Kehilangan di masa pandemi COVID dapat dijabarkan sebagai kehilangan orang yang dicintai, kehilangan rasa persahabatan, kehilangan peran keluarga, kehilangan hubungan, kehilangan rekreasi dan dukungan sosial, adanya keterasingan, serta kerugian finansial atau kehilangan pekerjaan, dan lainnya. Kehilangan ini menyebabkan kerugian berganda, yaitu kerugian primer (contoh : sesak napas ketika tertular COVID) dan sekunder (contoh : kehilangan atau kurangnya kemampuan dalam beraktivitas karena sesak), merugikan kesehatan mental dan fisik, yang menempatkan individu dalam bahaya berkabung/berduka (grief) yang berlebihan.
Loss adalah suatu situasi aktual maupun potensial yang dapat dialami individu ketika berpisah dengan sesuatu yang sebelumnya ada, baik sebagian atau keseluruhan, atau terjadi perubahan dalam hidup sehingga terjadi perasaan kehilangan (Hidayat, 2012). Loss adalah sebuah perasaan pada diri individu yang diakibatkan dari peristiwa menjadi tidak adanya suatu hal baik orang atau apapun yang sebelumnya ada.
Kehilangan akibat kematian merupakan kehilangan yang paling berat dan sulit diterima, seperti yang diungkapkan oleh Suntrock (2004) kehilangan dapat datang dalam kehidupan dengan berbagai bentuknya seperti perceraian, kehilangan pekerjaan, matinya binatang peliharaan, tetapi tidak ada kehilangan yang lebih besar selain kematian seseorang yang dicintai dan disayangi seperti orang tua, saudara kandung, pasangan hidup, sanak saudara atau teman.
Kesedihan tidak dapat dihindari dan bersifat multidimensi bagi individu yang mengalami kehilangan. Proses berduka mencerminkan pusat respons yang unik (yaitu penyesuaian afektif, kognitif, perilaku, fisik, spiritual). Dalam Hidayat (2012), grieving (berduka) adalah reaksi emosional dari kehilangan dan terjadi bersamaan dengan kehilangan baik karena perpisahan, perceraian maupun kematian. Sedangkan istilah bereavement adalah keadaan berduka yang ditunjukan selama individu melewati rekasi atau masa berkabung (mourning).
Lonjakan kematian di masa pandemi COVID akhirnya ‘memaksa’ keluarga yang terdampak ataupun tenaga kesehatan untuk mengalami antisipasi kesedihan. Mereka mengalami kesedihan antisipatif sebagai beban emosional dan sulit secara psikologis, tetapi waktu untuk berkabung tidak lama (artinya, tidak berduka secara berlarut). Meskipun kesedihan setelah kematian adalah respons manusia yang normal yang seharusnya tidak dianggap sebagai gangguan psikiatri, namun terdapat Gangguan Kesedihan Berkepanjangan atau Prolonged Grief Disorder (PGD) sebagai kondisi terkait stres yang dapat dibedakan dari adanya depresi, kecemasan, dan trauma. Keadaan yang melemahkan, berlarut-larut, dan menyedihkan terhadap kehilangan ini, membuat individu yang ditinggalkan berjuang dengan emosi kerinduan, rasa bersalah, kesepian, dan kesedihan yang bergejolak yang mengganggu kemampuan mereka untuk berfungsi dalam konteks keluarga, pekerjaan, dan dunia sosial untuk jangka waktu bulan bahkan tahun.
Individu yang ditinggalkan juga dapat merasakan atau mengalami gangguan kesehatan yang berhubungan dengan stres, seperti masalah jantung, kecanduan, disfungsi sistem kekebalan/imun, gangguan kualitas hidup, bahkan bunuh diri (Maercker, Neimeyer, & Simiola, 2016). Konteks kematian COVID menghadirkan badai yang sangat memperburuk kemungkinan kesedihan/berduka yang berkepanjangan dan masalah yang rumit.
Teori Sander (1998) menjelaskan tentang tahapan grief terdiri atas 5 tahap yaitu
- Shock : individu merasa tidak percaya, kebingungan, gelisah, rasa tidak berdaya, serta mengambil jarak psikologis dari diri sendiri;
- Awareness of loss : individu mengalami konfliks emosional, stres yang berkepanjangan, sensitif yang berlebihan, kecemasan akan perpisahan, adanya rasa marah serta rasa bersalah. Tahap ini juga subyek mengalami disorganisasi emosional yang intens;
- Conservation / Withdrawal : individu menarik diri, sistem imun melemah, lelah, hibernasi;
- Healing : pada tahap ini individu mulai mengambil kendali, mengakhiri peran yang lama, membentuk identitas baru, memaafkan dan melupakan, mencari makna serta menutup lingkaran peristiwa yang terjadi;
- Renewal ; pada tahap ini individu mulai membangun kesadaran diri yang baru , belajar menerima tanggung jawab, belajar untuk hidup tanpa kehadiran orang yang telah tiada, berfokus pada kebutuhan dalam diri dan memperhatikan hal-hal diluar diri.
Referensi :
Menzies, R. E., Neimeyer, R. A., & Menzies, R. G. (2020). Death Anxiety, Loss, and Grief in the Time of COVID-19. Behaviour Change, 37(3), 111–115. doi:10.1017/bec.2020.10
Sari, Hermina. (2017). PENGARUH TERAPI DZIKIR TERHADAP PENURUNAN TINGKAT GRIEF IBU PASCA PERINATALLOSS. Tesis thesis, Universitas Mercu Buana Yogyakarta.
Sari, R. A. (2015). Pengalaman Kehilangan dan Berduka.40-43
Zhai, Y., & Du, X. (2020). Loss and grief amidst COVID-19: A path to adaptation and resilience. Brain, behavior, and immunity, 87, 80-81.