Platform Lifelong Learning Indonesia
Digital Intelligence Campus
for Talent, Innovation and Outcomes
Smart Community, Smart Society

Krisis identitas pada remaja

Perkembangan identitas diri pada
remaja sangatlah penting, karena masa remaja adalah masa dimana remaja sedang dalam masa pencarian identitas dirinya. Para remaja diharapkan mampu membuat pilihan yang tepat tentang berbagai pilihan yang menyangkut dirinya dan orang lain.
Tampaknya remaja semakin sering
memikirkan pertanyaan tentang “siapakah saya sebenarnya?”, “apa yang sebenarnya saya inginkan dalam hidup?”, “kemanakah
saya akan pergi?”, “Saya mau kemana?” “Apakah kesuksesan itu?” dan berbagai pertanyaan lain yang membuka kesadaran
yang lebih luas tentang dirinya. (Alarid, 2010; Baumeister, 1998; Diclemente,2009).

Menurut Erikson seseorang yang
sedang mencari identitas akan berusaha “menjadi seseorang”, yang berarti berusaha mengalami diri sendiri sebagai “AKU” yang bersifat sentral, mandiri, unik, yang
mempunyai suatu kesadaran akan kesatuan batinnya, sekaligus juga berarti menjadi “seseorang” yang diterima dan diakui oleh
orang banyak. Lebih jauh dijelaskan bahwa orang yang sedang mencari identitas adalah
orang yang ingin menentukan “siapakah” atau “apakah” yang diinginkannya pada masa mendatang. Bila mereka telah
memperoleh identitas, maka ia akan menyadari ciri-ciri khas kepribadiannya, seperti kesukaan atau ketidaksukaannya, aspirasi, tujuan masa depan yang diantisipasi, perasaan bahwa ia dapat dan harus mengatur orientasi hidupnya.

Krisis Identitas terjadi karena
adanya perubahan fisik, emosional,
kognitif, dan social. Jika remaja tidak dapat memenuhi harapan dorongan diri pribadi dan social yang membantu mereka mendefinisikan tentang diri, maka remaja ini dapat mengalami kebingungan idntitas. Kebimbangan tersebut bisa menyebabkan dua hal: penarikan diri individu, mengisolasi dirinya dari teman sebaya dan keluarga, atau meleburkan diri dengan dunia teman sebayanya dan kehilangan identitas dirinya. Krisis identitas yang berkepanjangan selama masa remaja, akan menyebabkan remaja menjadi kehilangan arah, bagaikan kapal yang kehilangan kompas. Dampaknya, mereka kemungkinan mengembangkan perilaku menyimpang (delinquent), melakukan kriminalitas, atau menutup diri (mengisolasi diri) dari
masyarakat sehingga krisis identitas remaja juga sering diasosiasikan dengan penyebab
perilaku menyimpang remaja dan
cenderung melakukan tindakan-tindakan destruktif, yang rentan dengan kenakalan remaja.

 

Referensi:

Alarid, L. F & Vega, O. L. (2010). Identity Construction, Self Perceptions, and Criminal Behavior of Incarcerated Women. Deviant Behavior. 31. 704-728.

Santrock, J.W. (2003). Adolescence:
Perkembangan Remaja. (Alih Bahasa: Shinto B. Adelar dan Sherly
Saragih). Jakarta: Erlangga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *