Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Pacaran : Fungsi, Stres dalam bepacaran, dan Tips mengurangi stres dalam berpacaran

Apakah kamu memiliki pasangan dan menjalin hubungan berpacaran dengannya? Apa kamu sudah mengetahui apa saja fungsi pacaran yang dijelaskan oleh tokoh? Jika belum, mari kita bahas. Santrock (2003) dalam bukunya Adolescene 13th edition, menjelaskan mengenai delapan fungsi berpacaran yaitu:

  1. Pacaran dapat sebagai sarana rekreasi, maksudnya disini, biasanya seseorang yang berpacaran akan bersenang senang.
  2. Dating merupakan salah satu sumber akan status dan pencapaian yang dimiliki oleh individu.
  3. Pacaran merupakan salah satu bagian dari proses bersosialisasi dengan orang
  4. Pacaran berkaitan dengan adanya unsur intimacy.
  5. Pacaran dapat dijadikan sebagai konteks untuk pengalaman seksual
  6. Interaksi dan berbagai kegiatan atau cerita
  7. Identifikasi informasi dan pengembangan diri
  8. Pacaran juga dapat dijadikan sebagai ‘ajang’ untuk menyortir dan seleksi individu.

Namun tentunya dalam berhubungan atau berpacaran tidak selalu berjalan mulus, ada saja pertengkaran ataupun hal lain yang dapat membuat sedih, marah, frustasi, bahkan stres. Stres dalam berpacaran? Berpacarankan tujuannya untuk senang-senang dan memberi-menerima cinta, bagaimana bisa berpacaran malah menimbulkan stres bagi pasangan?

Dijelaskan menurut Baron (1994), ada 4 sumber masalah utama atau konflik dalam hubungan pacaran yang dapat memicu terjadinya stres pada diri individu yang bersangkutan. Pertama, masalah kepribadian, yaitu masalah-masalah yang timbul dari karakter kepribadian masingmasing pasangan yang menjalani hubungan pacaran tersebut. Dari karakteristik kepribadian itu muncul tingkah laku yang dapat menyebabkan pasangannya menjadi marah dan terganggu. Konflik yang timbul dari masalah kepribadian ini, misalnya karena watak yang tidak menyenangkan, karakteristik pemarah/ emosi yang tidak stabil, sikap egois/ kurang pengertian (Buss dikutip oleh Baron, 1994), perilaku tidak bisa dipercaya, dan suka berbohong kepada pasangan (Buss dikutip oleh Sarwono, 1996).

Kedua, adanya perbedaan. Konflik yang timbul dari masalah adanya perbedaan ini antara lain: perbedaan atau ketidaksamaan yang terungkap dalam sikap, kebiasaan, nilai hidup, perbedaan agama/keyakinan (Byrne & Murnen dikutip oleh Baron, 1994); perbedaan kultural (adat istiadat budaya, suku), status sosial- ekonomi, usia, tingkat pendidikan, tingkat inteligensi (Hill, Rubin & Peplau dikutip oleh Deaux & Wrightsman, 1988).

Ketiga, perasaan bosan (boredom). Untuk sebagian orang, suatu hubungan jangka panjang dapat menjadi sumber stres karena hubungan tersebut menjemukan. Beberapa pasangan mudah putus karena mereka menjadi bosan satu sama lain (Hill, Rubin, Peplau, dikutip oleh Baron, 1994; Sarwono, 1996).

Keempat, perasaan cemburu (jealousy). Konflik yang terjadi akibat perasaan cemburu dapat disebabkan antara lain: perasaan cemburu karena pasangannya tertarik kepada seseorang yang baru (White & Mullen, dikutip oleh Baron, 1994); perasaan cemburu karena tidak percaya pada apa yang dilakukan oleh masing-masing pasangan (Johnson & Rusbult, dikutip oleh Baron, 1994). Emosi negatif yang timbul karena perasaan cemburu antara lain: curiga, penolakan, permusuhan dan marah (Smith, Kim & Parrott, dikutip oleh Baron, 1994).

 

Lalu bagaimana agar tidak stres dalam berpacaran? Dikutip dari psychologytoday, berikut beberapa tips agar tidak stres dalam berpacaran/berhubungan terutama dalam masa pandemi saat ini :

  • Mengakui apa yang terjadi

Saat pandemi seperti ini, ketidakpastian, kontrol yang berkurang dan ketakutan terjadi, sehingga dapat mengingkatkan emosi negatif atau stres. Akui bahwa kamu dan pasangan sedang menghadapi situasi yang tidak biasa dan semua orang merasakannya. Hal ini akan mengurangi ketidaksepakatan dan kebencian terhadap pasangan.

  • Be Mindful

Ingat bahwa pikiran dan perasaanmu akan mendorong bagaimana kamu berperilaku. Jika merasa kesal dan berpikir “pacarku nyebelin”, maka kamu bisa saja memperlakukan pasanganmu dengan ‘nyebelin’ juga. Tidak salah jika kamu merasa kesal bahkan memikirkan hal yang tidak menyenangkan terhadap pasangan, namun jika perilakumu menyakitkan dan membuat pasanganmu menjauh, hal itu hanya akan membahayakan hubunganmu. Sadari pikiran dan perasaanmu, dan biarkan mereka untuk ‘lewat’ tanpa harus kamu bertindak sesuai pikiran dan perasaan tersebut.

  • Kasih sayang terhadap diri sendiri dan pasangan

Hindari menilai perasaan dan pikiran, cukup akui dan peduli terhadap hal-hal tersebut. Ingat juga bahwa pasanganmu mungkin stres, takut, dan cemas selama pandemi ini. Maka peka dan berempatilah terhadap kekhawatiran dan kesulitan ini. Bersikap lembut dan baik terhadap diri serta pasangan dengan suasana hati yang menyenangkan.

  • Luangkan waktu untuk diri sendiri

Manusia berkembang dalam hubungan yang positif. Namun, untuk menjaga hubungan yang sehat dan rasa identitas diri, meluangkan waktu untuk diri sendiri itu penting. Kembangkan pemahaman dengan pasangan Anda bahwa menyendiri dapat diterima dan cara yang sehat untuk mempertahankan rasa diri, menghargai rasa rindu dan jarak, serta tidak menyebabkan jarak emosional.

  • Ciptakan keceriaan

Jika setiap hari mulai terasa ketegangan meningkat dalam hubungamu, cobalah bumbui dengan keceriaan dan kesenangan ke dalam rutinitas sehari-hari. Berbagi pengalaman baru dan keceriaan membawa pasangan lebih dekat dan mengurangi stres dalam hubungan. Kegembiraan bisa sesederhana rutinitas pagi yang mencakup sapaan konyol atau serumit mempelajari keterampilan baru bersama. Apa pun itu, coba masukkan ini ke dalam hubunganmu.

  • Maafkan dengan bebas

Ketidaksepakatan ataupun konflik tidak dapat dihindari bagi pasangan yang hidup dalam kondisi stres. Bahkan di masa pandemi, konflik dalam berpasangan meningkat. Untuk terlepas dari konflik ini, maafkan pasangan dengan cepat dan mudah serta melangkah maju, selama tidak ada kekerasan emosional maupun fisik.

 

Referensi :

https://www.psychologytoday.com/intl/blog/in-the-mile/202010/9-tips-navigating-relationship-stress-during-covid

Karimah, Khairatunnisa Akhlaqul. (2013). Gambaran Coping Stress Pada Wanita Dewasa Awal Sebagai Korban Perselingkuhan Saat Berpacaran. Skripsi.  

Syafitri, A. (2018). Sumber Stres dan Perilaku Coping Individu Dewasa Muda dalam Hubungan Pacaran. Jurnal Sains Psikologi, 1(2).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *