yang penting tapi juga merupakan hal yang sulit untuk dilakukan, bahkan terkadang sangat menyakitkan bagi seseorang. Enright (2001) juga mengungkapkan adanya empat fase untuk memberikan maaf, secara singkat yaitu:

1. Fase pengungkapan (uncovering phase), yaitu ketika seseorang merasa sakit hati dan dendam.

2. Fase keputusan (decision phase), yaitu orang itu mulai berfikir rasional dan memikirkan kemungkinan untuk memaafkan. Pada fase ini individu belum memberikan maaf sepenuhnya.

3. Fase tindakan (work phase), yaitu adanya tindakan secara aktif memberikan maaf kepada orang yang bersalah.

4. Fase pendalaman (deepening phase), yaitu internalisasi kebermaknaan dari proses memaafkan. Pada fase inilah individu memahami bahwa dengan memaafkan maka dirinya akan memberi manfaat untuk dirinya, orang lain, dan lingkungan.

 

 

Referensi :

A’yun, Q. (2018). Hubungan Kualitas Persahabatan Dengan Forgiveness pada Mahasiswa Fakultas Psikologi di Universitas Medan Area.

Septarianda, E. (2020). Hubungan Forgiveness dengan Subjective Well-Being pada Remaja di Panti Asuhan (Doctoral dissertation, UIN Raden Intan Lampung).

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *