Dalam menjalani aktivitas yang serba terbatas di masa pandemi, tentunya sebagai manusia, kita selalu ingin terhubung dengan orang lain agar tidak stress selama diam di rumah. Sebagian besar orang mengandalkan internet dan media sosial untuk menunjang aktivitas sehari-harinya selama masa pandemi. Namun, peningkatan penggunaan media sosial ini, membuat beberapa individu menjadi ‘candu’ terhadap media sosial dan selalu berusaha agar tidak tertinggal dengan apa yang terjadi di media sosial. Hal ini disebut dengan Fear of Missing Out.
Istilah FOMO pada saat ini, merujuk pada ketakutan akan ketertinggalan sesuatu di media sosial, seperti informasi yang sedang ramai diperbincangkan, trends, dan lain-lain. Mereka yang mengalami FOMO cenderung merasa khawatir dan cemas bila tidak membuka media sosial dalam beberapa lama.
Lalu, apa yang menyebabkan seseorang mengalami FOMO?
Grolnick, dkk. (1997) mengungkapkan bahwa seseorang dapat mengalami FOMO karena tidak terpenuhinya tiga kebutuhan, yaitu:
1. Kebutuhan untuk berkompetensi, atau meningkatkan potensi dan kemampuan diri. Ia hanya memikirkan apa yang terjadi di media sosial
2. Kebutuhan untuk berhubungan dengan orang lain. FOMO menyebabkan seseorang hanya terpaku pada media sosial dan mengurangi interaksi dengan orang lain secara langsung.
3. Kebutuhan untuk hidup sesuai keinginan sendiri. Orang yang mengalami FOMO cenderung sulit untuk hidup dengan prinsip yang dijalani.
Apa yang harus dilakukan agar tidak mengalami FOMO terutama dalam masa pandemi?
1. Cobalah berkumpul dengan keluarga, selain mengurangi aktivitas di media sosial, hal ini dapat meningkatkan kehangatan dalam keluarga.
2. Cari aktivitas yang dapat menghabiskan waktumu, seperti memasak, menjahit, menulis novel, berolahraga, dan lain-lain.
3. Kurangi jumlah media sosial yang kamu miliki. Semakin berkurang jumlah akun media sosial, semakin berkurang pula aktivitasmu di media sosial.
Referensi:
Elhai, J. D., Yang, H., Montag, C. (2021). Fear of missing out (FOMO): overview, theoretical underpinnings, and literature review on relations with severity of negative affectivity and problematic technology use. Brazilian Journal of Psychiatry, 43(2), 203-209. http://dx.doi.org/10.1590/1516-4446-2020-0870.
Grolnick, W. S., Deci, E. L., & Ryan, R. M. (1997). Internalization within the family: The self-determination theory perspective. Parenting and children’s internalization of values: A handbook of contemporary theory, 135-161.